#26

1.3K 91 2
                                        

Zenith terbangun dengan kepala yang amat pening. Matanya mengerjab kecil, berusaha menyesuaikan bias cahaya yang menerjang wajah ayu nya. Saat kesadarannya benar-benar pulih, tubuhnya langsung terduduk, rautnya berubah panik sembari celingikan mencari siapapun yang ada di tempatnya itu. Mata rusanya akhirnya menangkap tubuh Winwin yang tergeletak tak berdaya tak jauh dari tempatnya. 

Dengan tertatih Zenith menghampiri sang guru. "Ethan," panggilnya lirih.

"Yang mulia, anda baik-baik saja?"

Tangis Zenith pecah saat pertanyaan itu dilontarkan oleh Winwin. Bagaimana bisa sosok yang terlihat memiliki banyak luka itu malah menghawatirkan dirinya. "Kau terluka seperti ini, Ethan." Raung Zenith dengan putus asa. Pemuda itu perlahan mengangkat tangan kanannya, meletakkan nya di atas kening Winwin, mencoba untuk menyembuhkan sang Guru dengan kekuatannya. Namun tangan lemah Winwin lebih dulu mengenggam tangan Zenith, menghalangi sang pangeran melakukan pemyembuhan.

"Nael, pangeran."

Nama yang terlontar dari bibir sang guru membuat Zenith seperti kembali ditarik ke dalam kesadaran. Tubuhnya mulai membeku kemudian bergetar ketakutan saat tak menemukan keberadaan sang pujaan hati. "Di mana Nael?" Tanya lirih Zenith.

Sebenarnya ia ingat, sangat ingat dengan apa yang telah terjadi namun sang pangeran penyihir terlalu takut mengakui segalanya. Pun dalam lubuk hati, Zenith masih berharap jika sang pujaan hati sebenernya telah dibawa ke suatu tempat untuk menyembuhkan diri. Namun ucapan Winwin selanjutnya berhasil merobohkan pertahanan Zenith, memporak porandakan hatinya hingga berkeping-keping.

"Jiwa Nael, aku tidak merasakannya lagi, pangeran."

Pernyataan itu bak kalimat penegasan bahwa sang pangeran vampir telah pergi, pergi untuk selama-lamanya karena telah mempertaruhkan inti jiwanya. Nael telah pergi, pergi meninggalkan Zenith sendirian ditengah rasa kacaunya, ditengah seluruh kerusakan yang telah diperbuatnya. Nael pergi, mengorbankan dirinya agar Zenith sembuh dari kegilaannya. Tapi, apakah Zenith akan benar-benar sembuh dari kegilaan setelah ini? Sepertinya itu tak akan terjadi karena sepertinya setelah ini Zenith akan semakin menggila karena ditinggalkan sang pujaan hati.

Beberapa saat kemudian, di tengah kehancuran hatinya, Zenith seperti teringat akan sesuatu. Si cantik dengan terburu-buru memejamkan matanya, mencoba merasakan serpihan-serpihan kecil jiwa Nael yang mungkin masih tertinggal. Menit demi menit berlalu hingga senyum kecil merekah di bibir Zenith. Ia bisa merasakan serpihan jiwa Nael. Zenith kembali berkonsentrasi, dengan sisa kekuatannya mencoba mengais sisa-sisa jiwa sang pujaan hati. Setelah semua jiwa cantik itu telah terkumpul, dengan lirih Zenith merapalkan sebuah mantra. Mantra terlarang yang hanya dimiliki oleh keturunan kekaisaran dan diperkuat dengan sihir hitam dalam tubuhnya. Sebuah mantra yang mungkin saja bisa merenggut nyawanya.

"Pangeran, apa yang kau lakukan? Pangeran! Jangan menggunakan kekuatan itu!" Winwin mencoba menghentikan apapun yang sedang dilakukan sang pangeran namun semua telah terlambat. Kabut gelap sudah mengitari tubuh Zenith, terlihat sangat pekat dan mengerikan. Sesaat kemudian, kilatan berwarna biru terlihat mengitari kabut hitam tadi. Kekuatan itu terlihat sangat indah, dan sosok Zenith terlihat berkali-kali lipat lebih menawan di dalam sana.

Beberapa saat kemudian, kabut dan cahaya biru yang tadi mengelilingi Zenith perlahan menghilang seiring dengan tubuh si pangeran penyihir yang meluruh dan tergeletak lemas di atas lantai. Tak jauh dari tubuh Zenith, terlihat tubuh lain yang juga terlihat tak bergerak. Dengan susah payah Winwin menghampiri kedua tubuh itu.

"Pangeran, kau baik-baik saja?" Winwin meletakkan kelapa Zenith di atas pangkuannya.

"Ethan, tolong Nael." Lirih Zenith dengan suara terbata sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.

Glimpse [Nomin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang