Baca dulu nextnya ya 😊
.
.
.
Mata yang cukup lama terpejam itu menunjukan tanda-tanda pergerakan. Perlahan namun pasti mata indah itu terbuka. Berusaha melirik sekitar dan tebakannya benar, ia ada di rumah sakit. Suara-suara nyaring mesin pun bersahut-sahutan.
"Agas....akhirnya kamu bangun"
Mata sayunya melirik ke samping dan menemukan presensi sang abang disana. Oh ternyata cukup ramai ya. Karena baru saja ada dua orang menghampirinya.
"Tunggu sebentar nak, papa panggilkan dokter"
Tak berapa lama Jovi datang bersama suster, memeriksa dengan serius kondisi pasienya. Melepas beberapa kabel, mengganti alat bantu pernapasan juga memberikan beberapa suntikan.
"Nah sekarang kamu sudah lebih baik kan? Tapi tubuh kamu masih rentan jangan dipaksa melakukan hal berat dan jangan terlalu banyak pikiran oke?"
Agas mengangguk lemah, suaranya seakan lenyap apa karena sebelumnya mulutnya dijejal selang? Entahlah, tapi Agas merasa mengeluarkan suara juga butuh tenaga.
Shaka langsung bergegas masuk dan menghampiri adiknya. Ia pandang wajah Agas dengan teliti, ia genggam tangan adiknya pelan takut melukainya.
"Gimana perasaan kamu dek?"
"Aku b-baik bang"
"Bohong. Kemarin baru aja operasi, bilang ke abang mana yang sakit"
Oke Agas cukup terkejut akan itu. Ia bahkan tidak tahu tentang operasi. Agas hanya merasa ia tidur begitu lama.
"Aku gak tau kalau aku di operasi bang, t-tapi jujur, disini sakit dan sedikit sesak" Agas menyentuh dadanya, sumber rasa nyeri setiap ia menarik napas tapi untungnya itu tak terlalu parah. Shaka pun tersenyum sembari mengusap dada adiknya pelan.
"Maafin abang ya dek, harusnya abang gak pertemukan kamu dengan mama. Abang juga salah dengan minta kamu datang waktu itu. Maafin abang juga nyembunyiin penyakit ini" sesal si sulung.
"Abang gak salah kok, makasih udah selalu ada buat Agas. Eh tadi kayaknya ada papa dan juga om Arsen ya?"
Shaka ingat, ia segera memanggil papa dan ayah tirinya itu masuk.
"Syukurlah kamu sudah bangun nak, papa senang operasinya berhasil, kenapa kamu gak pernah bilang ke papa kalau ngalamin gejala yang aneh nak"
Agas terdiam, "papa juga gak pernah kasih tahu Agas, mana Agas tahu kalau gejalanya mengarah ke penyakit jantung"
Devan menghela napas dan memeluk pelan anaknya, meski kini Agas di landa bingung dan takut. Salahnya ia juga tak pernah memperhatikan anaknya.
"Maafin papa, tentang penyakitmu, papa takut sekali, seperti trauma. Makanya papa juga diam saja. Tapi untuk saat ini papa senang setelah operasi itu bisa buat kamu lebih baik"
"Agas tidak tahu kalau di operasi pa, tapi apapun itu terima kasih. Kalau boleh tahu, Agas ini kenapa sih pa?"
Devan menarik napas, lalu menghelanya pelan.
"Ya jantung kamu mengalami penurunan fungsi, karena dari lahir kamu terkena penyakit jantung bawaan. Papa kira udah sembuh karena tidak pernah kambuh lagi. Dan ya, kemarin kamu terkena serangan jantung, tidak ada pilihan selain operasi untuk mengatasi masalah di jantung kamu meski ini sementara. Sisanya akan diserahkan ke kamu, saran dokter sih transplantasi, tapi masih papa pertimbangin" mata Devan mulai berair, ia tak mau menangis didepan Agas.
"J-jadi harus dengan donor jantung ya? Kalau tidak ada bagaimana?" Tanya Agas dengan polos.
"Agas, mulai sekarang papa akan mejaga kondisi tubuh kamu ya, maaf papa tidak bisa jujur dulu. Tapi akan papa perbaiki sekarang. Papa akan cari donor jantung yang cocok. Karena cuma itu satu-satunya cara agar kamu sembuh. Sampai waktu itu tiba, tolong bertahan ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother & Broken
FanfictionRusak? Apa itu kata yang mewakili kehidupan kita? Permasalahan orang tua, teman, dan orang lain. Haruskah kita peduli? Aku ingin tetap membuat hubungan persaudaraan kita baik meski masalah akan terus datang tanpa henti. Dan disaat itu semua telah us...
