#24

2K 116 5
                                        

Begitu Zenith tiba di ruang tamu, ia langsung bisa menemukan sosok Nael yang tengah berdiri dekat dengan jendela kaca. Pemuda tampan itu terlihat tengah berbincang dengan seseorang lewat panggilan telpon.  Tertatih, Zenith menghampiri sang vampire. Ingin mengorek lebih jauh, seberapa banyak hal yang Nael ketahui mengenai dirinya.

Zenith tiba di sisi Nael tepat saat sang vampire menyelesaikan panggilan telponnya. Sosok yang lebih tinggi tampak terkejut, sepertinya tak menyangka jika sang penyihir akan mengampirinya dengan tubuh yang lemah.

"Ada apa?" Tanya Nael setelah merubah posisi tubuhnya, menghadap penuh kepada sang penyihir.

Belum juga Zenith menutup mulut, suara pintu dibuka tiba-tiba terdengar di seluruh penjuru apartmen. Jadi, alih-alih melontarkan pertanyaan yang sejak tadi berkecamuk di benaknya, Zenith malah memilih untuk bersembunyi di belakang sang vampire karena terlalu terkejut

"Jelaskan isi pesanmu itu Nael."

Suara itu datang dari sosok yang baru saja masuk ke dalam apartemen dengan paksa.

"Kau membuatku kaget granny."

Ucapan Nael tak digubris sama sekali karena tampaknya sosok yang dipanggil granny lebih tertarik untuk menuntut penjelasan. Jadi, dari pada membuat sang nenek emosi, Nael bergegas menghampiri, membuat si yang lebih kecil yang tadinya bersembunyi dibalik tubuhnya, terlihat.

Waktu terasa berjalan sangat cepat saat sang nenek tiba-tiba berlutut dengan satu kaki. Kepalanya menunduk sesaat sebelum mendongak, memperlihatkan mata indahnya yang sudah berkaca-kaca.

"Your highness," panggil sang nenek dengan lirih.

Nael yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya bisa diam mematung, sedangkan si cantik yang awalnya berdiri ketakutan bergerak maju, menghampiri sosok yang masih betah bersimpuh tak jauh darinya.

"Callisto?" Si cantik memanggil dengan ragu.

Namun respon dari si yang lebih tua membuat Zenith tak lagi ragu. Pemuda itu dengan cepat ikut bersimpuh, meraih tangan yang lebih tua untuk digenggam. "Aku pikir kau sudah mati."

Winwin menggeleng kecil sebelum membawa Zenith ke dalam peluk hangat. Keduanya menangis keras, sembari mengucapkan kata syukur.

Nael yang melihat keduanya hanya bisa terdiam dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.

---

"Nael, kau masih ingat, jika granny adalah penyihir keturunan Callisto?"

Nael mengangguk kecil. Ia tak mungkin melupakan kisah yang selalu diceritakan oleh sang ibu sejak ia kecil. Mengenai batu amartine dan juga peperangan bangsa vampir juga terkuaknya identitas sang nenek.

"Dulu, sebelum dunia penyihir hancur. Callisto adalah keluarga yang sangat dipercaya oleh kekaisaran. Ayah ku adalah penasehat kekaisaran yang selalu diagungkan sedangkan aku adalah guru yang ditunjuk untuk melatih dua keturunan kembar kaisar. Saat itu umurku dua puluh lima tahun sedangkan pangeran dan putri berumur enam tahun. Keduanya sudah ku anggap seperti saudara bahkan anakku sendiri."

Nael menyimak cerita Winwin dengan seksama, walau perlahan ia sudah bisa menebak siapa sosok sang pangeran yang dimaksud oleh neneknya.

"Pangeran baru berumur sepuluh tahun saat para penyihir hitam memberontak. Kekaisaran hancur lebur dan aku yang saat itu berusaha menyembunyikan pangeran dan putri kecil akhirnya tumbang juga. Aku ingat terakhir kali, aku meminta mereka untuk kabur sejauh mungkin sedangkan aku menghadang musuh yang menghalangi."

Winwin menghentikan ceritanya, sejenak mengambil nafas karena kenangan buruk yang terpaksa ia gali dari ingatannya.

"Aku tidak tahu lagi bagaimana keadaan mereka. Dan sekarang, saat melihat salah satunya berdiri dengan sangat sehat di hadapan ku, membuatku sangat bersyukur."

Glimpse [Nomin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang