#25

1.4K 102 3
                                        

Begitulah awal dari lembaran memori di antara Zenith dan Nael dibuat. Keduanya menjadi dekat semenjak Zenith memutuskan untuk tinggal di kediaman Winwin bersama sang adik yang ternyata selama ini berada di pusat kesehatan keluarga Philips.

Benih cinta tak ter elakkan. Sejak awal Zenith memang sangat menarik perhatian sang pangeran ke dua. Si cantik memang sangat mudah dicintai. Bahkan Nael yang sejak dulu suka bermain-main dengan para manusia bisa terjerat dalam pesona sang pangeran penyihir.

"Kau melamun." Teguran itu datang dari Zenith yang baru saja keluar dari toilet. Pemuda itu nampak lebih segar setelah beberapa hari tidak bisa mandi lantaran sakit yang menimpanya.

"Hanya teringat beberapa hal, sudah merasa segar?"

Zenith mengangguk kemudian membawa tubuhnya untuk bersandar di dada si yang lebih tua. Entah sejak kapan, saling bertaut menjadi kegiatan favorit mereka. Setiap memiliki kesempatan, keduanya akan secara otomatis saling mendekat, saling mendekap, mencari kehangatan di tubuh masing-masing.

"Kau wangi." Ucapan kecil Nael membuat Zenith terkekeh.

"Aku baru selesai mandi tuan vampire. Wajar jika tubuhku wangi."

Zenith bisa merasakan senyum lebar milik sang pujaan hati di lehernya.

"Aku ingin mengenalkan mu pada mama. Dia pasti akan langsung cocok dengan mu."

Pembahasan ini, entahlah. Keduanya sudah cukup lama mengenal namun pembahasan mengenai keluarga sang pangeran ke dua tak pernah membuat Zenith nyaman. Si cantik masih dibayangi ketakutan jika tidak diterima. Ia masih merasa takut jika akhirnya ia dan adiknya akan diburu karena dendam di masa lalu.

"Sayang, maaf aku tidak bermaksud membuatmu terbebani."

Kepala Zenith menggeleng kecil, berusaha membuat sang lawan bicara tidak khawatir karena sesungguhnya bukan Nael yang membuatnya merasa terbebani tapi dirinya dan pikiran buruknya sendirilah yang bermasalah di sini.

"Tidak, Nael. Aku baik-baik saja. Aku juga tidak sabar berkenalan dengan keluargamu."

Jawaban Zenith membuat si yang lebih tua langsung terduduk. Wajahnya nampak terkejut namun juga terlihat sangat cerah bak bunga-bunga yang bermekaran setelah lama kering. "Kau serius?"

Zenith mengangguk sebagai jawaban. Si cantik sudah bertekat, akan melakukan apapun untuk melawan ketakutannya demi sang pujaan hati.

Begitulah awal mula perkenalan Zenith dengan keluarga Philips. Tanpa disangka, si pangeran penyihir disambut dengan begitu baik oleh keluarga Nael. Bahkan, seperti kata sang pangeran ke dua, si cantik langsung bisa akrab dengan sang ratu.

Kehidupan Nael kembali berubah, kali ini tidak hanya tentang Nael, tapi juga seluruh keluarganya. Zenith bahagia, amat sangat bahagia karena akhirnya, setelah ratusan tahun ia kembali merasakan apa itu kehangatan keluarga.

Namun, kebahagiaan itu ternyata tidak bertahan lama. Pada suatu malam, setelah tautan hangat yang baru saja terjadi antara dirinya dan Nael, Zenith dikejutkan dengan gelombang aneh yang mengalir di dalam dirinya. Gelombang itu terasa amat panas hingga membuatnya meringkuk kesakitan. Suara erangan nya yang memilukan bahkan berhasil membuat Nael yang tengah tertidur lelap langsung terjaga dengan raut yang amat sangat panik.

"Sayang, kau baik-baik saja?"

Zenith tak mampu menjawab. Si cantik mulai merasa kehilangan kontrol tubuhnya. Seseorang seperti tengah berusaha merebut tubuhnya dan menenggelamkan nya dalam kegelapan. Dan saat kesadarannya mulai hilang, ia dengan panik berteriak, meminta Nael untuk segera pergi meninggalkannya.

Malam itu menjadi memori paling mengerikan dalam kehidupan Nael. Ia melihat sendiri bagaimana Zenith merasa kesakitan kemudian tubuhnya mulai tak terkontrol dengan bola mata yang sepenuhnya berwarna hitam. Zenith yang ceria, Zenith yang lemah lembut hilang, ditelan kekuatan hitam yang bersarang di tubuhnya.

Di depan mata kepalanya sendiri Nael melihat Zenith menghancurkan segalanya, menyakiti seluruh keluarganya. Bahkan si cantik dengan bengis membunuh Niana, adiknya sendiri. Seluruh bangsa vampire di kerajaan Philips terguncang, semua hancur berantakan berkat kekuatan hitam yang tiba-tiba menyerang.

Saat semua itu terjadi, Nael tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa membantu Winwin untuk berusaha menarik kembali kesadaran sang pangeran penyihir.

"Zenith, sayang. Sadarlah, ini aku Nael." Ucap Nael teramat pelan setelah melihat Zenith menghancurkan kerajaan dengan membabi buta.

Senyum bengis menghiasi wajah Zenith namun ada sedikit guratan sedih di dalam sorot matanya. Pemuda itu, entah kenapa seperti meminta tolong untuk diselamatkan. Meminta tolong untuk diwaraskan.

Nael berusaha mendekat, mencoba meraih tubuh sang pujaan hati untuk diselamatkan. Langkah demi langkah diambil Nael, hingga akhirnya ia bisa merengkuh tubuh kurus Zenith yang selama beberapa hari raib dalam tautannya.

Winwin yang juga mengikuti langkah Nael bergegas menyalurkan kekuatan, mencoba melawan energi bengis yang melahap sang pangeran.

Berhasil, mata Zenith yang semula berwarna hitam, berangsur kembali normal. Tubuhnya juga mulai terkulai lemas dalam dekapan sang pujaan hati.

"Nael," panggil Zenith dengan lirih.

"Ya, sayang? Kau sudah baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."

Gelengan kecil si cantik berikan. "Tidak, mereka masih berusaha menguasai tubuhku."

Air mata Nael yang sejak tadi berusaha ditahan mati-matian akhirnya menetes. "Tenang saja, granny sedang berusaha menetralkan kekuatanmu."

"Bunuh aku, Nael."

Nael menggeleng hebat. Bagaimana bisa ia membunuh cintanya? Bagaimana bisa ia membunuh separuh jiwanya? "Tidak, kau akan baik-baik saja setelah ini."

"Tidak, tolong bunuh aku sebelum semuanya hancur. Aku mohon, Nael."

Semakin Zenith memohon, semakin kuat pula depan Nael pada tubuh yang lebih muda.

"Tidak akan."

"Aku mohon, aku tidak mau mengacaukan semuanya. Aku mohon, bunuh aku, pangeran."

Nael tetap pada pendiriannya, berusaha menyembuhkan Zenith dari sihir hitam yang membelenggunya namun semuanya nampak sia-sia karena kesadaran si manis kembali direnggut kegelapan.

Semuanya menjadi lebih kacau. Para pasukan mulai berjatuhan bahkan sang pangeran pertama Philips tak terselamatkan. Kerajaan hancur, mawar merah yang mengiasi setiap sudut istana berubah menjadi hitam. Kedua orang tua Nael terlukan parah dan winwin juga tak kalah kewalahan. Hanya Nael satu-satunya yang masih bisa bertahan ditengah kekacauan yang terjadi.

Sungguh, ia tak menyalahkan sang pujaan hati. Ia tak akan menyalahkan sosok itu karena rasa cintanya yang sangat dalam. Maka dari itu, sekali lagi ia berusaha meraih Zenith. Kali ini usahanya berhasil walaupun ia harus mendapat luka yang sangat parah. Nael berhasil membawa kesadaran Zenith kembali sepenuhnya dengan bayaran yang sangat mahal.

Nael, sang pangeran kedua merelakan inti jiwanya untuk menyelamatkan sang pujaan hati. Tak masalah tubuhnya hancur berkeping-keping asalkan Zenith kembali sadar dan sehat seperti sedia kala. Diambang kematian nya, Nael tersenyum kecil. Mengucapkan rasa cintanya sekali lagi pada sang pujaan hati sebelum kegelapan membawanya pergi.

---

TBC

Satu chapter lagi buat masa lalu Zenith sama Nael yaa...

Glimpse [Nomin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang