32. Semua akan baik-baik saja

83 1 0
                                        

Dear readers, yuk kita lanjut 😭
.
.
.

Kediaman Adiyatma, itulah tujuan Evan saat ini. Sekolahnya dipulangkan lebih cepat karena ada kegiatan untuk kelas 12, Evan yang tidak mengabari siapapun langsung menuju ke rumah Agas. Ia benar-benar sangat khawatir, apalagi melihat respon Shaka. Abangnya itu seperti ingin mengakhiri hubungan dengannya.

Mobil Evan terparkir dihalaman rumah itu. Matanya memandang sekitar, sepi. Ia berjalan kearah pintu utama.

Tok tok tok

Tak lama kemudian munculah seorang wanita yang sudah Evan kenal.

"mbak Vina, selamat siang, saya Evan masih ingat kan?" Ucap Evan dengan sopan.

Vina mengangguk, "masih inget toh den. Mana mungkin saya lupa. Den Evan kesini cari Agas?"

Evan mengangguk mantap.

"Waduh, maaf ya den, Agas nya lagi sakit. Sekarang lagi dirawat dirumah sakit. Tadi pagi tuan Devan juga buru-buru kesana karena terkejut dapat kabar dari dokternya Agas ngedrop"

Mendengar penjelasan dari Vina, Evan pun dilanda kesedihan. Apa karena semua masalah rumit ini Agas jadi sakit, dan Shaka menghindarinya.

"Yaudah mbak, saya pamit pulang ya. Terima kasih infonya"

Evan tak tau apakah ia harus menyusul ke rumah sakit atau pulang kerumahnya. Ia tak bisa diam saja. Harus ada sesuatu yang ia lakukan guna memperbaiki situasi ini.

🔸️🔸️🔸️

Disisi lain, seorang pemuda tengah serius berhadapan dengan orang yang paling ia segani.

Jeano duduk di dalam ruang kepala sekolah dengan ayahnya yang sedang berbincang, membicarakan dirinya dengan kepala sekolah.

"Anak saya sudah banyak berubah pak. Selama ini dia sudah bersikap baik. Dan Jeano akan masuk perguruan tinggi ternama."

Pak Yanuar selaku kepala sekolah hanya mengangguk. Lalu matanya menatap muridnya yang dari tadi menunduk.

"Jadi, kemana tujuan mu Jeano?"

Jeano mengangkat wajahnya, tatapan yang sangat menunjukan kegigihan.

"Saya berencana kuliah ke luar negeri, dengan begitu, saya sudah memenuhi tuntutan hukum kan?"

Yanuar mengangguk, "Untuk saat ini, hanya itu yang bisa kamu lakukan. Sudah lama semenjak kejadian itu, tapi kamu tidak bisa membuktikan apapun."

Tangan Jeano mengepal keras. Kenapa kepala sekolah pun tidak punya rasa simpati. Sudah lama dan sekolah pun tidak bertindak apa-apa.

"Suatu hari, bukti itu akan saya tunjukan pak. Dan jika saya terbukti tidak bersalah. Kalian lah yang harus minta maaf kepada saya"

Setelah mengatakan itu, Jeano meninggalkan ruangan kepala sekolah. Dengan wajah memerah dan nafas memburu, Jeano berlari kearah UKS, ia ingin menemui bu Feni dan numpang rebahan. Sesekali bolos tak apa.

Saat perjalanan menuju UKS, Jeano berpapasan dengan Shaka.

"Lo disini Sha?"

"Iya nih, mau denger arahan. Udah deket ujian juga kan" Ucap Shaka sambil nyengir.

"Agas siapa yang jagain?"

"Papa gue, udah aman kok. Lo ngapain? Mau bolos ya?" Tebak Shaka asal.

"M-mau ke UKS"

"Kayaknya UKS jadi tempat pelarian lo deh, ada apa Jen. Cerita sama gue" Ucap Shaka menatap Jeano.

"Engga Sha, ini masalah gue. Lo gak harus terlibat lagi kok"

Brother & BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang