Chapter 11: Old Song

71.7K 2.5K 482
                                        


☆☆☆

Saat aku masih duduk santai bersama semua orang, aku menoleh keluar ketika mendengar suara hujan. Tak lama kemudian, hujan pun turun semakin deras seperti ada badai. Phoon yang duduk di sebelahku bergerak mendekat, membuatku menoleh padanya. Sepertinya dia bahkan tidak sadar bahwa tubuhnya sudah menempel padaku. Ini karena dia biasanya takut petir dan gelap. Dua hal ini sering terjadi bersamaan saat hujan turun. Ketika hujan deras, petir menyambar, dan listrik biasanya padam.

Duaar!

Petir menyambar, dan itu membuat Phoon langsung melompat memelukku erat. Kedua tangannya gemetar hebat. Saat itu juga, Phi Fah - pacarnya- bangkit dan memeluknya untuk menenangkan. Aku memperhatikan pemandangan hangat itu sejenak sebelum akhirnya mengalihkan pandangan, merasa itu tidak sopan.

"Shia, Dao!"

"Apa?"

"Apa punya sesuatu yang kau takuti?"

"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

"Aku penasaran. Kau terlihat begitu tenang terhadap semua hal di dunia ini."

"Tidak akan aku beri tahu," jawabku.

"..."

"Aku yakin kalau aku memberitahu, kau pasti akan menggunakannya untuk mengusikku nanti."

"Kenapa kau harus berpikiran buruk begitu?" North, teman ku, berujar dengan sedikit kesal. "Padahal kau sendiri sering mengusik kami dengan cerita-cerita serammu."

"Kurasa kau suka mendengarkan cerita-cerita itu, bukan?" kataku. "Kau tahu tidak, aku sampai harus mendengarkan banyak program cerita horor hanya untuk memilih cerita yang seram agar bisa kuceritakan padamu."

Aku mengatakan ini dengan serius. Ada masa ketika North sangat terobsesi dengan cerita horor, hingga mendengarkan program-program tentang itu setiap hari. Tapi kemudian dia mengeluh karena merasa tidak ada cerita yang cukup menyeramkan. Jadi, aku ikut membantu mendengarkannya.

"Jadi itu sebabnya," jawab North sambil mendengus.

"Oh, ngomong-ngomong, kau ingat waktu kau tiba-tiba memanggilku 'Khun' dan berhenti menggunakan kata ganti kasar?"

"Apa kau ingin aku kembali menggunakan kata itu?"

"Tidak juga. Tapi ada saatnya kau berubah jadi lebih sopan dan aku merasa tidak terbiasa dengan itu," kata Nong sambil mengeluh. Aku tidak bisa menahan senyum kecil melihat tingkahnya yang menggemaskan.

"Benarkah begitu, Khun North?" Aku sengaja menggoda. Hal ini membuat North makin kesal dan memasang wajah masam.

"Cukup panggil aku North saja," katanya, kesal.

"Dao, kau sebaiknya tidak perlu mengubah cara bicaramu," ujar Ter sambil menoleh padaku.

Aku menatapnya. "Karena sejak awal kau bukan orang yang suka bicara kasar. Jadi, saat mencoba berbicara seperti itu, rasanya agak aneh. Sebenarnya, aku tidak terbiasa dengan itu."

"Kenapa kau tidak bicara begitu sejak awal?" tanya North. "Apa di rumahmu cukup ketat soal ini?"

"Bukan begitu," jawabku sambil menggeleng pelan. "Aku hanya tidak terbiasa bicara seperti itu. Tapi sebenarnya aku bisa kok."

"Coba buktikan."

"Ai, Shia North!!!"

"Tidak cocok," North menggeleng sambil tertawa. "Tidak cocok sama sekali. Saat kau bicara seperti itu, suaramu terdengar lambat dan lembut. Rasanya seperti dilempar bunga ke wajahku daripada dihantam pukulan. Harus lebih garang, tahu?"

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang