Chapter 27: Brother Zone

72.8K 2.2K 671
                                        


Aku terkejut sampai menginjak rem mendadak dengan sangat keras. Karena mobil belum melaju cepat dan masih di halaman rumah, jadi tidak terlalu berbahaya. Tapi inti masalahnya adalah apa yang baru saja si pendek ini katakan.

"Apa kau serius?"

"Ya."

"Hei, kau benar-benar serius? Jangan bohong. Kalau kau bohong, aku akan memukulmu."

"...Aku tidak bohong."

"Serius? Jadi kita mulai dari nol sekarang?"

"..."

"Berapa maksimalnya? Nol?"

"Memangnya maksimal nol itu ada?" Dia bertanya dengan nada datar, berbeda denganku yang sangat bersemangat dan gelisah sampai tidak tahu harus berbuat apa.

"Jadi, ini artinya kau sudah jadi pacarku, kan?"

"Belum, aku bilang ini baru mulai."

"Ya sudah, kita jalani dulu saja."

"Tidak mau."

"Lalu bagaimana cara menghitung nilainya? Berapa skornya? Maksimal lima?"

"Tidak tahu, mungkin tidak ada skor tetap."

"Jadi tergantung perasaan, begitu?" Aku bertanya sambil perlahan melepas rem dan mulai menekan pedal gas agar mobil keluar dari halaman rumah.

Dia tersenyum.

"Serius, aku senang sekali." Aku mengungkapkan perasaanku dengan jujur. Rasanya luar biasa! Kalau mulai menghitung nilai, artinya dia sudah membuka hati, kan? Wow, ini sangat keren. Orang sepertiku memang yang terbaik. Kalau aku bukan aku, tidak mungkin aku bisa membuat robot seperti dia membuka hati. Aku benar-benar merasa seperti pemenang saat ini.

"Kau manis sekali," kataku sambil menekan pelan kepalanya dengan tanganku. Dia tidak bereaksi, padahal seharusnya dia yang menunjukkan reaksi, bukan aku. Tapi ya sudah, dia memang seperti robot dengan daya baterai rendah.

Dia bilang, karena aku tulus dan percaya padanya, jadi dia membuka hati. Tentu saja, siapa lagi yang bisa memberikan sebanyak yang aku lakukan? Tidak ada. Di seluruh semesta ini, hanya aku yang bisa seperti ini!

"Kira-kira, berapa lama lagi sampai kau mau jadi pacarku?"

"Tidak tahu."

"Itu tergantung pada apa yang kulakukan?"

"Hmm."

"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untukmu."

"Hmm... Baiklah."

"Lalu, apa aku akan dapat hak istimewa? Misalnya, bisa menciummu setelah jam enam sore sampai jam lima pagi?"

"Tidak."

"Apa-apaan itu?! kalau begitu aku minta izin untuk menggenggam tanganmu dengan sepenuh hati."

"Bukannya selama ini sudah kau lakukan?"

"Aku mau yang sepenuh hati, kau yang harus menawarkan tanganmu dulu."

"Tidak mau."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak sepenuh hati."

"Kau ribet sekali," aku menggerutu kesal. "Ya sudah, aku paksa saja seperti biasa."

"..."

"Hei, kau sudah tahu semua tentangku. Boleh aku tahu lebih banyak tentangmu?"

"Tidak boleh."

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang