Chapter 21: Berikan Padaku

84.9K 2.6K 1.2K
                                        


Suhu air hangat yang pas di kulit, suara musik yang mengalun pelan, dan aroma sabun yang samar-samar memenuhi ruangan. Aku merebahkan tubuhku di tepi bak mandi, membiarkan diriku rileks setelah separuh hari berada di luar. Entah kenapa rasanya lelah sekali.

Awalnya, bersama North semuanya terasa nyaman. Tapi, setelah makan malam bersama Phi tetangga dan North, perasaan aneh yang semula samar itu berubah menjadi beban yang membuatku lelah seperti sekarang.

Aku tak bisa mengabaikan kejadian saat dibonceng di motor miliknya. Dia memaksaku untuk memeluknya, dengan ancaman tak akan mengurangi kecepatan jika aku menolak. Dalam situasi itu, aku tidak punya pilihan lain selain benar-benar memeluknya. Tentu saja, itu kulakukan tanpa keinginan sama sekali.

Sulit menganggap kejadian itu sebagai hal yang biasa. Mungkin dia hanya ingin menggodaku, tapi aku tak mengerti apa yang menyenangkan dari menggodaku seperti itu. Atau, kalau memang dia benar-benar ingin aku memeluknya, apa alasannya? Apakah itu membuatnya merasa nyaman?

Mungkin karena terbiasa dengan pelukan dan sentuhan ringan dari Ter dan Khun Jhon, aku cukup terbiasa dengan skinship ringan. Tapi, memeluk seseorang yang tidak akrab seperti Phi tetangga itu, rasanya benar-benar aneh.

Manusia adalah makhluk berdarah panas, jadi tubuhnya pasti terasa hangat. Begitu pula dia. Aku ingat saat memeluknya, tubuhnya tidak selembut Ter atau Khun Jhon. Tapi, anehnya, pelukan itu memberiku rasa aman. Ya, tentu saja, karena dia menjadi pegangan satu-satunya agar aku tidak terjatuh dari motor.

Karena aku tidak pernah menganggap diriku menarik, aku tidak berpikir bahwa dia mungkin tertarik padaku. Tapi jika, katakanlah, itu benar, aku harus jujur bahwa aku tidak ingin itu terjadi. Jika dia ingin menyukaiku atau tertarik padaku, lebih baik dia gunakan waktunya untuk hal lain.

Tapi sudahlah, selama tidak ada yang rumit, itu sudah cukup bagiku.

Aku menyiramkan air hangat ke luka di leherku dengan lembut, berharap luka itu memudar. Kalau kupikirkan lagi, mungkin ini ulah Phi tetangga. Dengan hantu di kamar, aku selalu hidup damai.

Jika ini ulahnya, tentu menyebalkan. Sudah kubiarkan dia tidur di kamarku, tapi dia malah menyakitiku. Benar-benar menyebalkan.

Setelah merasa cukup berendam, aku bangkit dari bak mandi dan memeriksa luka di leherku di depan cermin. Syukurlah, luka itu sudah jauh memudar. Aku berpakaian rapi dan keluar dari kamar mandi.

Aku memeriksa ponselku untuk melihat apakah Ter sudah membalas pesanku. Aku baru saja memintanya untuk mengembalikan Khun Jhon padaku, karena aku hanya punya motor dan itu kurang praktis. Tapi, pesan itu bahkan belum dibaca.

Ketika aku sedang menunggu, terdengar ketukan di pintu. Aku berjalan mendekati pintu untuk memeriksa siapa yang datang. Ternyata, Phi tetangga sedang berdiri di sana.

"Ada apa?" tanyaku tanpa membuka pintu.

"Buka pintunya."

"Ada apa?" ulangku.

"Tidak ada apa-apa," jawabnya dengan wajah datar. "Aku hanya ingin bersamamu."

"Tidak mau," jawabku pelan, sambil mundur dari pintu. Aku berniat kembali ke tempatku duduk, tapi langkahku terhenti oleh suara dari balik pintu.

"Aku bisa mendobrak pintu ini, tahu."

"Setidaknya, pintunya akan lecet," balasku sambil menatap pintu dengan waspada.

Aku menghela napas tanpa sadar, lalu dengan terpaksa berjalan kembali untuk membuka pintu. Tapi sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah lebih dulu menyelipkan lengannya, mencegahku menutup pintu lagi, lalu mendorong dirinya masuk. Dia melepas sandal jepitnya, meletakkannya di samping pintu, dan melangkah masuk ke kamarku.

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang