Jaemin terbangun dengan pening luar biasa di kepalanya. Matanya mengerjab beberapa kali, menyesuaikan bias cahaya yang menerpa wajah elok nya, sebelum benar-benar terbuka lebar. Bola matanya tak bergerak sama sekali, hanya menatap kosong pada langit-langit kamar yang sangat ia kenali.
Secara perlahan, tangannya terangkat, berusaha membasuh air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi wajahnya. Sekali ia usap air mata itu akan kembali mengalir, lagi dan lagi bak sungai yang tak ada habisnya. Namun anehnya, tak ada isak yang terdengar.
Kemudian, jemari Jaemin bergerak ke area tengkuknya, meraba bagian itu dengan perlahan hingga ia bisa menemukan sebuah permukaan tak rata yang sepertinya sudah mulai memudar. Dirabanya permukaan itu, luka itu, dengan sepenuh hati. Semakin ia memyentuhnya maka semakin besar rindu yang menganga jauh di dalam hatinya.
Dan akhirnya isak itu terdengar juga. Awalnya terdengar lirih namun semakin lama, hanya raungan yang terdengar. Jaemin menangis tersedu-sedu di tengah tubuhnya yang tak berdaya.
"Hyung, hyung, kau baik-baik saja?" Sebuah suara terdengar disertai langkah tergopoh-gopoh seseorang yang berjalan semakin mendekat. Dan saat sang pemilik suara telah tertangkap dalam pandangan Jaemin, tangis si cantik semakin menjadi.
Yushi yang melihat itu langsung kelabakan. Ia bawa tubuhnya bersimpuh di sisi ranjang. Kemudian mencoba menggenggam tangan Jaemin yang sejak tadi terkepal erat di kedua sisi tubuhnya. Tanpa di duga, saat Yushi berhasil meraih tangan Jaemin, si cantik malah menarik tangan Yushi hingga tubuhnya tersungkur di atas tubuh Jaemin. Si yang lebih muda terpaku sejenak apalagi saat merasakan kedua tangan Jaemin yang melingkar erat di punggung nya.
"Hyung, ada apa dengan mu?" Lirih Yushi yang mulai frustasi karena tak tega melihat sang aktor menangis.
Bukannya menjawab, Jaemin malah mengencangkan pelukannya di tubuh Yushi. Ia tenggelamkan wajah penuh air matanya pada ceruk leher Yushi.
"Nero," suara lirih ditengah isak itu berhasil membuat tubuh Yushi semakin menegang. Setetes air mata langsung terjatuh dari pelupuk mata nya. Apakah ia sedang bermimpi? Ataukah ia salah dengar? Namun suara Jaemin kembali terdengar, kali ini lebih jelas. "Nero, anakku."
Tangis Yushi pecah. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa mendengar suara penuh kasih yang memanggil namanya itu. Akhirnya, setelah ribuan tahun.
"Mother," bisik Yushi ditengah tangis nya.
Kedua ibu dan anak itu berakhir saling memeluk di tengah tangis yang tak kunjung reda. Rasa lega dan rindu bercampur menjadi satu. Pelukan mereka mengerat, seakan sedang mengais seluruh rindu yang telah membuat keduanya tersiksa ribuan tahun lalu.
Senyum Jaemin tak luntur saat melihat Yushi yang tertidur pulas di atas paha nya. Entahlah, rasanya sangat lega saat mengingat bahwa dirinya tidak sendirian lagi di bumi yang selalu jahat ini. Namun juga ada rasa sedih dan sesal karena ternyata selama ini ia dipermainkan takdir sedemikian rupa hingga harus mengalami banyak sekali rasa sakit, entah saat menjadi Zenith atau menjadi Jaemin.
Suara pintu terdengar, membuat Jaemin langsung menoleh. Sosok Haechan masuk dengan raut panik di wajahnya.
"Kau baik-baik saja? Ada yang sakit?" Tanya Haechan tanpa jeda.
"Aku baik-baik saja." Jaemin memberi isyarat Haechan untuk mendekat. Tangannya merentang, meminta pelukan hangat dari sang sahabat.
Haechan melangkah lebih cepat, kemudian meraih tubuh Jaemin untuk ia dekap dengan erat. Beberapa hari ini benar-benar berhasil membuat Haechan frustasi karena keadaan Jaemin dan Renjun. Terlebih Jaemin, sahabat yang sangat ia sayangi itu tiba-tiba tak sadarkan diri berhari-hari.
"Aku sudah berkali-kali mengatakan jika kau bisa bergantung padaku. Kau bisa menceritakan seluruh keluh kesah yang kau rasakan. Kau juga bisa meminta apapun padaku. Kau ingat kan?"
Jaemin mengangguk, tak berusaha menyela perkataan Haechan.
"Tapi kenapa jadi seperti ini? Kenapa kau menyimpan semuanya sendiri? Kau tidak percaya pada ku Jaemin ah?"
Jaemin menggeleng kecil, kemudian memberi isyarat pada Haechan untuk melepaskan pelukannya. "Ayo bicara di luar, Yushi sedang tidur."
Ucapan Jaemin membuat Haechan tersadar jika ada sosok lain yang tengah tertidur dengan pulas di atas paha Jaemin. Si pemuda berkulit tan langsung menatap si manis dengan penuh tanya.
"Aku akan menjelaskannya di luar, ayo bantu aku."
Haechan akhirnya pasrah, menggendong tubuh Jaemin setelah si manis memindahkan kepala Yushi dan memastikan pemuda itu tidur dengan nyenyak.
"Kau menjadi sangat ringan." Protes Haechan sesaat setelah berhasil meletakkan tubuh Jaemin di atas kasur dengan nyaman. Ya, alih-alih membawa Jaemin ke 'luar' seperti yang diucapkan si manis, Haechan malah membawa Jaemin ke kamar yang biasa ia gunakan saat menginap.
"Aku belum makan beberapa hari." Ucap si manis berniat untuk melempar candaan namun sepertinya si pemuda tan sedang tak ingin bercanda. Rautnya menjadi semakin serius lalu dengan cepat tangannya mengotak-atik ponsel yang sebelumnya ia ambil dari saku celana.
"Kau sedang apa?"
"Meminta Ahn Ahjumma menyiapkan makanan."
Jaemin menghela nafas kecil. Sungguh ia tidak lapar sama sekali padahal sudah tidak makan berhari-hari. Entahlah, Jaemin juga tidak mengerti apa yang terjadi.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" Suara Haechan kembali terdengar. Pemuda itu sudah memposisikan dirinya di sebelah Jaemin, menunggu si manis menjelaskan apa yang terjadi.
Helaan nafas terdengar dari bibir si manis sebelum ia mulai menceritakan apapun yang ia ingat dimulai dari niatnya untuk mengakhiri hidup hingga ia terbangun dangan segala ingatan masa lalu nya.
Bisa ditebak, Haechan tidak akan mudah mempercayai apa yang diceritakan Jaemin. Perpindahan jiwa, atau apapun itu, rasanya hanya akan ditemui di sebuah buku atau film. Apalagi saat Jaemin mengatakan jika Yushi adalah anaknya. Sungguh, hal itu tidak bisa masuk ke dalam akal sehat Haechan.
"Sebaiknya kau istirahat. Setelah keadaan mu membaik, aku akan memgantar mu menemui ahli." Pada akhirnya Haechan menganggap Jaemin sedang sangat terguncang hingga memiliki pikiran-pikiran aneh.
Jaemin mendengus sebal, rasanya kesal saat melihat raut Haechan yang sangat meragukan ceritanya. Tapi, di lain sisi, ia juga sadar jika apa yang ia ceritakan tidak mungkin mudah untuk dipercayai.
"Aku tidak gila." Begitulah kata si manis saat lagi-lagi Haechan membicarakan mengenai kunjungan dokter.
"Memang, tapi butuh penanganan." Jawab Haechan sembari mulai sibuk mengotak-atik ponselnya, mencoba menghubungi dokter yang ia kenal untuk membuat janji.
Melihat itu, Jaemin langsung merebut ponsel sang sahabat. Wajahnya terlihat sangat kesal namun juga menggemaskan. "Aku tidak gila!" Ucapnya sekali lagi dengan penuh penekanan.
Haechan menghela nafas, kemudian membawa tubuh Jaemin ke dalam renkuhan nya. Si manis awalnya memberontak namun akhirnya pasrah dan memilih untuk menyamankan tubuhnya di dalam dekapan sang sahabat. Rasanya nyaman melingkupi keduanya hingga suara Haechan kembali terdengar. "Dokter Kim akan datang besok pagi."
Sekonyong-konyong tangan Jaemin meraih rambut Haechan yang mulai panjang, menjambaknya tanpa belas kasih. "Sudah ku bilang aku tidak gila." Desisnya tanpa memperdulikan rintihan si pemuda tan. Biarkan saja, biarkan Jaemin menjambak rambut Haechan hingga pemuda itu gila. Jadi, besok dokter Kim akan menangani Haechan, bukan dirinya.
---
TBC
Segini dulu yaa..
Jadi kalian mau Jn Jm berlayar apa kita buat Jn berjuang dulu?
Vote and comment juseyoong 💚
KAMU SEDANG MEMBACA
Glimpse [Nomin]
FanfictionNa Jaemin, seorang aktor dengan banyak skandal dibuat terkejut dengan kedatangan sosok Lee Jeno yang tiba-tiba memanggilnya 'ratuku' dan bersikukuh membawanya 'pulang'. Entah 'pulang' kemana yang Jeno maksud karena Jaemin tak merasa mempunyai rumah.
![Glimpse [Nomin]](https://img.wattpad.com/cover/353863591-64-k628412.jpg)