Chapter 1: Friend

141K 3.1K 1.1K
                                        




~ARTHIT~



"Wow, keren sekali!" 

"Biasa saja." 

"Loh, kenapa ruangannya gelap, Phi? Kenapa kau tidak membuka jendelanya." Istri Joe berjalan mengelilingi kamar karena dia bilang ingin melihat kamar ku. Ya sudah, kalau mau lihat, lihat saja. Dia langsung membuka tirai kamar tanpa izin. 

"Phi baru saja pulang." 

"Kenapa apek sekali? Apa ada binatang yang mati?"

"Apek apanya, biasa saja. Aku juga tinggal di sini dengan normal." 

"Benarkah? Oh ya, biasanya dia makan apa?" 

"Aku belikan daging, ayam atau semacam itu." Aku menjawab, merujuk pada ular yang aku pelihara. Seekor ular jenis ball python berwarna kuning muda yang aku simpan di dalam akuarium kaca. 

"Berapa harganya, Phi?" 

"Dua atau tiga ratus ribu baht, mungkin. Motif ini sulit didapat." 

"Kalau dia merayap lalu jatuh dari gedung, bagaimana?" 

"Ya, hancur lah." 

"Benarkah Phi tinggal sendiri di seluruh lantai ini?" 

"Ya, kenapa? Tapi temanmu sudah tinggal di sini, kan?" 

"Ya, berarti kalian tinggal berdua di seluruh lantai ini. Tolong jaga teman ku baik-baik, ya." 

"Untuk apa?" 

"Aduh, Phi tahu tidak soal kamar sebelah? Katanya angker, kan. Apa Phi pernah melihat sesuatu?" 

"Ya." Aku menghela napas panjang dengan rasa kesal saat memikirkan kamar sebelah. "Setiap malam aku mendengar suara itu, benar-benar mengganggu. Tolong bilang ke temanmu, suruh berhenti menyeret meja dan kursi. Aku tidak bisa tidur." 

"..." North terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan diri. "Tunggu sebentar, Phi. Setiap malam? Kalau begitu, teman ku bisa mati ketakutan, kan?" 

"Kalau dia takut, kenapa pindah ke sini?" 

"Tapi dia bilang tidak takut, sih." 

"Bagus kalau begitu. Tapi kenapa dia pindah? Kupikir aku bisa tinggal sendirian di sini sampai lulus." Aku berkata, karena sejak hantu itu mulai muncul setiap hari, semua orang di lantai ini pindah kecuali aku. Aku malas untuk memindahkan barang-barang. Lagipula, Phi Pe, pemilik kondominium, memberi potongan harga hingga lima puluh persen. 

"Pemilik kondominium memberi potongan harga sampai tujuh puluh persen, jadi teman ku langsung setuju untuk pindah ke sini." 

"Tujuh puluh? Kenapa dia mendapat potongan lebih banyak dari aku?" 

"Karena kamar Phi ada di sebelahnya, kan? Kalau mau potongan lebih banyak, pindah saja ke kamar itu." 

"Aku malas memindahkan barang. Sudahlah, keluar sana. Aku mau tidur." 

"Phi, kenapa mau tidur sekarang? Masih sore." 

"Aku mau tidur. Keluar, dan tutup pintunya." 

"Iya, iya. Malam ini main game, kan?" 

"Iya, nanti setelah aku bangun." 

"Baik, Phi." Suara North terdengar sebelum dia keluar dari kamarku, tak lupa menutup pintu dengan rapi. Semoga teman North yang baru pindah tidak berisik. Karena suara tawa, tangisan, dan gesekan kursi dari kamar sebelah setiap malam sudah cukup menyebalkan. 

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang