Yushi mendengus berkali-kali saat melihat sosok sang ayah yang sudah duduk mannis di meja makan bersama sang ibu.
"Selamat pagi, sayang." Sapa sang ibu yang langsung membuat senyum di bibir Yushi merekah sempurna.
"Pagi, Nero." kali ini giliran sang ayah yang menyapa namun hanya dijawab seadanya.
Pagi itu sarapan di kediaman Jaemin menjadi lebih hangat berkat kehadiran Jeno dan Yushi. Senyum Jaemin tak luntur barang sedikitpun dari bibirnya. Rasa kosong dan sepi yang telah lama bersarang di hatinya, beberapa hari ini hilang begitu saja, digantikan rasa hangat yang selalu membuncah di dada karena kehadiran dua sosok yang mungkin sudah sangat dirindukan tanpa sadar.
Melihat senyum sang ibu mmebuat Yushi diam-diam menghela nafas. senyum itu tampak begitu indah saat ketiganya berkumpul bersama. Sang ayah adalah salah satu penyebab senyum itu terus terukir di wajah cantik sang ibu, dan Yushi tidak mungkin merusak senyum bak bunga di musim semi itu. Jadi, setelah selesai sarapan, ia menarik lengan sang ayah untuk diajak bicara.
"Ada apa, Nero?" Tanya Jeno kebingungan. Ia sedang menikmati kopi hangat saat tiba-tiba lengannya ditarik oleh sang anak.
"Bukankah aku sudah bilang untuk menjauhi mother?" Ucap Yushi dengan tajam. Sorot matanya memancarkan kebencian yang teramat dalam. Senyum sang pemuda yang sejak tadi merekah di hadapan sang ibu, seketika hilang saat berhadapan dengan sang ayah.
Jeno menghela nafas. Ia tahu, tidak akan mudah membuat hati yushi luluh. "Father sedang membantu Mother mengurus beberapa hal." Jawab Jeno pada akhirnya tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.
Dan sepertinya, Yushi sudah mengerti kemana arah pembicaraan sang ayah. Pemuda itu mengangguk. "Ku beri waktu tiga bulan. Setelah itu jangan mengganggu kami lagi."
Jeno sudah akan menjawab, namun sang anak lebih dulu berjalan pergi. Lagi-lagi pria berumur ratusan tahun itu menghela nafas. Hati Yushi memang lembut, namun, ia akan menjadi sekeras baja jika menyangkut orang-orang yang dicintainya.
"Dia sangat mirip denganmu."
Jeno terkejut bukan main saat mendengar suara sang istri. Pria itu menoleh, mendapati Jaemin yang sudah berdiri, bersedekap dada di ambang pintu.
"Kau mendengarnya?"
Si manis mengangguk sekilas sebelum berjalan maju untuk memeluk sang suami. Tangan halusnya membelai suarai Jeno dengan lembut, memberi ketenangan dan ingin meyakinkan jika semua akan baik-baik saja. "Apa kita harus memceritakan segalanya?"
Jeno membalas pelukan Jaemin dengan sama lembutnya. Wajahnya tenggelam di ceruk leher sang istri, kemudian ia hirup aroma memabukkan milik sang istri dengan rakus bak tak ada hari lain. "Jangan, aku tidak mau dia membenci dirinya sendiri."
Jaemin tersenyum tulus. Jeno memang akan selalu menyayangi sang anak tanpa batas. Pria itu tak masalah saat dijadikan kambing hitam asalakan sang anak hidup dengan damai tampa beban di hati. Sudah cukup rasa sakit yang dirasakan Yushi. Kali ini, Jeno ingin sang anak hidup dengan lebih baik tanpa rasa sakit.
"Baiklah, aku akan mencoba berbicara dengannya nanti."
Jeno melepas pelukannya, "Tidak perlu, aku akan mengurusnya sendiri."
Jaemin mengangguk kecil.
"Apa rencanamu hari ini?" Tanya Jeno sambil kembali membawa sang terkasih kembali ke dalam dekapan hangatnya.
"Haechan berkata jika Renjun sudah sadar. Aku ingin mengunjunginya."
Jeno mengangguk, "Baiklah, aku akan menemui Jaehyun hyung untuk mengurus akuisisi agensimu."
Tak ada jawaban dari Jaemin, pria itu hanya dia dengan banyak pikiran di kepalanya. "Nael," panggil si cantik setelah beberapa saat.
"Hmm?"
"Apakah aku harus melepas agensi itu saja? rasanya sangat melelahkan."
Usapan lembut diberikan oleh Jeno. "Agensi itu adalah milik orang tua mu. Kau yakin akan melepaskannya?"
Tidak ada jawaban.
"Aku akan mengurus segala hal. Kau hanya perlu duduk manis dan bersantai dengan Nero. Aku akan merebut kembali semua hal yang seharusnya menjadi milikmu."
---
TBC
segini dulu yaa guys. maaf banget updatenya lama. aku akan tetap selesaikan book ini tapi nggak janji akan cepat.
vote and comment juseyonggg.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Glimpse [Nomin]
FanfictionNa Jaemin, seorang aktor dengan banyak skandal dibuat terkejut dengan kedatangan sosok Lee Jeno yang tiba-tiba memanggilnya 'ratuku' dan bersikukuh membawanya 'pulang'. Entah 'pulang' kemana yang Jeno maksud karena Jaemin tak merasa mempunyai rumah.
![Glimpse [Nomin]](https://img.wattpad.com/cover/353863591-64-k628412.jpg)