Chapter 34: Heart

80.9K 2.1K 301
                                        


☆☆☆

Meskipun matanya yang indah masih menatap bibirku dengan pandangan lembut, dia meminta maaf dengan tulus disertai senyuman tipis. Tangan besarnya yang masih menggenggam tanganku hanya mengusapnya perlahan, seolah menenangkan. Sementara tangan satunya yang tadi menyentuh pipiku, perlahan menjauh sebelum dia mendekatkan wajahnya lagi dan mencium pipiku dengan lembut.

Aku tetap terdiam, terpaku pada semua yang baru saja terjadi.

Ciuman pertamaku.

Walaupun jantungku berdetak kencang, terasa hangat sekaligus menggelora di dada hingga membuatku lemah, aku tetap tidak tahu harus bagaimana. Kehangatan itu masih ada, begitu juga dengan sentuhannya yang seolah terpatri dalam perasaan. Perlahan, aku merapatkan bibirku, mencoba meyakinkan diri tentang ciuman pertama yang terjadi tanpa peringatan. Begitu manis, begitu lembut, hingga aku hampir meleleh.

Meski terasa aneh...

Tapi... Aku tidak menyesal.

Karena itu dia.

"Marah?"

"Tidak."

Aku menjawab dengan suara selembut mungkin. Dia kembali mendekatkan wajahnya, membuatku segera mundur ke belakang, mencari jarak sejauh mungkin darinya. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa mengendalikan kegugupanku. Semua di kepalaku berputar. Aku bahkan tidak mampu menghentikan panas yang menjalari wajahku. Nafasku pun tersengal karena jantungku berdetak terlalu kencang. Kedua tanganku gemetar ringan tanpa bisa kukendalikan, dan kehangatan itu kini menjalar di seluruh dadaku.

"Baru kali ini aku melihatmu sampai kehilangan kendali seperti ini."

Dia tersenyum puas. Gerakan lidahnya yang membasahi bibir sendiri membuat jantungku semakin tak terkendali.

"Jangan... jangan lakukan itu lagi." Suaraku pelan, hampir tidak terdengar. Aku segera menghindari pandangannya dan mengalihkan mata ke arah lain. Berusaha menarik tanganku yang masih digenggam olehnya. Kali ini, dia melepaskannya tanpa perlawanan.

"Itu sulit. Aku tidak janji."

"Kurangi nilai."

"Yang itu aku rela dipotong."

"Menyebalkan sekali."

"Ya aku tahu, memang aku orang yang memyebalkan," katanya dengan nada santai. Itu membuatku secara refleks mengerucutkan bibir, tanpa sadar menunjukkan ekspresi kesal. "Eh, kau cemberut? Baru pertama kali aku melihat robot cemberut."

"Aku tidak suka, jangan lakukan lagi."

"Mana bisa."

"..."

"Lalu, bagaimana cara membuatku agar kau tidak kesal?"

"Aku tidak kesal."

"Hah?"

"Tapi aku tidak suka."

"Kenapa? Apa ciumanku sangat buruk?" Dia bertanya dengan nada serius, dan keheningan pun menyelimuti kami karena aku tidak memberikan jawaban. "Kalau begitu, bolehkah aku memperbaikinya sekarang?"

Aku menggeleng.

"Apa maksudnya? Tidak mau memberiku kesempatan?"

"Bukan begitu. Tapi aku..."

"Kalau begitu, biarkan aku bertanggung jawab. Jadilah pacarku."

"Tidak mau."

"Kenapa? Kita sudah ciuman, dan tidak ada Phi Nong yang saling mencium. Tidak ada!" Dia berkata begitu. Aku menghela napas panjang. Ya, seperti yang dia bilang, tidak ada Phi Nong yang mencium satu sama lain. Tapi masalahnya, aku tidak melakukannya dengan sepenuh hati.

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang