Bunyi dering telepon yang akrab di telinga membangunkanku di tengah malam. Aku mendapati diriku sedang dipeluk oleh seseorang dari belakang. Dia menyelipkan satu tangannya sebagai bantal di bawah kepalaku, sementara tangan yang lain erat melingkari pinggangku. Napas hangatnya terasa di leherku, dan suhu tubuhnya yang melekat serta aroma lembutnya membuatku merasa begitu nyaman hingga nyaris tertidur kembali.
Aku mencoba mengangkat tangannya yang melingkari pinggangku, tapi sia-sia. Usahaku justru membuatnya memeluk lebih erat sambil mengeluarkan suara tidak puas dari tenggorokannya. Sekilas aku mengira dia sudah terbangun, tapi ritme napasnya yang teratur meyakinkanku bahwa dia masih tertidur.
Aku meraih ponselku yang terletak tidak jauh. Layar menyala karena ada panggilan masuk. Saat kulihat, ternyata North yang menelepon. Saat itu pukul tiga tiga puluh pagi. Dengan mata yang masih berat, aku menjawab panggilan itu.
"Tidurlah. Selamat malam," ucapku sebelum menutup telepon dengan rasa kantuk yang menyerang. Namun, North menelepon lagi.
("Jangan tutup!")
"Hm, ada apa? Kenapa menelpon tengah malam begini?" tanyaku.
("Bagaimana bisa kau tidur? Biasanya kau tidak tidur,") katanya dengan nada terburu-buru.
"Kita ini manusia bukan hantu, North. Dan kenapa kau memanggilku dengan nama itu?"
("Jangan sebut kata 'hantu'! Aku tidak mau menyebutnya. Tadi saat mandi, aku mendengar suara anak kecil tertawa. Seram sekali. Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Kenapa mereka menggangguku? Padahal yang makan camilan itu adalah kau dan Phi Thit. Sialan!")
Nada suaranya yang panik membuatku tersenyum kecil. Rasa kantuk ku sedikit menghilang.
"Bagaimana dengan kekasihmu? Di mana dia?" tanyaku.
"Kenapa kau menanyakan kekasihku?"
"Pergilah padanya. Kau tidak akan takut jika ada dia."
"Tidak mau. Phi Joe sedang bekerja. Aku sudah kacau begini, masa aku harus mengganggunya? Tidak mau ah."
"Tapi kau takut, kan? Biarkan dia menenangkanmu."
"Siapa yang takut? Aku dan rasa takut itu bertolak belakang," katanya dengan suara tegas.
"Kalau begitu, aku tutup teleponnya ya. Selamat malam."
("Eh, jangan! Jangan tutup! Baiklah, aku takut. Aku benar-benar takut sekarang. Hampir menangis, sialan. Aku tidak suka seperti ini. Kenapa mereka menggangguku padahal aku tidak makan camilannya.")
"Hampir menangis, ya?"
("Iya, mataku sudah berkaca-kaca.")
"Air mata seorang pria kok mudah sekali mengalir," candaku, karena tahu bahwa North tidak serius soal menangis, tapi ketakutannya itu nyata. "Menurutku tidak ada apa-apa. Mungkin teman-temanmu hanya mengerjaimu. Sekarang kau sedang apa?"
("Aku bersembunyi di bawah selimut. Kalau Joe melihatku, pasti dia bingung kenapa aku bersembunyi begini. Tapi aku memang takut.")
"Bukalah selimutmu, lalu dengarkan baik-baik. Benarkah ada suara anak kecil tertawa?"
("Tidak mau! Kau gila ya?")
"North, aku pernah bilang bahwa kamarmu tidak ada apa-apa. Kekasihmu itu dikelilingi aura kuat, hantu pun tidak berani mendekat. Percayalah, bahkan jika kau melihat melalui sela-sela kakimu, tidak akan ada apa-apa."
("Benarkah?")
"Ya, aku janji. Aku juga makan camilan itu dan tidak terjadi apa-apa. Temanmu mungkin hanya ingin mengerjaimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)