Arthit POV
Aku bahkan tidak sadar waktu telah berlalu sejauh ini. Masa ujian seperti perjalanan melintasi waktu. Aku hanya membaca buku, ujian, membaca lagi, dan ujian lagi. Terus berputar seperti ini sampai aku hampir tidak memperhatikan waktu. Yang kutahu hanya apa yang harus kubaca hari ini dan apa yang harus kuhadapi di ujian esok lusa. Jujur saja, aku bahkan tidak begitu tahu. Semua ini karena Fah yang selalu menyusun jadwal, lalu memberitahuku kapan harus pergi ujian, dan aku hanya mengikuti saja.
Ujian, pulang ke asrama, membaca lagi, lalu ujian. Begitu terus sampai seperti siklus yang sangat membosankan.
Siapa bilang jadi dokter itu tidak bisa tidur? Aku bahkan bisa tidur sampai tiga jam! Siapa yang bisa tidur lebih lama dariku?
Ah, ada sesuatu yang mengganggu disini...
"Jangan ganggu dia, Thit," kata Fah memperingatiku saat aku sedang menggoda George, anjing fakultas kami. Kenapa dia jadi anjing tapi masih bisa tidur lebih lama dariku? Sebentar lagi, akan kubalas dia.
Kalau soal menendang anjing dan mengolok-olok orang, aku ahlinya!
"Aku akan menaruh racun nanti," ancamku sambil terus mengganggu George, mencubit telinga, pipi, dan kakinya. Dia hanya membuka matanya sebentar, lalu tidur lagi seolah tidak peduli. Mungkin dia sudah bosan denganku. Aku sering menggoda dia sejak pertama masuk fakultas ini. Kadang kalau dia melihatku, dia bahkan memilih jalan lain untuk menghindar. Dasar anjing! Lihat saja, akan kutarik telinganya! "Mengabaikanku? Berani sekali, anjing itu!"
"Teman kita sepertinya mulai bicara dengan anjing sekarang," kata Joe sambil menghela napas saat mereka menungguku selesai menggoda George. "Ayo pergi, aku lapar."
"Baiklah," jawabku sambil berdiri. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh perut George yang gemuk itu dengan kakiku. Anjing sialan, hidupnya enak sekali, makan tidur sampai gemuk begitu. Aku benar-benar iri padanya. Sial, bagaimana aku bisa sampai iri pada anjing?
Kami akhirnya pergi makan siang bersama sambil menunggu ujian sore. Setelah ujian selesai, aku kembali ke asrama untuk tidur lagi. Sekitar pukul delapan malam, aku bangun dari "kematian" dengan perasaan segar, lalu keluar untuk merokok di balkon. Sejujurnya, kalau ada waktu, aku mungkin sudah menonton film dewasa untuk menghilangkan stres, tapi aku tidak punya waktu. Sepuluh menit lagi aku harus pergi ke kafe itu lagi.
Kafe itu, bagiku, seolah neraka. Otakku sudah terlalu lelah dengan tempat itu. Kalau pergi ke sana, berarti harus belajar. Bahkan hanya lewat saja pun aku tidak mau, apalagi kalau tidak ada ujian.
Aku melihat anak berambut pirang di balkon sebelah sedang menggendong kucingnya. Aku sudah melihat kucing itu sebelumnya. Kucing hitam, dengan satu mata buta, dan wajahnya terlihat sangat menyebalkan. Melihatnya saja membuatku ingin mencubit telinganya.
Tunggu, kenapa aku jadi seperti ini? Setiap melihat anjing atau kucing, aku selalu ingin mencubit telinganya!
"Hei, bulu telinga kucing itu memang lembut sekali, tahu," pikirku sambil tertawa kecil pada diri sendiri.
Aku berdiri di sana beberapa saat sebelum suara anak itu memanggilku. "Hei."
"Apa?"
"Liburan hampir tiba."
"Oh, ya." Aku mengangguk pelan, mengerti maksudnya. Percakapan terakhir kami adalah tentang rencana kembali ke kampung halamanku setelah ujian selesai. Sejujurnya, aku tidak terlalu memikirkannya karena fokus pada ujian yang terus menumpuk. "Aku masih ada ujian tiga hari lagi."
"Oke. Beri tahu aku nanti."
"Iya." Setelah itu, aku menghisap rokokku satu linting lagi sebelum kembali ke kamar untuk mempersiapkan diri belajar.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)