Gambaran terakhir yang kuingat adalah pelukannya di sekelilingku, bersama dengan ciumannya yang manis, sentuhan penuh kasih, dan kehangatan tubuhnya, sebelum aku kehilangan kesadaran karena kelelahan.
Ketika aku membuka mata, Arthit sedang memelukku dan dia sudah terjaga. Hal pertama yang kurasakan saat mencoba menggerakkan tubuhku tanpa sengaja adalah rasa sakit tajam yang menyebar ke tulang punggungku, terutama di sekitar pinggul dan punggung bawah.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya orang di depanku dengan nada lembut, sambil mengangkat tangannya untuk menyibakkan rambut yang menutupi wajahku.
"Sakit," jawabku.
"Kurasa itu wajar, mengingat apa yang terjadi tadi malam."
"Uh," sahutku pelan, menyadari bahwa aku hanya mengenakan kemeja putih besar. Dia pasti telah membersihkanku tadi malam, bahkan sprei yang kotor pun sudah diganti.
"Jam berapa sekarang?"
"Sudah siang." Jawabannya membuatku mengangkat alis. Apa aku benar-benar tidur selama itu? Hmm, tapi kalau mengingat tadi malam, aku tidak heran. Dan saat memikirkan apa yang terjadi, aku tidak bisa menahan rasa malu dan tanpa sadar menundukkan kepala.
Itu adalah pertama kalinya bagiku, dan rasanya begitu indah hingga aku tidak bisa menggambarkannya. Aku hanya bisa mengatakan bahwa aku sangat bahagia karena itu bersamanya, dan aku senang telah menyerahkan diriku sepenuhnya.
"Ada apa? Kenapa kau menundukkan kepala?"
"Tadi malam... Apa semuanya baik-baik saja?" tanyaku pelan karena merasa malu, tapi aku ingin tahu apa itu sama memuaskannya untuknya seperti halnya untukku.
"Bagaimana kalau aku bilang tidak?"
"Kalau begitu... aku akan melakukannya lebih baik lain kali."
Aku mendengar dia tertawa bahagia, lalu dia memelukku lebih erat daripada sebelumnya dan menempelkan bibirnya ke bibirku, menciumku dengan penuh gairah. Dia bertahan seperti itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya melepaskannya.
"Itu sangat luar biasa. Aku sangat bahagia. Aku sangat senang sampai aku tidak tahu harus berbuat apa." Matanya bersinar terang dengan senyuman yang indah. Aku tersenyum dan mengangkat tanganku untuk mengelus pipinya.
"Aku juga sangat bahagia."
"Kau begitu manis, bagaimana mungkin aku bisa seberuntung ini?" katanya seolah berbicara pada dirinya sendiri, menggenggam tanganku yang sedang mengelus pipinya dan menciumnya. "Mau mandi?"
"Aku mungkin tidak bisa bangun."
"Ayo mandi bersama."
"Tidak, tidak."
"Kenapa?"
Aku tidak langsung menjawab karena tidak tahu bagaimana mengatakannya. Kalau kami mandi bersama dan dia jadi terangsang seperti tadi malam, aku pasti tidak akan sanggup menahannya.
"Aku tidak mau. Ayo istirahat dulu."
"Benarkah?"
"Hmm. Baiklah, kalau begitu bantu aku untuk mandi."
"Baik," jawabnya dengan riang, menggendongku dan membawaku ke kamar mandi, lalu meletakkanku di atas meja di dekat wastafel. Arthit tidak mengenakan baju, hanya celana. Itu mengingatkanku pada kejadian tadi malam. Aku mengatupkan bibir. Dia berbalik untuk mengambil sikat gigi dan menuangkan pasta gigi ke atasnya. Dia menyalakan air dan meletakkan gelas di depan mulutku. Aku menatapnya dengan bingung sejenak sebelum akhirnya mengerti. Aku berkumur dengan air yang mengalir, meludah ke wastafel, dan meraih sikat gigi.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)