Shaka memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Ia terdiam sejenak memandangi lingkungan yang baru baginya. Semuanya asing dan semuanya terjadi dengan cepat. Kini bisa Shaka rasakan keluarga barunya.
Saat hendak turun, Shaka bisa melihat mobil ayah tirinya terparkir disana, itu artinya mereka sudah pulang dari kantor. Ya benar kata Papa nya. Pria yang dinikahi mamanya sangat kaya, bekerja di perusahaan besar, bahkan memiliki rumah yang besar. Sayangnya, istri pertama dari ayah tirinya itu meninggal beberapa tahun lalu. Membuat rumah besar, harta dan lainnya tak ada artinya. Juga meninggalkan duka mendalam apalagi pada anak satu-satunya keluarga Januarta disana.
"Abang..." seru pemuda tampan ia memekik senang saat melihat Shaka. Shaka tersenyum memandang adik tirinya itu. Tak pernah Shaka bayangkan jika ia akan memiliki adik lain selain Agas. Ia jadi teringat kejadian di kantin. Wajah adiknya nampak sedih.
"Evan kamu udah pulang sekolah? Bareng ayah dan mama ya?"
Evan menggeleng "Aku bawa mobil sendiri bang, tapi mobilnya lagi di pakek ayah katanya mau cari barang"
Evan Adianta Januarta, anak tunggal dari ayah tirinya. Berusia satu tahun dibawah Shaka. Dia tampan dan bertubuh tinggi. Ia bersekolah di Swasta yang lumayan dekat dari rumah.
Pertama kali bertemu, Shaka kira ia akan dibenci atau diabaikan oleh Evan, tapi ternyata Evan lah yang datang pada Shaka, memperkenalkan diri dan banyak berbicara bahkan menceritakan masa kecilnya.
"Makan yuk bang, aku nungguin abang biar bisa makan bareng" Evan menarik lengan sang kakak dan membawanya ke ruang makan.
Melihat ruang makan, Shaka jadi ingat masa-masa keluarganya dulu yang selalu makan bersama. Hanya mereka berempat. Apalagi makanan yang dimakan adalah hasil masakan mamanya.
"Bang...ayo makan" Tegur Evan lagi.
"O-oh iya"
Mereka berdua makan dalam diam, Pikiran Shaka melayang pada adiknya Agas, apakah adiknya sudah makan?
"Bang...kata ayah, kalo abang mau, abang bisa pindah sekolah. Jadi kita bisa satu sekolah gitu bang"
Shaka mengernyit heran, "Hah?! Abang sisa setahun lagi, tanggung. Abang gak mau" tolak Shaka cepat. Ia tak mungkin meninggalkan sekolah lamanya. Semua mungkin bisa berubah, tapi jangan disaat ia sedang menuntut ilmu. Lagian cuma sekolah ia bisa bertemu dan melihat adiknya.
"Iya juga sih, nanti tanya ayah lagi deh"
Shaka sedikit tenang, setidaknya jika ada yang dibicarakan, bicarakan saja secara langsung didepannya. Shaka jadi menyesal tidak menyapa adiknya tadi.
"Bang...nanti mau temenin Evan gak?"
"Kemana?"
"Cari kamera, Evan masuk ekskul fotografi gitu. Baru aktif dan butuh kamera"
Shaka mengangguk menyetujui, "Yaudah, abang temenin"
🔸️🔸️🔸️
Keesokan harinya, Shaka menjalani aktivitas seperti biasa, karena ia dulu anggota osis, banyak yang mengenalinya. Ia sering disapa saat berjalan di koridor, atau saat makan di kantin. Bahkan jika ketemu di tempat umum pun akan ada yang menyapanya.
Seperti sekarang, ia yang berjanji pada Evan akan menemaninya mencari kamera tak sengaja bertemu teman sekolahnya di tempat jual kamera.
"Oy Shaka, lagi cari kamera?" Pemuda tampan itu menegur Shaka.
Shaka tersenyum, ia sangat kenal dengan temannya ini, dulu juga pernah sekelas. Namanya Satria.
"Cuma temenin adek gue" ujar Shaka sambil menunjuk Evan yang sibuk bertanya-tanya disana.
Satria mengernyit heran, "adek lo? Kok kayak bukan Agas" Pertanyaan Satria menyentil hati Shaka, ia lupa jika permasalahan keluarganya ini belum banyak yang tahu.
"E-emang bukan Agas"
Satria yang cukup paham situasi pun memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Sulit bagi Shaka menceritakan semuanya di tempat umum yang lumayan banyak orang.
"Lo kalo mau cerita, gue siap dengerin. Gue kenal lo bukan baru-baru ini Sha"
Memang benar, dulu saat Shaka dan Satria sekelas, mereka adalah teman sebangku, mereka juga bersama-sama daftar osis dan masuk divisi yang sama. Hingga di kelas 3 ini ternyata mereka pisah kelas karena penjurusan yang dilakukan oleh sekolah. Bagi Shaka, Satria itu sahabatnya.
"Bin, udah beli tripotnya? Abang mau ke lantai atas cari sepatu" Satria menginterupsi sang adik yang mengunjungi toko kamera untuk membeli tripot. Maklum, adiknya itu suka membuat konten. Adiknya Satria anggota osis juga, divisi Kominfo.
"Udah bang, eh halo bang Shaka, sorry lupa nyapa tadi buru-buru mau lihat barang"
Adik dari Satria itu namanya Bintara, adik kelas Shaka. Dan Shaka kenal Bintara sebagai anggota osis yang selalu memegang kamera ponsel kemanapun. Tidak tahu jika ia melakukan itu untuk sekedar konten.
"Yaudah Sha, gue duluan"
Selepas berpisah, Shaka mendatangi sang adik yang sudah menemukan kameranya. Lumayan bagus dan tidak terlalu besar. Karyawan toko itu pun menatanya didalam paper bag.
"Mereka tadi itu temen-temen abang di sekolah ya?" Tanya Evan.
"Kamu denger kita ngobrol?" Shaka malah balik bertanya.
Evan mengangguk, "kedengaran sampai sini, tadi juga anak yang nyari tripot bantu aku pilih kamera sih"
"Ohh hahaha, kamu ini. Abang deket banget sama mereka berdua, dulu waktu aktif di osis, tuh dua kakak adek yang selalu bantuin abang"
Evan pun ber oh ria, mengakui jika abangnya ini sangat hebat di sekolah.
.
.
.
Mobil Shaka terparkir di halaman rumah, Evan dengan bahagia menenteng paper bag berisi kamera barunya. Shaka memperhatikan itu dalam diam. Adiknya senang karena bisa membeli kamera dari uang tabungannya, Shaka kira ayahnya akan memberikan uang cuma-cuma. Shaka penasaran bagaimana orangtua Evan dulu mendidiknya.
"Ayah, ma Git. Evan dan abang udah balik nih"
Arsenio, sang kepala keluarga tersenyum mendengar suara putranya. Begitupun Githa yang datang dari arah dapur membawa masakannya.
"Udah dapat kameranya?" Tanya sang Ayah.
"Udah dong, mau Evan pake besok ke sekolah" Si Ayah mengusap lembut surai putranya itu.
"Ayo kita makan malam dulu" Ujar Githa.
"Woah mama masak apa?"
"Masak makanan kesukaan kamu dong, kesukaan abang juga." Jawab Githa sambil tersenyum hangat kearah Evan.
"Shaka, sini nak duduk disamping ayah" Panggil Arsen kepada si sulung yang dari tadi diam saja.
"Iya ayah"
Dan keluarga baru itu memulai makan malam hangat yang tenang. Senyuman tak lepas dari wajah-wajah dihadapan Shaka ini. Semuanya senang. Seharusnya Shaka juga ikut senang.
.
.
.
TBC!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother & Broken
FanficRusak? Apa itu kata yang mewakili kehidupan kita? Permasalahan orang tua, teman, dan orang lain. Haruskah kita peduli? Aku ingin tetap membuat hubungan persaudaraan kita baik meski masalah akan terus datang tanpa henti. Dan disaat itu semua telah us...
