11. Kekhawatirannya

363 14 0
                                        

Pagi datang dan rasanya sangat berbeda, entah kenapa semenjak bertemu sang papa kemarin, Shaka merasakan hal lain. Ia sendiri tak menyangka akan bertemu papanya.

Shaka pun bersiap mandi dan sarapan. Ia harus segera ke sekolah karena ingin bertemu sang adik. Sekalian bertanya apakah benar papanya memperlakukan adiknya dengan baik.

"Bang, sarapan dulu" Tegur Evan yang sudah duduk di meja makan.

"Abang buru-buru dek, nanti abang makan di kantin" Ucap Shaka, ia mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan Evan yang dilanda bingung.

"Padahal aku mau nebeng bang" Ucapnya lirih, apakah abangnya lupa jika mobilnya masih di pakai mamanya? Dan sepertinya mobil itu tertinggal di kantor.

"Pake ojek online aja"

.

.

.

"Agas!" Panggil Shaka teriak, ia dan adiknya bertemu di belakang aula yang sepi.

Shaka buru-buru menghampiri adiknya, wajah sang adik nampak sembab.

"Kamu nangis? Papa bikin kamu apa lagi?" Tanya Shaka menggebu.

Agas menggeleng, ia hapus air matanya dan menyerahkan sebingkai foto. Foto keluarga lamanya.

"Bang...papa benar-benar menyelesaikan semuanya dan tidak ada lagi hubungan yang menjadi kesalahpahaman penyebab papa dan mama cerai. Bang, Agas masih tidak paham, tapi kata papa memang mama yang gegabah mengambil keputusan. Mama emang kepengen nikah bersama pria yang sekarang menjadi ayah baru buat abang."

Shaka terdiam, ia meremat bingkai foto itu sambil menahan tangis. Wajah Shaka sudah merah. Ia ingin teriak melampiaskan emosinya.

"Papa tidak pernah selingkuh dan mama lah yang melakukannya. Agas selama ini merasa papa menjauh nyatanya papa berani menyelesaikannya. Dan mama? Mama yang pergi dan abang juga"

"Agas...kita tidak tahu pasti apa yang menjadi alasan papa dan mama cerai. Ingat? Kita berdua tidak pernah terlibat masalah mereka" ucap Shaka, sedikit kesal karena kedua orang tuanya tidak bisa berterus terang.

Agas mengangguk, "Rasanya Agas ingin membenci mama, benar kata abang jika kita harus melupakan masa lalu. Tapi Agas tidak bisa. Agas masih berharap mama peduli sama Agas. Tapi please bang, jangan jauhi Agas."

Shaka memeluk erat adiknya, ia mengangguk dengan tegas tidak akan pernah meninggalkan adiknya sendirian.

"Meski kita berpisah, abang janji akan selalu ada buat kamu"

Agas tenang, tangisannya mulai mereda.

Tanpa sadar sepasang mata melihat dan mendengar sepasang kakak adik disana. Dalam diamnya ia mencerna semua pembicaraan mereka.

🔸️🔸️🔸️

Rayan tidak pernah merasa frustasi seumur hidupnya, baru kali ini ia rasakan saat menjadi bagian dari kepanitian sekolah. Baru saja berjalan seminggu, tetapi banyak yang belum selesai, acara pameran akan di gelar minggu ini karena minggu depan sudah memasuki minggu ujian.

"Gue bantu apa lagi Ray?" Tanya seorang cewek dengan rambut dikuncir. Panggil saja dia Ayura.

"Yur, udah cp bagian konsum gak? Kan pembukaan harus di hadiri kepsek, guru-guru dan staff lainnya. Lo juga tahu kan acara ini di sponsor sama ortu bang- maksudnya kak Shaka"

Ayura, si bagian dari divisi PDD terlihat membuka ponsel untuk mengecek apakah konsumsi sudah siap.

"Sorry Ray, kayaknya belum siap. Ini gue telepon kak Ningsih ya. Kan dia kepala divisinya"

Brother & BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang