#28

1.6K 137 9
                                        

Setelah cukup lama berbincang akhirnya Jaemin meminta Haechan untuk mengantarkan kembali ke kamar. Awalnya Haechan menyuruh Jaemin untuk istirahat saja di kamar nya. Namun si manis menolak, ingin kembali ke kamarnya sendiri untuk menemui Yushi. Entah kenapa, padahal sejak tadi Jaemin sudah memeluk sang anak namun rasanya masih kurang. Kerinduan di hatinya masih belum juga terobati. Senyum teduh penuh kerinduan milik Jaemin lah yang akhirnya membuat Haechan mau mengalah dan berakhir menuntun Jaemin kembali ke kamarnya sendiri.

Begitu membuka pintu, suasana hening menyambut Jaemin dan dan Haechan. Si manis tersenyum teduh, melihat tubuh sang anak yang masih terbaring dengan nyaman di atas ranjang. Langkahnya menjadi lebih semangat, ingin cepat-cepat membelai wajah manis sang anak.

Namun senyum yang sejak tadi menghiasi wajah Jaemin tidak bertahan lama. Senyum itu sirna, menjadi raut penuh cemas saat melihat begitu banyak darah yang mengotori sebagian wajah sang anak.

"Nero," lirih Jaemin sebelum berlari mendekat. "Tidak, tidak.. Nero apa yang terjadi? Nero." Dibawanya tubuh Yushi pada rengkuhan. Tepukan lembut diberikan guna membangunkan sang anak yang nampaknya sia-sia.

"Nero, Nero.." berkali-kali nama itu dirapalkan. Air mata sudah membasahi wajahnya bahkan sampai mengalir ke wajah damai yang tengah tertidur pulas dalam rengkuhannya.

"Jaemin ah." Suara Haechan terdengar. Pemuda itu juga terlihat kebingungan sekaligus khawatir.

"Haechan, Nero.. bagaimana ini?" Lirih Jaemin di tengah tangisnya yang semakin menjadi.

"Ayo, kita bawa Yushi ke rumah sakit."

Haechan sudah akan mengambil alih tubuh Yushi namun tiba-tiba Jaemin menyekal tangannya. "Tolong panggilkan Jeno."

Sebelah mata si pemuda tan memincing, "Apa?" Tanyanya, memastikan jika ia tidak salah dengar.

"Tolong panggilkan Jeno. Cepat Haechan, tolong.. tolong."

"Mengapa harus memanggil orang itu? Ayo kita harus cepat membawa Yushi ke rumah sakit."

Jaemin menggeleng ribut. "Tolong, aku mohon. Tolong panggilkan Jeno. Hanya dia yang bisa membantu Nero."

Mata penuh permohonan itu terbingkai jelas di mata Haechan. Selama mengenal Jaemin, baru kali ini ia melihat ekspresi putus asa itu. Selama ini Jaemin selalu terlihat kuat. Selalu berusaha menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Baru kali ini Haechan menyaksikan sendiri raut penuh permohonan itu.

"Tolong, Haechan ah."

Pada akhirnya Haechan hanya bisa menuruti kemauan si manis.

---

Jeno datang dalam satu jam. Pemuda itu tidak datang sendiri melain bersama sosok lain yang Haechan tau sebagai manager Jeno. Sang aktor terlihat sangat panik begitu Haechan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Benar, Jeno datang tanpa tahu apapun. Haechan hanya berkata jika Jaemin membutuhkannya sekarang.

Ketiga pemuda itu melangkah dengan cepat menuju kamar Jaemin. Jeno berjalan paling depan, langkahnya sangat lebar. Rautnya penuh dengan kekhawatiran namun juga masih ada sedikit wibawa yang terpancar. Entah kenapa, Haechan merasa sosok Jeno terlihat begitu asing. Terlihat tegas dan sangat berwibawa. Haechan yakin siapapun akan tertunduk patuh saat melihat aura yang dipancarkan Jeno saat ini.

Tangis Jaemin terdengar begitu pintu kamar dibuka. Jeno melangkah semakin cepat, penuh kekhawatiran saat melihat dua orang kesayangan nya sudah ada di depan mata.

"Jaemin ssi." Panggil Jeno setelah tiba di dekat Jaemin.

Si manis mendongak, menatap si yang lebih tua dengan mata basahnya. "Tolong, tolong Nael, tolong anak kita." Lirihnya penuh permohonan. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, dia tiba-tiba seperti ini. Tolong, tolong anak ku."

Jeno membawa tubuhnya bersimpuh di sisi ranjang. Kemudian, ia genggam dengan lembut tangan sang anak yang terasa dingin. Sebuah mantra dirapalkan, mantra yang sudah ia pelajari sedemikian rupa untuk sang anak yang memiliki tubuh lemah setelah melakukan sihir terlarang.

Cahaya kehijauan muncul dari tautan tangan Jeno dan Yushi. Cahaya itu begitu terang hingga menerangi seluruh tubuh sang pangeran. Semua orang yang berada di dalam kamar itu nampak terpana, begitu pula dengan Haechan yang akhirnya mempercayai apa yang sudah Jaemin katakan.

Beberapa menit kemudian, Cahaya itu memudar seiring dengan mata Jeno yang perlahan terbuka. Manik semerah darah bersibobrok dengan milik Jaemin. Sebuah senyum kecil diberikan oleh si yang lebih tua untuk memberi tahu jika sihir pemyembuhan nya telah berhasil mengobati sang anak.

"Apakah Nero baik-baik saja?" Ternyata Jaemin tidak puas dengan senyuman kecil itu. Ia benar-benar ingin memastikan jika sang anak telah baik-baik saja.

"Dia akan baik-baik saja. Beberapa jam lagi dia pasti akan bangun."

Tangis Jaemin kembali pecah, kali ini bukan tangis sedih melainkan tangis lega. Rasa takut yang sejak tadi menggerogoti hatinya perlahan memudar.

Jeno yang melihat itu lekas bangkit dari duduknya, kemudian secara lembut membawa si manis ke dalam dekap hangat yang dulunya selalu menjadi rutinitas mereka.

"Nero akan baik-baik saja." Jeno berucap lirih, tangannya mengusap punggung Jaemin dengan telaten. "Nero akan baik-baik saja. Anak kita sangat kuat."

---

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Nero?" Tanya Jaemin setelah berhenti menangis dan merasa tenang. Saat ini, ia dan Jeno tengah berada di ruang keluarga.

Jeno nampak menimbang-nimbang. Apa yang terjadi pada Nero mungkin akan membuat Jaemin merasa bersalah. Ia butuh persetujuan dari sang anak untuk hal ini. Jadi, alih-alih menjawab, Jeno malah menanyakan hal lain. "Kau baik-baik saja?"

Jaemin tidak langsung menjawab pertanyaan itu karena ia masih belum tau, mengarah kemana pertanyaan yang dilontarkan oleh Jeno tersebut. Namun, saat si yang lebih tua melirik sedikit pada lehernya, Jaemin langsung mengerti. "Aku baik-baik saja."

Setelahnya tidak ada lagi perbincangan diantara mereka. Keduanya nampak canggung dan tidak tahu harus melakukan apa. Padahal, siapapun yang melihat mereka pasti langsung mengerti seberapa besar kerinduan yang terpendam dan menunggu untuk dituntaskan.

"Nael," suara Jaemin akhirnya memecahkan keheningan. Menyebut nama yang sudah sangat lama hilang dalam ingatannya. Rasanya sedikit asing namun ada rasa membuncah dalam dada yang tak bisa dijelaskan dalam kata-kata.

Sang pemilik nama pun terlihat sedikit terkejut saat mendengar suara halus itu menyebut namanya. Suara yang sudah ia damba kehadirannya sejak ratusan tahun.

"Bagaimana kabar mu? Apa semua baik-baik saja?"

Pertanyaan berikutnya yang datang dari sang pujaan hati membuat senyum Jeno merekah lebar, tak ditahan lagi seperti sebelumnya. Akhirnya, setelah pencarian begitu lama, ia bisa menemukan kembali sang pujaan hati. Maka dari itu, Jeno ingin mengutarakan semuanya, ingin mengeluh jika kehidupannya tak pernah lagi berwarna saat Jaemin pergi.

"Berat, semuanya terasa sangat berat begitu kau pergi." Pada akhirnya, hanya sepenggal kata itu yang keluar dari ranum Jeno. Namun, kepahitan yang memancar di rautnya sudah mengatakan segalanya.

"Maafkan aku, Nael. Aku selalu menyulitkanmu."

Kalimat itu Sekonyong-konyong keluar dari bibir Jaemin, membuat Jeno segera berlutut di hadapan si manis. "Jangan berkata seperti itu. Aku tidak mengizinkan mu mengatakan hal itu."

Suara tangis si yang lebih muda kembali terdengar. Tubuh si manis terlihat bergetar membuat Jeno buru-buru meraih kedua tangan Jaemin untuk ia genggam.

"Maaf, aku membuat semuanya berantakan. Aku membuat hidupmu yang indah berantakan, Nael."

"Tidak, tidak. Semua bukan salah mu, love. Ku mohon jangan bicara seperti itu."

Jeno meletakkan kepalanya di pangkuan Jaemin. Berkali-kali ia mengatakan hal yang sama. Meyakinkan si manis jika apapun yang terjadi di masa lalu bukanlah salahnya.

"Apa yang kau lakukan pada mother?"

---

TBC

Habis ini kita selesain masalah Jaemin satu per satu yaa.. baru kita pertimbangkan apakah JN JM berlayar... 🤣. Susah guys kayaknya terhalang restu anak 🤣

Vote and comment juseyoong 💚

Glimpse [Nomin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang