Chapter 9: Kram

70.1K 2.4K 526
                                        


ss: Rumah sakit tempat dia dirawat.

ss: Rumah keluarga, rumah liburan, tempat yang memiliki kenangan atau keterikatan emosional.

ss: Orang dekat, benda pribadi, atau hewan peliharaan.

ss: Makam.

☀️ : ??

ss: Mungkin lokasi tempat ibumu berada.

ss: Bukan hanya rumah.

ss: Bisa berupa tempat, orang, atau apa pun yang memiliki hubungan mendalam.

ss: Coba pikirkan lebih jauh.

☀️: Kenapa?

ss: Kalau dalam kondisi terburuk, mungkin arwahnya tersesat.

ss: Tapi sepertinya tidak.

ss: Kita sudah pernah melakukan ritual pemanggilan di gereja sebelumnya. Tapi aku yang mungkin mati.

☀️: Apa maksudmu?

☀️: Kau mau mati begitu saja?

ss: Tidak, sialan!

ss: Aku hanya bercanda.

ss: Begini...

ss: Aku sudah banyak membantu.

ss: Sangat melelahkan.

ss: Masih harus pergi ke banyak tempat lagi.

☀️: Lalu?

☀️: Mau berhenti? Jangan sampai kau mengatakannya.

☀️:Katakan saja apa yang kau butuhkan.

ss: Ada sesuatu yang ingin ku minta.

☀️: Apa itu?

ss: Nanti saja aku beri tahu.

☀️: Baiklah.

...

"North, aku benar-benar hanya bercanda," kataku lagi kepada orang di depanku. Maksud bercanda adalah soal sebelumnya, saat aku berkata akan menyewa orang untuk mencelakai seseorang. North tahu aku bercanda, tapi dia malah memunculkan ide aneh. Lagipula, aku sudah membantu si penjual rokok mencari ibunya, dan sampai sekarang dia belum memberikan balasan apapun padaku. Tapi kalau ditanya apa balasannya, aku sendiri tidak tahu mau meminta apa, karena aku tidak merasa butuh apapun darinya.

"Sudahlah, apa kau mau membantunya secara cuma-cuma?"

"Aku tidak masalah. Nanti aku bisa memintanya mentraktir makan atau kopi saja."

"Itu terlalu sedikit. Minta saja dia bantu menyelesaikan urusan soal mantanmu. Itu pasti lebih sepadan."

"Aku tahu kau tidak ingin ini sampai melukai siapapun. Tapi, siapa namanya?"

"Aku tidak mau mengatakannya."

"Kenapa? Aku bahkan tidak tahu siapa namanya."

"Kram."

"Apa?"

"Namanya Kram."

"Nama macam apa itu? Kan?"

"Kram, bukan Kam," kataku sambil menghela napas. "Bisakah kita tidak sering menyebut namanya?"

"Kalau begitu kita panggil saja Kam."

"...Baiklah."

"Tapi ngomong-ngomong, saat kalian pacaran, kalian pasti pasangan yang sangat tenang."

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Karma yang damai."

"..." Aku menatap lurus ke arah North sambil menghela napas dengan lelah. Tapi anehnya, North malah tertawa. Dia tertawa cukup lama sampai akhirnya berhenti. "Sudah selesai?"

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang