#31

342 46 4
                                        

Jaemin tak berhenti menangis di dalam ruangan Renjun. Pemuda itu benar-benar menumpahkan seluruh air matanya begitu melihat sang sahabat sekaligus manager telah bangun dari tidur panjang nya.

"Kamar ini akan banjir jika kau terus menangis." Ucap Haechan setelah tak berhasil membuat Jaemin tenang. Sedangkan Renjun hanya bisa menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya.

"Maaf, semua salahku. Jika saja aku tidak melibatkan mu." Ucap Jaemin entah sudah keberapa kalinya. Selain tidak berhenti menangis, ia juga tidak berhenti mengucapkan kata maaf.

"Sudahlah. Aku sudah baik-baik saja." Dan Renjun juga tidak lelah meyakinkan sang sahabat jika dia baik-baik saja.

Akhirnya tangis Jaemin reda setelah Haechan mulai melontarkan beberapa lelucon konyol khas nya. Senyum si manis akhirnya merekah indah, diiringi tawa kecil karena tak tahan melihat tingkah sang sahabat.

"Akhirnya dia berhenti menangis." Ucap Haechan yang langsung dihadiahi pukulan lumayan kencang di bahunya.

Renjun yang melihat hal itu hanya bisa terkekeh kecil. "Apa kalian tidak ingin menikah? Kalian terlihat sangat serasi." Komentar Renjun.

"Benar kan? Aku juga setuju dengan ucapan mu. Tapi orang ini selalu menolak lamaranku." Keluh Haechan dengan suara yang dibuat dramatis.

Jaemin merotasikan matanya. "Aku mulai curiga kau benar-benar mencintaiku." Ucapnya.

"Memangnya kenapa? Apakah tidak boleh?"

Jaemin memincingkan matanya, sedangkan Renjun sudah berdeham kecil saat melihat kedua temannya saling menatap dengan sinis.

"Jangan main-main, Haechan ah. Kau memiliki Mark dan sekarang aku memiliki Jeno."

Ucapan Jaemin mengundang kerutan tipis di dahi Renjun. "Kau memiliki siapa?"

Jaemin menelan ludah saat sadar dengan ucapannya. Pemuda itu menatap Renjun yang sudah memasang raut ingin tahu.

"Jangan bilang Jeno yang itu? Kau mempunyai hubungan dengannya?"

Suara ketukan pintu terdengar sebelum Jaemin sempat menjawab pertanyaan Renjun. Haechan menjadi orang pertama yang langsung bergerak untuk membuka pintu. Beberapa saat kemudian, Haechan kembali dengan Yushi yang mengekor di belakangnya.

"Seseorang datang menjemputmu, Jaemin ah."

Jaemin tersenyum kecil. Pemuda itu buru-buru mengemasi barang-barangnya. Berpamitan kepana Renjun yang sepertinya masih enggan ditinggal karena belum mendapat jawaban atas hubungan Jaemin dan Jeno. "Aku akan menceritakan nya nanti." Ucap Jaemin pada akhirnya.

"Ya, akan ku tagih nanti."

---

"Apakah kau baik-baik saja, mother?" Tanya Nero sesaat setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Pemuda itu nampak khawatir dengan keadaan sang ibu yang sedikit berantakan, wajahnya terlihat merah dan sembab.

Jaemin tidak langsung menjawab, ia bawa tubuh sang anak ke dalam dekapannya yang langsung dibalas oleh si yang lebih muda. "Mother baik-baik saja," ucapnya sembari menikmati pelukan hangat milik sang anak yang entah sejak kapan terasa begitu nyaman.

Dulu, Yushi tidak sebesar ini. Tubuhnya lebih kecil. Jadi tubuh itu akan selalu tenggelam setiap Jaemin memeluknya. Namun sekarang, tubuh itu bahkan sudah bisa melingkupi seluruh tubuhnya. Pelukannya terasa sangat hangat, sama persis seperti pelukan Jeno. Keduanya bahkan memiliki aroma yang sama. Aroma yang tak akan pernah membuat Jaemin bosan.

"Mother.." Yushi berkata lirih.

"Hmm?"

"Apakah kau tidak mau mempertimbangkan ajakan menikah paman Haechan?"

Jaemin memicingkan sebelah alisnya, tangannya reflek melepaskan pelukan mereka.

"Aku yakin dia bisa menjaga mu dengan baik."

Yushi terlihat khawatir saat mengatakan hal itu.

"Sweetheart, apakah kau benar-benar membenci father?"

Si yang lebih muda tidak menjawab namun dari rautnya terpancar kemarahan yang siapapun pasti tau betapa bencinya ia pada sosok yang sedang sang ibu bicarakan.

"Nero," panggil Jaemin lembut. "Father sangat mencintaimu dan mother bahkan melebihi nyawanya sendiri. Semuanya sangat rumit saat itu hingga father harus mengorbankan banyak hal dan memilih jalan yang sulit."

Pemuda itu tak bergeming. Wajahnya tak melunak sama sekali saat sang ibu berusaha memberi pengertian tentang apa yang mereka alami di masa lalu.

"Percayalah pada mother, ayahmu adalah sosok yang paling mencintaimu, mencintai kita, baik dulu maupun sekarang."

"Kau banyak menderita karenanya, mother." Lirih Yushi.

Jaemin menggeleng, "Tidak, dialah yang banyak menderita karena mother. Nero, mother yang harusnya menanggung semua kebencian mu."

Si yang lebih muda tak melunak sama sekali. Setetes air mata jatuh dari mata rusanya tapi rautnya tak berubah, masih keras dan penuh kebencian. Ia masih ingat bagaimana sang ayah mengenalkannya sebagai anak orang lain, bagaimana sang ayah menyembunyikan sang ibu hingga ia hanya bisa memeluk tubuh penuh kasih itu sesaat sebelum jiwanya pergi.
Sosok ayah yang ada dalam ingatannya adalah sosok pengecut yang menyembunyikan sang ibu agar kekuasaannya tetap kokoh. Agar namanya tetap baik di mata semua orang.

---

Di sisi lain Jeno tengah memijat pelipisanya. Sesungguhnya kasus yang dialami Jaemin sangatlah pelik. Agensi memang sudah berhasil diakuisisi namun untuk memberikannya lagi pada Jaemin membutuhkan proses yang lumayan rumit dan memakan waktu karena Jeno ingin mengembalikan perusahaan itu dalam keadaan 'bersih'.

Proses hukum paman Jaemin pun tak mudah.  Label bajingan memang sangat pantas diberikan pada sosok itu, bahkan mungkin kata bajingan masih terlalu lembut untuk seseorang yang menghalalkan segala cara demi kepuasan pribadi. Satu per satu fakta yang terungkap berhasil membuat kepala Jeno geleng-geleng. Mungkin iblis akan lebih cocok menjadi panggilan sosok itu.

"Bagaimana kelanjutan kasusnya?"

"Masih alot, tapi kita sudah memegang banyak bukti untuk menjebloskan paman tuan Na tanpa kesempatan banding."

Jeno mengangguk sembari membaca beberapa dokumen mengenai orang-orang bermasalah yang masih memiliki hubungan dengan agensi milik Jaemin. Pemuda itu membaca dengan teliti sembari memikirkan satu persatu cara untuk mendepak mereka semua dari kursi pemegang saham.

Beberapa kali kepala Jeno menggeleng, tak habis pikir dengan seluruh data yang dibaca nya. Agensi itu benar-benar bobrok, rusak, bahkan hampir luluh lantah. Pantas saja Jaemin selalu dipaksa menghasilkan uang selama ini. Jeno marah, benar-benar marah karena selama ini sang terkasih dijadikan alat untuk menutupi seluruh kerugian dan memenuhi dompet orang-orang biadap yang sialnya adalah paman dan orang-orang yang dulu begitu dipercaya oleh orang tuanya sendiri.

Ditengah amarahnya yang membara, Jeno merasakan sesuatu mengalir di hidungnya.
Chenle menjadi orang yang pertama kali memekik panik. Sedangkan sosok yang menjadi alasan panik sang manager diam tak peduli.

"Kau baik-baik saja, hyung?"

Jeno mengangguk. "Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir."

"Tapi kau mimisan."

Senyum kecil mengembang di bibir Jeno. Jika diperhatikan bibir itu juga nampak pucat. "Waktuku memang hampir habis." Ucap Jeno secara tiba-tiba.

"Habis? Apa maksudmu?"

Tak ada jawaban, si pemuda April hanya tersenyum penuh arti.

---

TBC

Hehehe maaf lama.. yuk komen gimana perasaan kalian baca book ini...

Komen yang banyak yaaa biar aku semangat..

See u next update.. anyeoonggg...

Glimpse [Nomin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang