Chapter 13: Thanks

85.7K 2.5K 495
                                        


Sinar matahari pagi langsung masuk begitu tirai berwarna gelap dibuka. Aku melangkah keluar ke balkon, memegang secangkir kopi panas di tanganku. Meski begitu, aku tidak merasa cerah seperti sinar matahari yang hangat dan suasana pagi yang menyenangkan.

Aku memang harus bangun pagi-pagi karena hari ini adalah hari keberangkatanku ke kampung halaman Phi dari kamar sebelah. Aku sudah menyiapkan semua dokumen sejak lama, dan tadi malam aku memeriksanya untuk terakhir kali agar tidak ada yang tertinggal sebelum tidur. Saat aku hampir terlelap, ada notifikasi chat yang lupa aku matikan.

Pesan itu berupa foto seseorang yang tergeletak di lantai. Dari sudut pengambilan gambar, terlihat roda mobil, yang membuatku menebak itu adalah tempat parkir. Sepertinya itu tempat parkir sebuah bar. Tidak salah lagi, tempat itu pasti bar. Phi dari kamar sebelah mengirimkan foto itu bersama pesan pendek seperti, "Sudah kuurus."

Saat itu aku hanya membalas "terima kasih" tanpa berpikir apa-apa karena aku mengantuk. Tapi sekarang, setelah kupikirkan lagi, aku rasa dia tidak mengurus orang itu demi aku. Mungkin mereka bertengkar atau ada masalah saat minum bersama, karena tidak ada alasan baginya untuk repot-repot memukuli orang itu untukku. Tapi bagaimanapun juga, aku tetap berterima kasih. Jujur saja, aku cukup puas dengan apa yang kulihat di foto itu.

Akhirnya selesai... Akhirnya, cerita antara aku dan orang itu benar-benar selesai.

Tadi malam, sebelum tidur, aku menghabiskan hampir satu jam menelepon teman-teman dan menceritakan semua detailnya. Mereka sedikit khawatir karena aku akan pergi ke luar negeri hanya berdua dengan Phi dari kamar sebelah. Awalnya, semua temanku menawarkan diri untuk ikut. Tapi setelah mereka berkonsultasi dengan para Phi dokter, jawabannya adalah tidak boleh.

Ternyata, Phi dari kamar sebelah sangat tidak suka jika ada orang yang ikut campur atau tahu tentang hal ini. Bahkan para Phi dokter pun tidak pernah bertanya apa pun. Sama seperti yang sudah kuduga. Bahkan sekarang, meskipun dia harus membawaku pergi, dia tampak tidak terlalu suka aku ikut. Tapi ini memang keharusan.

Menurutku, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena aku cukup bisa menjaga diri. Tapi sepertinya orang-orang di sekitarku tidak berpikir begitu. Selain teman-temanku yang khawatir, ada juga ayahku yang terus-menerus mengingatkan untuk tidak pergi kemanapun sendirian dan jangan pernah menjauh dari orang yang pergi bersamaku.

Dengan kebiasaanku yang suka bertindak sesuka hati, aku sering melanggar rencana setiap kali bepergian. Awalnya aku berpikir, setelah urusanku dengan Phi dari kamar sebelah selesai, aku akan diam-diam pergi jalan-jalan sendiri selama dua atau tiga hari. Tapi ayahku sudah membaca pikiranku dan melarangku terlebih dahulu. Kalau sudah begini, ya, tidak ada yang bisa kulakukan.

Aku akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan Meow Phoon menjaga Khun John. Phoon langsung setuju tanpa pikir panjang. Dia bahkan menyuruhku membawa Khun John pagi-pagi agar kami bisa sarapan bersama, jadi aku tidak perlu terburu-buru ke bandara. Menurutku, itu ide yang bagus, karena aku memang suka mempersiapkan segalanya lebih awal. Jika semuanya terlalu mendadak, aku akan merasa gelisah sepanjang waktu.

Aku melihat jam tangan, jarum pendeknya menunjukkan pukul tujuh. Aku menghabiskan kopi panas di cangkirku lalu kembali masuk ke dalam kamar. Aku tidak lupa menutup tirai dan mengunci pintu balkon. Semalam, aku sudah mengemasi semua barang milik Khun John ke dalam tas besar.

Aku mengirim pesan ke Phi dari kamar sebelah untuk memberitahu bahwa aku sudah siap berangkat, tapi dia tidak merespons. Bahkan pesanku belum dibaca. Aku tidak tahu pukul berapa dia berencana pergi, karena penerbangan kami adalah siang nanti. Tapi aku harus pergi sekarang, karena aku sudah berjanji dengan Phoon. Akhirnya, aku keluar kamar dan mengetuk pintunya.

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang