⚠️Part ini full masa lalu⚠️
.
.
.
Flashback
Mobil Arsen membelah jalanan padat Jakarta, hingga mobil yang membawanya berhenti di sekolahan elit yang ada disana. Mereka turun dari mobil menunggu seseorang muncul dari balik pintu keluar, Githa memperhatikan wajah yang lumayan mirip Arsen itu, proporsi tubuhnya bagus. Ia juga tampan.
"Evan, sini nak, papa kenalin ke teman baik papa dulu waktu kuliah" Arsen memperkenalkan anaknya pada Githa. Bisa Arsen lihat wajah wanita itu terpesona. Bagaimana tidak, Evan ini duplikat Arsen hanya saja aura lembut ibunya sangat mendominasi.
"Anakmu tampan Sen"
Evan yang dipuji seperti itu tersipu malu, "tante juga cantik banget" balik puji Evan, Arsen dan Githa pun tertawa.
"Eum sekarang kita ketemu ibunya Evan"
Saat Arsen mengatakan itu, Githa makin sungkan, bertemu anaknya saja ia sangat terpesona, bagaimana jika bertemu istri Arsen? Apakah mereka harus berjabat tangan? Cipika cipiki? Atau hanya tersenyum saja? Mungkin istri Arsen orangnya cuek atau moodyan?
Apapun itu, Githa berusaha tenang.
Namun Githa mengernyit saat mobil Arsen memasuki arena pemakaman elit. Githa memang tidak tahu pekerjaan ibu Evan, namun pemakaman juga tak banyak kerjaan disana.
Githa mulai ngeh saat Evan membeli mawar putih di penjual bunga disana, satunya Evan berikan untuk Githa.
"Jika kamu berpikiri istriku meninggal, kamu benar Git."
Perkataan Arsen membuatnya syok. Githa tidak pernah berpikir itu, namun saat Evan membeli bunga barulah Githa mulai menebak-nebak.
Sampailah mereka pada pemakan cantik yang dipenuhi rumput hijau yang rapi, batu nisan cantik dengan tanda salib di sisi kiri kanannya.
Janne Deviana in loving memory 20 Agustus 2019
Itu 2 tahun lalu, itu artinya sudah lama sekali Arsen hidup tanpa istri, apalagi Evan yang hidup tanpa ibunya.
"Kenalin, istriku Janne. Beberapa tahun lalu ia sakit parah dan setelah melakukan pengobatan yang panjang. Ternyata, Tuhan lebih sayang padanya. Janne adalah istri dan ibu yang sangat baik. Aku sendiri sangat kagum padanya" ucap Arsen sambil menahan air matanya.
"M-maaf Arsen, aku tidak bermaksud membuat kalian sedih, maaf aku tidak tahu jika istrimu sudah meninggal" ucap Githa menyesal.
"Tidak apa-apa Git, sudah takdir juga. Oleh karena itu, aku berusaha memberikan yang terbaik untuk Evan. Meski aku tahu, ia butuh sosok ibu"
Arsen dan Githa memandang Evan yang asik menghias tanah kubur itu dengan gembira. Kini, Githa paham kenapa Arsen menjadi sosok yang tertutup. Sudah dua tahun mereka di Jakarta, namun baru hari ini mereka bertemu. Tanpa kabar apapun.
🔸️🔸️🔸️
Dalam perjalanan pulang, Githa memikirkan kejadian hari ini. Waktu terasa begitu lama seolah tahu ia ingin melepas rindu bersama masa lalunya. Namun ia malah dikejutnya dengan kehidupan malang yang dialami Arsen. Sungguh Githa tak tega.
Githa memasuki rumah yang gelap, ia tahu anak-anaknya pasti sibuk di kamar. Namun yang membuatnya kaget, presensi Raniya yang sedang duduk disamping Devan. Tanpa mengucap satu katapun, Githa masu kedalam rumah. Devan pun tak bisa berbuat banyak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother & Broken
FanfictionRusak? Apa itu kata yang mewakili kehidupan kita? Permasalahan orang tua, teman, dan orang lain. Haruskah kita peduli? Aku ingin tetap membuat hubungan persaudaraan kita baik meski masalah akan terus datang tanpa henti. Dan disaat itu semua telah us...
