Di tengah cahaya redup di dalam pesawat, orang di sampingku tertidur lelap. Aku melirik gambar di buku sketsa anak ini yang ada di tangannya. Aku meminjam untuk melihatnya karena gambarnya terlihat sangat bagus.
Hampir tidak ada halaman kosong di buku itu dan setiap halaman yang dia gambar hampir tidak menyisakan ruang putih di kertasnya.
Aku membolak-balik halaman, dengan pikiran yang terus mengingat sesuatu. Kenangan mulai kembali. Sebelumnya, aku tidak berpikir apa-apa, tetapi ketika melihatnya duduk dengan fokus pada menggambar dengan pensil di buku ini, tiba-tiba ada bayangan yang muncul dan aku hampir tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ibu juga suka menggambar seperti ini.
Menggambar mungkin adalah sesuatu yang disukai banyak orang, termasuk ibuku.
Ibu sering membawa buku sketsa kecil dan pensil kemana-mana. Jika bosan dan tidak ada yang bisa dilakukan, dia akan mengambilnya dan mulai menggambar. Dia bilang hanya menggambar untuk bersenang-senang, tapi kelihatannya dia sangat serius.
Karena itu, ketika melihat seseorang sedang menggambar dan hasil gambarnya bagus, aku sering berhenti untuk melihat. Saat pertama kali melihat anak ini menggambar dengan cepat dan bagus, aku tertarik. Aku melihatnya saat menggambar dan memintanya untuk menggambar adegan-adegan dalam novel.
Setelah melihat semua gambar hingga halaman terakhir, aku menutup buku itu dan meletakkannya di pangkuan orang di sampingku untuk mengembalikannya. Tiba-tiba, lagu yang aku dengar dari satu sisi earphone berhenti. Aku tidak tahu kenapa, tapi mungkin karena baterainya habis, jadi aku mengambil ponselku dan menyambungkan earphone itu ke ponselku.
Aku memutar lagu dari playlist milikku. Setelah mendengarkan lagu dari playlistnya selama beberapa jam, sekarang giliran playlist milikku.
Tidak lama kemudian, orang yang tidur terbangun, mengerutkan kening sedikit dan menatapku.
"Kau tidak suka laguku?"
"Bukan begitu. Lagunya terlalu rock, aku tidak bisa tidur."
Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Ternyata baterainya memang habis. Dia lalu mengambil power bank untuk mengisi daya ponselnya dan berbaring lagi.
Aku mengganti lagu dengan genre lain yang bukan rock.
Seperti yang kukatakan, aku hanya mendengarkan lagu-lagu lama dan rock. Kali ini, aku memutar lagu lama dengan melodi yang tidak terlalu cepat. Aku melirik keluar jendela yang hanya terlihat hitam pekat, pikiranku dipenuhi berbagai hal. Dari sudut mataku, aku melihat sesuatu bergerak, jadi aku menoleh.
Orang yang sedang memejamkan mata itu, satu tangannya bergerak mengikuti irama lagu.
"Kau sedang apa?" Aku bertanya. Orang itu perlahan membuka mata dan melihat tangannya.
"Oh, maaf, aku lupa diri."
"Kau bisa main piano juga?"
"Hmm..."
"Benarkah?" Aku mengangkat alis terkejut, tidak menyangka dia bisa bermain piano.
"Kau bisa banyak hal ya." Aku berkata, dia jago menggambar dan bisa main piano juga. "Apa lagi yang bisa kau lakukan?"
"...Pertanyaanmu terlalu luas."
"Kalau begitu, alat musik apa lagi yang bisa kau mainkan?"
"Gitar."
"Menyanyi?"
"Tidak, suaraku fals."
"Apa lagi?" Aku bergumam pada diri sendiri sambil berpikir. "Olahraga?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)