Aku membuka mata dengan susah payah karena pengaruh alkohol yang masih terasa di kepala. Ingatan terakhirku adalah saat Jo melemparku ke lantai tanpa belas kasihan. Melihat sekeliling, aku menyadari bahwa ini adalah kamar yang tidak terlalu kukenal. Udara di sini sangat dingin, bisa dibilang hampir membekukan. Terdengar suara sesuatu bergerak, aku menoleh dan melihat orang itu, si pendek, sedang tidur di ranjang tak jauh dari tempatku berada.
Oh, jadi karena aku kehilangan kartu kunci lagi, aku dilempar ke kamar si pendek ini, ya?
Hah... Hanya ada aku, dia, dan Min di lantai ini. Tapi Min sedang tidak ada, jadi aku tidak punya pilihan lain.
Sekitar ruangan masih gelap, menandakan hari belum pagi. Aku memaksakan diri bangun dari lantai dan pergi ke kamar mandi untuk menyelesaikan urusanku. Setelah selesai, aku keluar dan mendapati bahwa kamar ini memang benar-benar dingin. Si pendek ini katanya selalu kepanasan, tapi kenapa dia menyalakan AC sedingin ini? Kalau kamar ini harus sedingin ini, setidaknya berikan aku selimut. Jangan biarkan aku tidur menggigil di lantai.
Aku ingin tidur lagi di sofa, tapi dinginnya luar biasa. Tanpa selimut, tidak mungkin. Ranjangnya begitu luas, kenapa aku tidak tidur bersamanya saja?
Aku berjalan menuju ranjang dan duduk di sisi yang kosong, berusaha tidak membangunkan pemilik kamar. Kalau sampai dia bangun, pasti aku diusir ke lantai atau sofa. Tapi, meskipun dia mengusirku, aku tidak akan pergi. Pandanganku terarah pada si pendek yang sedang tidur meringkuk. Hei, kau sendiri juga kedinginan, kan? Kenapa tidak menambah selimut saja?
Aku merebahkan tubuh di ranjang, mencoba menarik selimut, tapi sulit sekali karena dia memeluknya erat. Butuh waktu lama hingga aku berhasil merebutnya. Anehnya, meskipun aku menarik selimut begitu lama, dia tetap tidak bangun. Ah, sudahlah. Aku mengambil kesempatan untuk tidur di ranjang dan mencuri selimut darinya. Kalau dia bangun, paling hanya mengomel dan menunjukkan wajah tidak puas. Dia bukan tipe orang yang suka berteriak-teriak.
Ini mungkin pertama kalinya aku tidur satu ranjang dengan orang lain. Setahuku, aku tidak pernah tidur seranjang dengan Direk atau ibuku sekalipun. Kalau berbagi ranjang dengan orang lain, biasanya hanya untuk urusan sesaat, lalu berpisah. Tidak pernah sampai bermalam bersama.
Ya, ini juga menjadi pengalaman pertama dalam banyak hal.
Cinta pertama juga.
Sial... Aku benar-benar melantur karena mabuk.
Kepalaku masih terasa berat, tapi aku tidak ingin tidur lagi. Entah kenapa. Tapi memandangi dia yang sedang tidur rasanya tidak buruk juga.
Sayangnya, dia tidur miring membelakangi aku. Namun jaraknya tidak terlalu jauh.
Tidak terlalu jauh hingga tanganku bisa mencapainya.
Beberapa saat kemudian, aku memperhatikan bahwa napasnya terlalu berat. Dia terengah-engah, membuatku curiga. Aku mengulurkan tangan dan menyentuhnya, tubuhnya panas sekali. Jadi, itu sebabnya dia memeluk selimut erat-erat. Dia sedang sakit. Dan aku malah merebut selimut dari orang yang sakit.
Aku bangun untuk menaikkan suhu AC agar kamar ini lebih hangat. Setelah itu, aku menyalakan lampu dan mencari obat penurun panas, tetapi tidak menemukan satu pun. Aku bertanya-tanya, kenapa dia yang tahu dirinya lemah tidak menyimpan obat di kamarnya? Kudengar dia sering sakit, kan?
Aku menatap dia yang terbaring di ranjang dengan wajah memerah hingga ke telinga. Tubuhnya terlihat kesakitan, memeluk diri sendiri erat-erat. Melihatnya seperti itu membuatku merasa tidak nyaman.
Mungkin dia sakit karena baru pulang dari luar negeri. Tapi apa pun penyebabnya, itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah apa yang harus kulakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)