Chapter 20: Broken

103K 2.9K 851
                                        


[Daotok POV]

"Baik-baik saja, kan?"

"Ya."

"Wajahmu pucat sekali."

"Memang wajahku selalu pucat seperti ini."

"Benarkah? Lalu itu bekas apa?"

"Hantu di kamar." Aku menjawab pertanyaan North. Mata kuliah ini adalah pilihan bebas yang bisa diambil oleh semua jurusan. North, yang membutuhkan kredit tambahan, memilih untuk mengambil kelas ini bersamaku. Sementara Ter dan Meow tidak ikut.

Awalnya terasa sedikit aneh memiliki teman yang duduk belajar bersamaku, karena biasanya aku selalu sendirian. Namun, North yang sesekali mengajakku bicara, menggoda, atau bermain gim, membuat suasana kelas lebih berwarna.

Kemeja shop biru tua orang di sebelahku, yang sedang makan camilan secara diam-diam, sangat mencolok di antara seragam mahasiswa putih lainnya. Karena ini adalah kelas umum, ada banyak mahasiswa dari berbagai jurusan, dan seragam teknik memang sangat mencuri perhatian.

"Hantu di kamar menggigitmu, ya?" North mengangkat alis dengan ekspresi terkejut. Aku mengangguk sebagai jawaban. "Apa kau melakukan sesuatu kepadanya? Kenapa dia sampai sekejam itu? Coba lihat." Ia kemudian dengan seenaknya menarik kerah bajuku untuk melihat bekas luka itu.

"Aku rasa aku tidak melakukan apa pun padanya. Tapi aku sudah bilang untuk tidak melakukannya."

"Mana mau dia mendengarkan. Tapi aku rasa, hantu itu tajam juga giginya."

"Benarkah?"

"Ya. Lihat bagian taringnya." North berkata sambil membuka mulutnya dan menunjukkan taringnya sendiri sebagai contoh. Aku kembali menyentuh bekas luka di leherku.

"Aku tidak menyadarinya."

"Kalau kau bilang itu manusia serigala atau vampir, aku juga percaya."

"Mungkin itu vampir. Kalau begitu, semalam darahku pasti dihisap."

"Oh, pantes wajahmu pucat. Rupanya ini alasannya." North membuat ekspresi seperti sedang memahami sesuatu dan tertawa kecil, membuatku secara tidak sadar ikut tersenyum. Bersama North membuat segalanya terasa lebih ringan. "Bagaimana dengan Phi Thit? Tadi malam kau tinggalkan dia di lantai kamarmu, kan?"

"Dia baik-baik saja." Aku menjawab. Tapi North terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. "Ada apa?"

"Tidak." North menggeleng. "Kalau tidak ada apa-apa, ya bagus."

"Jadi, kau bawa motor hari ini?" Aku bertanya karena ingat North punya kelas seharian sehingga biasanya dia membawa motornya sendiri. Kalau ada waktu luang, pacarnya biasanya yang mengantar.

"Ya, bawa. Kenapa?"

"Boleh aku pulang bersamamu?"

"Loh, kau tidak bawa motor?"

"Tidak."

"Terus, kau datang ke sini naik apa?"

"Phi sebelah kamar yang mengantar."

"..." Jawabanku membuat North terdiam sambil mengerutkan alis penuh tanda tanya. "Kenapa dia sampai mengantarmu?"

"Dia bilang aku tidak enak badan."

"Kau sakit?"

"Tadi malam demam, tapi sekarang rasanya sudah baik-baik saja."

"Oh, hmm..." North memalingkan wajahnya, tampak berpikir keras. Kenapa hanya meminta tumpangan saja ia terlihat seperti memikul beban dunia?

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang