Yushi menerobos rumah sang ayah dengan terburu-buru. Menyusuri seluruh penjuru ruangan yang sebenarnya tidak terlalu ia tahu karena sangat jarang menginjakkan kaki ke tempat ini. “Pangeran,” sebuah suara menginterupsi pergerakannya. Pemuda itu buru-buru menoleh, mendapati Kun yang nampaknya baru saja keluar dari salah satu ruangan. “Di mana yang mulia?” Tanya si yang lebih muda tanpa mau berbasa-basi. “Yang mulia ada di dalam.”
Begitu ucapan Kun berhenti, Yushi langsung berjalan mendekat, bermaksud membuka pintu ruangan yang dimaksud namun tangan Kun lebih dulu mencekalnya. “Yang mulia sedang beristirahat, pangeran.” pemuda itu tak peduli, berakhir tetap menerobos masuk. Aroma sang ayah memenuhi ruangan yang ternyata adalah kamar tidur. Yushi sempat terdiam beberapa waktu saat tiba-tiba kerinduan akan aroma itu menyerang hatinya. Bagaimana pun juga, ia pernah menjadi anak yang sangat mengagungkan dan menyayangi sang ayah. Mencintai sosok itu tanpa syarat. Namun, luka yang diberikan terlalu dalam, terlalu menyakitkan hingga rasa sayang itu perlahan menghilang.
“Pangeran,” Panggilan dari seseorang dibelakangnya membuat lamunan Yushi buyar. Pemuda itu menggelengkan kepala beberapa kali sebelum kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar luas itu. Langkahnya cepat, seakan memang tidak ada waktu lagi hanya untuk merasa santai. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan semua agar sang ibu bisa mendapatkan kembali kebahagiaannya.
Semua kata sudah dirangkai apik di kepalanya, ia akan berbicara dengan cepat lalu bergegas pergi karena tidak ingin terlalu lama menghabiskan waktu dengan sang ayah yang ia benci. Kalimatnya bahkan sudah diujung lidah, siap terlontar begitu melihat sosok yang ia cari. Namun, semua rencana dan kata-kata yang sudah akan terucap itu ia telan bulat-bulat saat melihat tubuh sang ayah terbaring lemas di atas ranjang. Tatapan itu sempat melembut saat menyadari nafas putus-putus dari sosok yang biasanya terlihat kuat itu.
“Pangeran, anda bisa kembali saat yang mulia sudah bangun nanti.”
Sejujurnya Yushi sempat ingin menuruti permintaan sang penasehat kerajaan, namun entah bagaimana ia malah berakhir menarik paksa tangan sang ayah hingga pemuda itu terbangun dengan terkejut.
“Nero,” Pekik Jeno masih dengan mata yang setengah terbuka.
“Aku ingin bicara,” ucap Yushi tanpa mau menunggu sang ayah meredakan keterkejutannya.
Hening beberapa saat sampai terdengar suara helaan nafas dari si yang lebih tua. “Baiklah, duduklah di sofa. Father akan cuci muka dulu.” ucapan Jeno disetujui Yushi, pemuda itu bergegas pergi ke area yang dimaksud Jeno.
“Yang mulia, anda harus beristirahat.” Kun menimpali dengan panik.
“Aku baik-baik saja, kau bisa meninggalkan kami berdua.” ucap Jeno mutlak sembari berusaha bangkit dari tempat tidur.
—
“Ada apa, nak?” tanya Jeno sesaat setelah mendudukan dirinya di dekat Yushi.
“Aku akan membantumu menyelesaikan seluruh masalah mother. Aku ingin masalah itu cepat selesai.”
Jeno tersenyum hangat, diam-diam bersyukur karena sang anak sangat menyayangi ibunya. Namun senyum itu tak bertahan lama karena ucapan sang anak yang ia dengar selanjutnya. “Berjanjilah, setelah semua masalah mother selesai, kau tidak akan mengganggunya lagi. Aku ingin mother menikah dengan paman Haechan dan menjalani hidup bahagia di dunia ini.”
Jeno terdiam, tercenung dengan ungkapan sang anak. “Nero, father ingin membawa mother ‘pulang’.” suara itu begitu lirih seperti ada keraguan dalam setiap katanya.
“Apakah kau bisa menjamin mother akan bahagia saat kembali? Apakah kau sudah memastikan semua orang akan menerima mother dengan baik?”
Hening, tak ada jawaban atas pertanyaan Yushi. Semuanya mendadak menjadi abu-abu. Debar yang menggebu-gebu untuk membawa sang pujaan hati kembali selama ratusan tahun tiba-tiba memudar.
“Father sangat menyayangi ibumu.” hanya bisikan lirih itu yang mampu keluar dari bibir tipis Jeno.
“Aku harap kau mau melepaskannya. Ini semua demi kebahagiaan mother.”
Suasana tiba-tiba menjadi pelik. Kedua pemuda yang sebenarnya mirip itu sama-sama tenggelam dalam pikiran yang rumit. Sampai sebuah keputusan sulit akhirnya terucap dari bibir milik yang lebih tua. “Baiklah, father akan melepaskan ibumu setelah masalah ini berakhir.”
Ucapan itu tidak tegas, namun juga tidak dikatakan dengan keraguan. Suaranya hanya sedikit bergetar pertanda jika satu kalimat itu mungkin bisa saja membunuh jiwanya.
“Terima Kasih.” Ucap Yushi dengan tulus. Akhirnya setelah sekian lama menekan sang ayah untuk pergi dari hidup ibunya, ia berhasil. Tapi entahlah, kenapa rasanya tidak membahagiakan sama sekali? Kenapa rasanya sangat berat apalagi saat melihat sendu yang terpancar dari mata elang sang ayah.
---
"Kau baik-baik saja, sweetheart?"
Yushi tersenyum kecil menikmati usapan lembut sang ibu. Sudah beberapa hari berlalu tapi perasaannya tak kunjung membaik entah karena apa.
"Aku baik-baik saja, mother." Senyum tipis tersemat di bibir si yang lebih muda. Senyum yang terlihat tak sampai mata.
"Baiklah, kau bisa berbicara dengan mother jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran."
Yushi mengangguk patuh, walaupun sebenarnya ia juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya sendiri. Apa yang mengganggu pikirannya selama beberapa hari ini hingga membuat semua yang ia kerjakan terasa salah.
"Habiskan makananmu, sweetheart." Si yang lebih muda mengangguk singkat sebelum kembali berkutat dengan makanannya.
"Selamat pagi." Sebuah suara husky tiba-tiba terdengar saat makanan di piring kedua pasangan ibu dan anak itu hampir kandas.
Senyum cerah terpatri di wajah sang ibu, ia bahkan langsung bangkit untuk menyambut kedatangan sosok gagah yang sejak tadi memamerkan senyum bak bulan sabitnya.
"Kau sudah makan?"
Jeno yang baru saja datang menggeleng, kemudian mencium lembut pucuk kepala sang istri begitu Jaemin tiba di hadapannya. "I miss you.." Ucapnya dengan lirih.
"Kau sendiri yang tidak mengunjungiku beberapa hari."
"Maaf, aku memiliki beberapa pekerjaan."
Jaemin mengerucutkan bibirnya kemudian tubuhnya dibawa masuk ke dalam pelukan Jeno yang terasa hangat. "Aku juga merindukanmu." Lirihnya sembari menghirup aroma yang selalu ia sukai.
Jeno hanya membalas dengan kekehan kecil, tangannya tak tinggal diam, mengusap lembut surai sang terkasih yang mengeluarkan aroma manis.
Semua yang dilakukan pasangan itu tak luput dari pandangan sang anak. Pandangan yang entah kenapa menyimpan begitu banyak kebimbangan dan kesedihan. Sampai akhirnya, satu kalimat singgah di kepalanya. Apakah ia sudah melakukan hal yang benar?
---
TBC
Double update yaaa mumpung bisa nulis huhuhuhu.. semoga book ini cepet selesai..
Yuk vote and comment juseyoong 💚
KAMU SEDANG MEMBACA
Glimpse [Nomin]
FanfictionNa Jaemin, seorang aktor dengan banyak skandal dibuat terkejut dengan kedatangan sosok Lee Jeno yang tiba-tiba memanggilnya 'ratuku' dan bersikukuh membawanya 'pulang'. Entah 'pulang' kemana yang Jeno maksud karena Jaemin tak merasa mempunyai rumah.
![Glimpse [Nomin]](https://img.wattpad.com/cover/353863591-64-k628412.jpg)