21. Pembicaraan Penting

124 11 0
                                        

Hi readers, apa kabar? semoga baik-baik ya semua

Ayo kita lanjutkan!!!

.
.
.

Setelah bertarung dengan rasa sakit dan rasa takut. Kini Agas merasa sudah membaik, ia bahkan bersiap untuk masuk sekolah lagi. Jujur saja seminggu ini pikirannya sangat kacau, tapi beruntung masih ada sang papa juga dua sahabat yang selalu ada untuknya.

Meski sedikit sedih saat tahu abangnya tengah fokus ujian masuk perguruan tinggi. Agas tak mau menjadi penggangu jadi ia biarkan Shaka menyelesaikan urusannya.

"Heh bocil akhirnya masuk juga lo" seru Rayan heboh.

"Kata papa boleh sekolah, tapi jangan capek-capek"

"Oke noted, kita bakal jagain lo. Karena hari ini pelajaran olahraga jadi lu diem aja di dalam kelas"

Agas menatap Rayan heran, apa maksudnya ia tak ikut berganti baju dan pergi ke lapangan?

"Kok gitu? Emang kenapa kalo ikut olahraga?"

"Berbahaya Gas, lo inget kan pesan dokter waktu itu? Tubuh lo udah sangat rentan, kalo lo collaps, lo akan berakhir di ruang operasi lagi. Guru-guru juga udah tahu kondisi lo kok. Sembari nunggu kita selesai olahraga, mungkin lo mau cari kegiatan lain. Tapi inget, jangan capek-capek" nasehat Rayan sangat menyentuh hati Agas, karena Agas anak penurut ia mengangguk saja dan memilih tidak memedulikan apapun.

Sedih? Tentu saja. Tapi mendengar kata operasi entah kenapa itu sangat menakutkan di telinga Agas. Karena tak mau kembali merepotkan. Jadi Agas lebih baik menjaga agar tubuhnya baik-baik saja.

.

.

Perpustakaan menjadi tujuan Agas, ia akan berdiam diri disini sampai bel istirahat, karena pelajaran olahraga sekitar 2 jam.

Sepi dan juga hening, Agas bukan anak kutu buku yang cinta belajar. Tetapi melihat suasana yang mendukung, Agas tertarik untuk membaca salah satunya. Matanya menangkap satu buku menarik.

"Lo tertarik belajar hukum?" Suara itu mengagetkan Agas, untung saja jantungnya tidak berulah. Saat berbalik, Agas menemukan Jeano berdiri dibelakangnya.

"K-kak Jeano sedang apa?" Ucap Agas berbasa- basi, siapapun tahu jika Jeano juga sedang membaca buku.

"Lo buta atau gimana, gue lagi baca buku"

Agas menggaruk kepalanya yang tak gatal, dengan pelan ia berjalan mendekat dan duduk dihadapan kakak kelasnya itu.

"Maaf, tadi kak Jeano tanya ya apa gue tertarik dengan hukum? Jawabannya belum tahu sih kak, dunia hukum pun bagi gue terlalu rumit"

Jeano tersenyum kecil, "emang lo pernah merasakan hukuman? Minimal dalam hidup lo udah pernah merasakan ruang sidang"

Agas terdiam, lalu pikirannya melayang pada kejadian di masa lalu. Satu-satunya sidang yang pernah ia datangi adalah sidang perceraian kedua orang tuanya dan sidang hak asuh anak. Disitulah hubungan Agas dengan sang mama dan abangnya berakhir.

"Ruang sidang ya? P-pernah sih, waktu orang tua gue cerai"

Jeano melirik Agas dengan tatapan datarnya. Ingin sekali menanyakan lebih tapi Jeano juga sedang mengalami masalah itu, tapi memang belum sampai sidang cerai.

"Sorry, sidang cerai itu kan dari pihak orang tua, maksud gue yang lo sendiri disidang"

Mendengar itu Agas langsung menggeleng, dalam hidupnya ia tak pernah seperti itu, tapi jika Jeano bertanya ruang operasi, maka Agas akan mengatakan ia sudah pernah, dua kali bahkan. Itupun tanpa ia tahu.

Brother & BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang