24. (Pertemuan di masa lalu)

101 8 0
                                        

Nextnya disini

⚠️Part ini full masa lalu⚠️

.
.
.

Jakarta 2021

Kemacetan Jakarta mungkin menjadi pemandangan yang paling sering dilihat Devan dari atas sini. Kantornya yang dekat dengan jalan raya membuatnya sedikit nyaman memandang itu. Sudah 1 tahun ini ia sibuk bekerja, entahlah, semenjak sang papa-Setiono telah berpulang, Semua tanggung jawab perusahaan dibebankan kepada Devan. Karena sebelumnya juga sempat kacau, ia harus bekerja keras. Salah satunya adalah memenuhi permintaan kolega bisnis sejati papanya itu. Apalagi setelah diganti oleh Nyonya Raniya Kristanti Putri. Devan berasa ia seperti punya istri lain.

"Devan, kita harus ke Jepang. Saya harus memperkenalkan kamu dengan teman-teman bisnis saya disana" ucap Raniya.

"Kapan kita pergi? Saya juga masih mengurus urusan perusahaan saya" tanya Devan dengan sabar.

Raniya mendelik kesal, "tentu saja lusa, saya sudah buat janji dan memasukan nama mu, jika kamu tidak datang, apa kata mereka nanti? Nama perusahaan kamu juga tercoreng"

Tentu saja Devan tidak mau itu terjadi, ia pun menyetujuinya. Meski ia belum membicarakan ini dengan istrinya.

Raniya tersenyum menang, "besok kumpul di hotel. Kita harus berangkat bersama Devan."

Ini yang Devan tidak suka, semua harus menuruti perkataan Raniya jika tidak akan diancam yang macam-macam. Devan juga pernah di ancam akan melibatkan keluarga terutama anak-anaknya yang akan masuk SMA tahun depan. Tidak adil buat Devan. Tapi demi pekerjaan ia akan lakukan.

.
.
.

"Kamu mau pergi lagi mas?" Tanya Githa tak menyangka. Padahal suaminya baru saja balik dari Bali minggu lalu.

"Ini permintaan Raniya, aku harus ikut kemauannya Git"

"Ya kamu kan bisa kirim perwakilan, lagian ini sudah menyangkut luar negara. Kamu sendiri yang bilang perusaan papamu itu tidak ada sangkut pautnya lagi di luar negeri"

"aku sudah menolak Git, dia memaksa ku"

"Tapi kenapa setiap kamu perjalanan dinas bareng dia tuh seolah-olah kalian pasangan yang mesra? Waktu di Bandung kalian sekamar kan? Minggu lalu di Bali, kalian ke club berdua ditengah malam juga. Kamu pikir aku gak tau mas?" Githa menatap nyalang suaminya. Mengeluarkan kecurigaannya selama ini.

"Jaga bicara kamu. Kamu pikir aku mau melakukannya?"

"Mau. Karena semua yang kamu perbuat itu sangat nyata. Tanpa rasa sungkan sama sekali, lupa ada istri dan anak-anaknya"

Devan menahan amarahnya. Ia bahkam lupa bagaimana suara Githa yang penuh kelembutan itu. Istrinya memang sangat peka, ia beberapa kali menegur Devan yang nampak mesra bersama Raniya. Bahkan Raniya pernah menelpon Devan tengah malam hanya untuk menemaminya di kantor.

"A-aku masih sabar dan kasih kamu kesempatan karena aku percaya sama kamu mas"

Devan mendekat, memegang kedua bahu istrinya, "percaya, yang aku lakukan demi keluarga kita"

Githa pun mengangguk saja, ia menatap Devan ingin menyampaikan sesuatu.

"Aku pindah tugas ke kantor utama di pusat. Kamu gak perlu khawatir anak-anak karena arah sekolahnya sama. Palingan pas Agas udah SMA jadi bisa bareng Shaka"

Ya, Shaka si anak pertama mereka duduk di bangku SMA tahun pertama. Sedangkan sang adik, Agas, masih di kelas 2 SMP.

"Yaudah, nanti aku kasih Shaka mobil"

Brother & BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang