Chapter 47: Carry Vs Tank

129K 1.8K 428
                                        





"Aku mengerti," katanya dengan senyum lembut.

"Kau ingin hadiah atau sesuatu?"

"Mmm." Dia menunduk dan menciumku perlahan, lembut, dan menahannya sejenak sebelum melepaskannya. Aku hanya tersenyum kecil, sementara kelopak mataku mulai terasa berat.

"Jika kau lelah, beristirahatlah," katanya lembut.

"Tunggu, jangan lakukan hal aneh," ujarku setengah bercanda.

"Aneh? Apapun yang kulakukan padamu tidak pernah aneh bagiku," balasnya dengan nada tenang.

Aku tidak membalas lagi. Perlahan, aku memejamkan mata. Tubuhku terasa terlalu lelah, rasa sakit di sekujur tubuhku akhirnya menyeretku ke dalam tidur yang dalam.

♡♡♡♡♡

Aku perlahan membuka mata ketika merasakan sesuatu bergerak di belakangku. Ruangan gelap gulita, namun sentuhan hangat di tubuhku membuatku terbangun sepenuhnya. Aku terkejut ketika merasakan tangan itu menyentuh ujung penisku. Aku spontan melompat, dan dia di belakangku tampak menyadarinya.

"Kau sudah bangun," gumamnya lembut, menggigit daun telingaku dengan pelan. Napasnya yang panas menyapu pipiku.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku, suara bergetar. Aku bisa merasakan batangnya yang tegang menyentuh kulitku.

"Aku ingin... lagi," jawabnya dengan nada rendah, nyaris berbisik.

"Oh, Tuhan...," gumamku ketika tangannya mulai menyentuhku perlahan, jari-jarinya menekan dan meremas dengan lembut. Tubuhku merespons tanpa kusadari, dan aku merasakan kehangatan yang merambat cepat.

"Aku tidak akan memaksakan apa pun. Aku tahu kau masih sakit," katanya pelan, seakan mencoba menenangkan.

"Tahan," bisikku, napasku mulai tersendat. Perutku terasa geli, dan jantungku berdegup semakin kencang.

Dia melanjutkan sentuhannya dengan lembut, gerakan tangannya menciptakan sensasi yang menyebar ke seluruh tubuhku. Napasku makin tidak beraturan ketika dia membisikkan sesuatu di telingaku. Tangannya yang lain meraih dengan lembut, sementara tubuhku gemetar menahan sensasi yang terus meningkat.

"Jangan terlalu cepat..." gumamku lemah, mencoba mengikuti ritmenya. Tubuhku yang baru saja bangun tidak mampu menyesuaikan diri dengan kecepatan itu.

"Mmm...," dia meraih wajahku, memutarnya perlahan, lalu menciumku dalam. Lidah kami bertaut, semakin intens. Dia menggigit bibirku dengan lembut, menciptakan sensasi yang membuat tubuhku semakin lemas.

Meskipun sore tadi aku masih tertidur, tubuhku kembali tersentuh oleh sensasinya. Kali ini, dia tidak memaksakan diri, menggunakan pahaku sebagai gantinya, karena aku masih merasa sakit. Namun, gerakannya semakin cepat, membuat tubuhku tetap bereaksi. Tangannya yang masih menyentuh bagian depanku menciptakan dorongan yang sulit untuk diabaikan.

Kami saling bertukar ciuman penuh gairah, hingga akhirnya aku mengeluarkan cairan cintaku, membasahi tangannya. Hanya sedikit yang keluar karena aku sudah berkali-kali mencapai klimaks dalam beberapa jam terakhir.

Napas kami saling berpadu, sementara aku bisa merasakan gesekan hangat antara inti tubuhnya dan pahaku. Tubuh bagian bawah kami saling bertaut, menciptakan suara yang jelas terdengar. Dia bernapas berat, tanda bahwa gairahnya memuncak. Tangannya yang besar bergerak nakal, membelai setiap inci tubuhku, meremas lembut pinggul dan dadaku. Jari-jarinya dengan lihai menekan dan menggoda ujung dadaku, menciptakan sensasi nikmat yang membuatku tanpa sadar melengkungkan tubuh, seakan meminta lebih.

Aku merasakan batang besarnya bergerak masuk dan keluar di antara selangkanganku. Panas, keras, dan besar—gesekannya begitu dekat dengan saluran di punggungku hingga aku tak bisa menahan pikiran yang mulai melayang-layang.

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang