31. Minta maaf lagi

125 5 1
                                        

Selamat hari Senin, have a nice day semuanya

Yuk lanjut 😁

.
.
.

Hari sudah malam, Shaka sendiri pun masih setia menunggu adiknya bangun. Ia mau menyampaikan permintaan maaf.

"Sha, makan dulu ya. Tadi Bintara udah beli makanan di luar" ajak Satria, ia menunjuk presensi Bintara, dan sikembar yang sudah duduk dengan manis.

Shaka tersenyum, ia pun bergabung. Kehangatan seperti inilah yang membuat Shaka bisa lebih tenang. Ia akan percaya adiknya akan segera bangun.

"Udah ada telepon dari ortu Sha?" Tanya Satria.

Shaka menggeleng, "hp gue mati"

Satria mengangguk, "om Devan telepon gue tadi"

Shaka menatap Satria serius

"Om Devan juga telepon ke gue bang" ucap Reyhan.

"L-lalu kalian jawab apa? Jangan bilang gue dan Agas disini please"

"Iya gue paham Sha, kita cuma bilang sedang sibuk disekolah. Gue yakin papa lo cari info ditempat lain"

"Gue akan hubungi ortu kalau Agas belum bangun sampai besok. Gue harus tenangin dia dulu. Takut Agas stress karena memikirkan kejadian kemarin"

Dalam heningnya ruangan itu, Shaka menceritakan perihal alasan orang tua nya bercerai tentunya kepada Bintara, Reyhan dan Rayan yang belum tahu. Yang Shaka simpulkan sendiri karena mamanya yang ingin kembali ke pria yang ia cintai sejak dulu. Meski awalnya papanya juga tidak bisa memberikan kepastian dan kepercayaan lagi.

Rasanya Shaka ingin menangis lagi. Tapi ia harus kuat demi adiknya.

"Bang Shaka, saran aja. Lebih baik, jalani saja kehidupan yang sudah terlanjur terjadi ini. Tidak ada yang salah bang, bahkan Agas pun tidak minta apapun dari tante Githa dan begitu juga dengan bang Shaka yang tidak minta apa-apa lagi ke om Devan. Kalau memang bang Shaka sudah punya kehidupan sendiri, jalani saja, tapi jangan lupa, bang Shaka masih punya om Devan dan Agas sebagai keluarga inti jika memang tante Githa lebih memilih keluarga barunya." Ujar Reyhan penuh keseriusan.

"Tumben lo bijak Han" bisik Rayan.

"Lagi serius ini, lo juga serius dikit lah" Reyhan balik berbisik.

Shaka terlihat berpikir. Benar juga sih, ia hanya perlu menjalani hal yang sudah terlanjur. Yang penting tak ada yang akan menganggu hidupnya. Mau dia bertemu Agas ataupun papanya. Shaka juga korban apalagi Agas.

"Ya makasih sarannya Han, abang akan coba"

🔸️🔸️🔸️

"abang..."

Lirihan yang begitu kecil bisa ditangkap oleh Shaka. Oh jam berapa ini, 9 pagi? Serius?

"Astaga dek, udah bangun?! B-bentar abang panggil dokter" Shaka panik, ia pun bergegas keluar namun ditahan oleh Agas.

"Engga usah bang, dokter Jovi udah kesini tadi pagi. Abang nyenyak banget tidurnya, pasti kecapean jagain Agas kan? Maaf ya bang"

Shaka menggeleng, ini bukan salah Agas, "abang yang minta maaf sama kamu dek, gak seharusnya abang menghindar"

Agas tersenyum ia raih abangnya untuk dipeluk, "kita udah lewatin semua ini abang, Agas harus ngerti kalau abang juga butuh waktu, Agas pun gitu"

"Jadi keadaan kamu gimana? Apa kata om Jovi?"

Agas mengedikkan bahunya, "bang, papa ada disini. Lagi bicara berdua dengan om Jovi"

Shaka menegang, papanya? Apa karena Shaka tidak mengabarinya seharian ini.

Brother & BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang