Ayo next!!!
.
.
.
"Agas!!" Teriak Bintara yang menggema di koridor. Sedikit terkejut namun Agas mencoba tenang.
"K-kenapa kak?"
"Lo gapapa? Diapain Jeano?" Bintara balik bertanya.
Agas menggeleng dan tersenyun, "gak diapa-apain kok kak. Cuma ngobrol biasa"
Bintara mengangguk meski ia tak yakin dengan jawaban adik kelasnya ini. Ia jadi ingat kejadian di depan ruang UKS tadi.
"Lo tadi mau masuk ke UKS kan? Lo sakit? Sini gue anter" ajak Bintara.
"Eh enggak kak, Agas baik-baik saja. T-tadi cuma lewat aja hehe"
"Beneran?" Tanya Bintara memastikan.
"Iya kak, lebih baik kak Bintara masuk kelas udah bel daritadi" ucap Agas meyakinkan kakak kelasnya ini.
"Yaudah, gue duluan"
Setelah kepergian Bintara, Agas tersenyum miris, kenapa ia tak bisa jujur akan keadaannya. Ia tahu banyak yang peduli. Tapi ia tak bisa terbuka. Ia masih memikirkan keluarga yang hancur.
Agas lumayan mengenal dekat Bintara. Ia pernah melihat staff anggota osis Shaka yang datang ke rumah. Salah satunya Bintara yang selalu mendokumentasikan apapun yang sedang mereka kerjakan. Meski Agas belum masuk SMA saat itu, ia senang bisa kenalan dengan teman sekolah Shaka.
"Kepala gue pusing banget"
.
.
Materi demi materi di terima Agas dengan baik, ia masih mampu mengikuti pembelajaran meski ia tak enak badan. Ia bingung sekali harus mengadu kepada siapa. Meski ia punya Shaka, tapi Agas cukup tahu diri jika kakaknya itu punya adik lain selain dirinya.
Bel istirahat sudah berbunyi, Agas tersenyum saat melihat sahabat kembarnya datang. Agas jadi ingat sesuatu.
"Agas, lo utang penjelasan ke kita berdua" ujar Reyhan, ia menatap Agas datar.
"S-sorry gue gak kabarin apapun ke kalian, kemarin gue_"
"Lo masuk rumah sakit, gue dan Rayan yang nemuin lo di aula. Lo kenapa sih?" Reyhan memotong ucapan Agas yang mencoba menjelaskan kejadian kemarin.
Oke Agas sedikit kaget mengetahui itu.
"Oke gue jelasin, tapi jangan disini"
Reyhan langsung mengangguk, ia menarik tangan Agas untuk dibawa ke suatu tempat yang tidak banyak orang datang kesana. Yaitu halaman belakang sekolah.
"Kalian kenapa kok kayak kesel gitu sama gue?" Tanya Agas.
"Ya gue kesel, lo kalo ada masalah kan gue udah bilang buat cerita sama kita, kita ini temenan loh Agas" ucap Reyhan tanpa sadar suaranya meninggi. Ia perhatikan wajah Agas yang ketakutan.
"Reyhan udah, bukan kayak gini minta penjelasannya. Agas pasti masih sakit" Rayan disana berusaha menenangkan kembarannya.
"Asal lo tahu Gas, kemarin kita panggil bang Shaka, kabarin lo yang masuk rumah sakit, dan bang Shaka kenalin adik tirinya ke kita. Lo tahu perasaan kita berdua udah kacau banget. Satu bulan Gas dan lo ga ngomong apapun. Bang Shaka juga kaget karena lo belum cerita"
Akhirnya Agas paham, ia malah menunduk mengepalkan tangannya, ia memang terlalu lama menyimpan semua ini sendiri. Bahkan kepada Reyhan dan Rayan pun Agas masih ragu.
"Maaf..."
Reyhan menghela napas kasar, "Gue butuh penjelasan lo sekarang Agas, gue ga mau bersplekulasi yang aneh-aneh. Gue gak mau menyinggung apapun jika itu menyakiti lo nantinya" suara Reyhan memelan, selama ini ia menganggap keluarga Agas baik-baik saja, ia yang paling semangat menceritakan banyak hal tentang keluarganya dihadapan Agas. Tanpa tahu saat itu keluarga sahabatnya hancur.
Agas pun cerita, "sebulan lalu, papa dan mama gue memutuskan untuk cerai. Karena mereka dalam masalah dan juga mama gue udah mendapatkan pasangan baru. Masalah mereka tidak bisa gue ceritain karena emang gue gak tau, abang pun gak tau. Mama udah ngajak buat ikut mama aja. Tapi gue tolak, gue gak mau papa sendirian. Gue yakin papa akan berubah. Hal itu membuat mama dan bang Shaka kecewa. Mereka memutuskan hubungan dengan gue. Makanya beberapa hari lalu kalian lihat sikap bang Shaka ke gue cuek dan tidak peduli"
Agas tercekat, ia berhenti untuk menghapus air matanya lalu melanjutkan ceritanya, "T-tapi gue dan bang Shaka memutuskan untuk baikan, bang Shaka peringatin gue kalo jangan peduliin apapun lagi karena mama udah punya keluarga baru dan bahagia. Papa juga sibuk dan ninggalin gue sendirian terus di rumah. Gue bingung gimana jelasin ini semua, gue juga butuh waktu"
Reyhan dan Rayan saling pandang, ikut merasakan kesedihan yang mendalam. Tanpa ragu, si kembar memeluk erat Agas yang masih menangis. Mereka menenangkan Agas yang harus merasakan sakit ini sendirian.
"Maafin gue Gas, gue terlalu memaksakan kehendak. Gue juga gak peka jadi teman" Ucap Reyhan.
"Jangan merasa sendirian Gas, ada gue dan Reyhan, kita masih temen lo. Jangan raguin kita lagi." Ucap Rayan.
Agas menangguk dalam pelukan itu, ia sangat bersyukur memiliki Reyhan dan Rayan. Mereka berdua memang yang paling mengerti Agas.
Peristiwa penuh haru itu dilihat oleh seseorang yang sudah dari tadi duduk disana. Ia mendengar semua, ia malah tertawa merasa jika ia selama ini sudah keterlaluan.
🔸️🔸️🔸️
Shaka datang ke kelas adiknya untuk mengajaknya pulang bersama, tadi saat istirahat ia tak sempat bertemu Agas karena sibuk mengurus acara sekolah. Niat Shaka ingin mengajak Agas periksa ke dokter terkait kesehatannya yang memburuk.
"Rayan...lihat Agas dimana?" Tanya Shaka saat ia berpapasan dengan Rayan di depan kelas.
"Bareng Reyhan, kayaknya masih di UKS"
Shaka terkejut, "Agas sakit?"
Rayan menggeleng, "engga, cuma ngeluh pusing aja. Diseret Reyhan tadi jam terakhir. Takut kenapa-napa"
"Oh yaudah, abang duluan ya. Kamu mau ke aula?"
Rayan mengangguk, "iya bang"
Setelah berpisah dengan adik kelasnya itu, Shaka berlarian menuju UKS dan benar ia menemukan adiknya disana sedang duduk dengan wajah tertekuk. Reyhan pun pamit keluar karena Agas sudah ada yang menemani disini.
"Hey kamu kenapa Gas?" Shaka mendekati sang adik dan meraih tangannya dengan lembut.
"Tadi pusing, kesini mau minta obat" adunya kepada Shaka.
Shaka mengusak lembut surai adiknya, "Gas, kita periksa ke dokter yuk. Abang temenin"
Mendengar kata periksa Agas langsung menggeleng ia menatap Shaka serius, "Agas baik-baik aja kok bang"
"Tapi kamu sering sakit, abang gak mau kamu kenapa-napa"
"Justru itu bang, Agas gak mau tahu apapun, kalau Agas beneran sakit gimana? Gak ada yang perhatiin Agas bang"
Shaka sedih mendengar itu, "Kamu itu tidak baik-baik saja dek, dokter bilang kamu harus melakukan pemeriksaan lanjutan."
Agas mengerucutkan bibirnya, "Tidak mau abang, biarin Agas seperti ini dan jangan paksa-paksa Agas lagi. Agas sakit karena terlalu banyak pikiran"
Shaka menghela napas kasar, adiknya ini sangat keras kepala, sepertinya memang keturunan. Shaka juga tidak bisa memaksa.
"Yasudah, kita pulang sekarang biar kamu bisa istirahat" ajak Shaka dan Agas pun terlihat senang.
Namun dalam hati Shaka ia takut. Perasaan ingin menjaga adiknya semakin menjadi. Ternyata benar, mereka tidak bisa dipisahkan, mereka saling membutuhkan.
.
.
.
TBC!!!
Maaf jika ada kesalahan kalimat dan typo.
Mulai banyak waktu luang jadi banyak ide dan kesempatan menulis lagi, kita enjoy aja ges wkwk
Nanti-nanti lagi~~~
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother & Broken
Hayran KurguRusak? Apa itu kata yang mewakili kehidupan kita? Permasalahan orang tua, teman, dan orang lain. Haruskah kita peduli? Aku ingin tetap membuat hubungan persaudaraan kita baik meski masalah akan terus datang tanpa henti. Dan disaat itu semua telah us...
