Flashback
Devan dan Githa menunggu dengan cemas di depan ruang IGD, bagaimana bayangan akan kesakitan anak bungsu mereka masih terekam jelas.
Sebenarnya si kecil Agas mendapatkan peringatan dari dokter akan kondisinya saat lahir. Ada masalah pada jantungnya, tetapi masih bisa ditangani. Hingga diumurnya yang menginjak 3 tahun, Agas tiba-tiba demam tinggi, sesak napas bahkan muntah yang berujung penurunan kesadaran. Anak kecil harus merasakan sakit itu tanpa bisa menyampaikan rasa sakitnya seperti apa.
Dan sekarang, hampir 1 jam dan dokter-dokter didalam sana belum juga menunjukan tanda-tanda telah selesai. Aura terasa mencekam, panik, takut, sedih semua campur aduk.
Devan ada disana, menenangkan sang istri yang terus saja menangis.
"Anak aku mas, dia sakit dan aku tidak bisa ngapa-ngapain"
Devan mendekap erat istrinya yang sudah tidak bertenaga.
"Kita terus berdoa untuk Agas, Git, aku gak mau kehilangan Agas"
Tak berselang lama, pintu ruang penanganan itu terbuka. Munculah dokter dengan wajah lelahnya.
"Dokter, katakan apa yang terjadi pada putra saya" Devan langsung menyerbu dua dokter disana.
"Anak pak Devan mengalami regurgitasi atau insufisiensi katup jantung, kelainan ini disebut juga dengan katup jantung bocor. Satu hal yang bisa saya sarankan untuk dilakukan adalah tindakan operasi. Jika bapak dan ibu setuju. Kami akan mengurusnya untuk operasi minggu ini"
Devan dan Githa saling menatap, apalagi Githa yang matanta sudah lelah menangis, hanya bisa berharap yang terbaik.
"A-apa ada risiko yang serius jika operasi itu di lakukan? Anak saya masih kecil dok, umurnya saja baru 3 tahun"
"Iya saya paham pak, kelainan jantung yang dialami putra bapak ini cukup serius, dan menyerang di usianya yang masih kecil. Memang risiko operasinya hanya pada kekuatan tubuh anak bapak itu sendiri. Kami tim dokter juga mengusahakan yang paling terbaik. Kami akan membedah tubuhnya, bagian jantung yang bocor akan kami berikan penanganan khusus. Atau jika mau menunggu lama, yaitu transplantasi jantung. Dan ya, sulit menemukan jantung untuk anak usia anak bapak dan ibu"
Devan mengusap kasar wajahnya. Ia tidak paham serangkaian operasi itu, ia bukan dokter, entah aman atau berbahaya. Devan mau Agas tetap sehat selalu.
Githa juga sudah tidak sanggup mendengar itu, anaknya harus melakukan pembedahan bahkan organnya diperbaikai. Oh astaga sesakit apa anaknya didalam sana.
"Bagaimana bapak dan ibu? Kita putuskan disini"
Dengan air mata yang terus berjatuhan, Githa mengangguk, tatapan sudah sayu sekali, "apapun untuk Agas, mas."
Devan mengangguk, ia peluk Githa erat sekali, mengecup keningnya dan menenangkannya. Lalu Devan menatap dokter, "Baik dok, kami setuju operasi itu dilakukan, tapi tolong lakukan yang paling terbaik. Pastikan dengan operasi ini bisa membuat anak saya sehat, dan tidak merasakan sakit lagi"
Dokter pun mengangguk, lalu ia menatap satu dokter dibelakangnya.
"Perkenalkan, ini dokter Jovi, pengalaman menangani operasi jantung 2 kali dan berhasil, baru menyelesaikan studi lanjutan di Jerman. Sekarang mengabdi di rumah sakit ini. Dokter Jovi yang akan turun tangan memegang penuh operasi anak bapak dan ibu. Dan kami pastikan jika operasi ini berjalan dengan lancar"
🔸️🔸️🔸️
Shaka termenung diatas sofa sambil menonton makhluk laut kuning berbentuk kotak. Ia juga makan dengan lahap biskuit pemberian suster pengasuhnya di rumah. Demi tidak merengek mencari papa dan mamanya yang sedang kacau di luar sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother & Broken
FanfictionRusak? Apa itu kata yang mewakili kehidupan kita? Permasalahan orang tua, teman, dan orang lain. Haruskah kita peduli? Aku ingin tetap membuat hubungan persaudaraan kita baik meski masalah akan terus datang tanpa henti. Dan disaat itu semua telah us...
