Ayo next
.
.
.
Devan berdiam diri didalam ruang rawat, pikirannya melayang jauh saat Agas masih kecil dulu. Anaknya begitu kesakitan, Ia dan mantan istrinya tidak bisa mengambil keputusan operasi karena memang Agas masih kecil, dan sekarang ketakutan mereka terjadi lagi disaat Agas sudah dewasa. Mau tak mau, mereka setuju operasi di lakukan.
Sekarang, Devan sedang merenungkan perkataan dokter. Bahwa penyakit Agas ini muncul setelah sekian tahun lamanya. Selama itu pun Agas tidak pernah diberitahu. Devan dan Githa sepakat untuk tidak memberitahu Agas tentang penyakitnya karena Agas adalah orang yang paling gampang kepikiran. Lagian jika sudah sembuh biarlah Agas berpikir jika tubuhnya memang sehat.
Salah besar, dan kini Devan berjanji akan menjaga Agas lebih ketat. Apalagi kondisi keluarga yang seperti ini. Bisa-bisa anaknya kena serangan jantung tiap hari.
"Papa janji akan memberikan yang terbaik buat kamu nak"
"Kalau memang mama mu membuat kamu sakit hati akan perkataannya. Jauhi saja nak, masih ada papa yang sayang sama kamu"
Devan mengecup kening Agas lama, menyalurkan kasih sayang yang selama ini jarang pernah ia berikan untuk si bungsu. Sekarang Devan harus diskusi dengan Githa, dan meminta mantan istrinya itu agar lebih berhati-hati jika dihadapkan dengan Agas. Lagian, tentang penjelasan itu, cukup satu kali saja lalu Devan akan memastikan Githa tidak akan pernah bertemu dia maupun Agas lagi.
🔸️🔸️🔸️
"Shaka mau lihat Agas pa, apa susahnya sih izinin Shaka masuk" Shaka menahan emosinya saat sang papa kembali melarangnya masuk.
"Jangan sekarang, Agas butuh istirahat, kamu mau Agas kesakitan lagi?" Devan balik bertanya saat melihat Shaka datang di minggu pagi ini.
"Gak usah ngomong aneh-aneh pa, dari kemarin Shaka pengen lihat adek di larang terus, adek tuh juga butuh aku pah" Shaka malas meladeni papanya ini. Wajahnya sudah menekuk kesal.
Dari kejauhan, datanglah pria yang sangat dikenal Devan. Pria itu tersenyum ramah.
"Mas Devan, tolong izinkan Shaka masuk ya. Dia khawatir sekali sama kondisi Agas. Bagaimana jika kita berdua cari sarapan dan ngopi bareng, saya juga ingin membahas sesuatu"
Devan memandang Arsen bingung, sejak kapan ia dan Arsen terlihat akrab begini. Namun apa boleh buat, Devan rasa Agas juga butuh abangnya.
"Baiklah, jaga adekmu bang, papa tinggal sebentar"
Devan berjalan mendahului Arsen. Kepalanya pusing jika hanya memikirkan diri sendiri.
.
.
Satu cup kopi hitam tersaji dihadapan Devan dan Arsen, mereka memilih meminun kopi di kafe yang tak jauh dari rumah sakit. Setelah sekian lama, mereka berdua dipertemukan kembali.
"Apa kabar mas, sudah lama ya kita tidak bertemu" Arsen memulai pembicaraan.
"Bagi saya itu bukan masalah, selama apapun kita tidak bertemu" jawab Devan datar.
"Mas tahu? Saya hidup cukup baik dengan keberadaan Githa dan tentu saja Shaka. Mereka sangat baik untuk saya dan Evan. Sayangnya Githa masih marah pada Agas"
"Lalu kenapa? Biarkan saja mereka seperti itu. Agas sudah memilih saya. Seharusnya Githa marah pada saya, bukan pada anaknya. Setelah ini saya pastikan Agas akan menjauhi kalian semua"
Arsen menggeleng tidak setuju, "jangan mas, apa mas Devan tidak memikirkan perasaan Agas? Dia rindu ibunya, itu sebabnya kemarin terjadi suatu kejadian yang membuat Agas sakit. Maafkan saya sebelumnya, saya pernah bertemu Agas dalam keadaan sakit, dia anak yang baik dan dia sayang kalian berdua juga abangnya. Tolong jangan pisahkan mereka"
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother & Broken
FanfictionRusak? Apa itu kata yang mewakili kehidupan kita? Permasalahan orang tua, teman, dan orang lain. Haruskah kita peduli? Aku ingin tetap membuat hubungan persaudaraan kita baik meski masalah akan terus datang tanpa henti. Dan disaat itu semua telah us...
