10. Rindu

213 22 0
                                        

Mobil Shaka tidak masuk ke pekarangan rumah Agas. Mereka berdua saling pandang saat melihat sesuatu yang membuat mereka kaget.

Di sana terparkir dengan rapi mobil milik Devan, bahkan sosok yang lama meninggalkan Agas sendirian itu berdiri menghadap pagar rumah seolah menyambut kedatangannya.

Agas turun dengan cepat, sedikit berlarian dan langsung memeluk erat papanya. Tak peduli selama apapun papanya pergi, Agas sudah rindu.

"Hai nak, baru pulang sekolah?" Tanya Devan, ia melihat wajah memelas anaknya.

"Papa kenapa baru pulang, Agas takut sendirian di rumah" adunya masih memeluk Devan.

"Maafin papa Gas, papa cuma meluruskan kesalahpahaman" ucap Devan lirih, ia tak bisa mengatakan kebenaran ini di depan Agas.

Meski masih kecewa, Shaka bukan anak durhaka yang tidak menghormati orang tua. Shaka bimbang tapi saat melihat adiknya menangis, ingin sekali Shaka tahu alasan papanya itu. Kini si sulung sudah berhadapan dengan papa kandungnya.

"Shaka..." Devan ingin meraih putra sulungnya itu, tapi Shaka menghindar.

"Apa kabar pa?" Tanya Shaka.

"Lumayan baik, kamu juga baik-baik aja kan?"

Shaka mengangguk saja.

"Kenapa papa ninggalin Agas sendirian?"

"Shaka, papa tidak bermaksud pergi selama itu, papa hanya membutuhkan waktu yang tepat" Devan berusaha menjelaskan.

"Apapun alasan papa, Shaka tidak mau lihat Agas sedih karena ulah papa sendiri. Tanggung jawab papa saat ini cuma Agas, papa tidak usah mikirin mama dan Shaka lagi karena kita udah mempunyai kehidupan baru. Lakukan semua demi Agas pa"

Shaka menahan air matanya yang akan jatuh, sekian lama tidak berjumpa papa nya nyatanya sama sakitnya. Tidak ada rasa rindu meski sedikit. Yang Shaka lihat papanya ini belum berubah. Dan Shaka tidak akan membiarkan sikap papanya itu kembali melukai perasaan adiknya.

"Papa cukup tahu apa yang menjadi tanggung jawab papa, untuk sekarang atau nanti, tidak ada hal penting lainnya selain papa dan Agas. Semua sudah papa akhiri Shaka. Kamu cukup tahu jika disaat seperti ini papa salah dan tetap salah, tapi untuk mencari kehidupan baru, itu bukan hal yang bijak"

Oke cukup, Shaka mengepalkan tangannya, "Jangan papa salahkan keputusan mama, semua ini tidak akan terjadi jika papa tidak memulai duluan. Dan jangan merasa tersakiti"

"Papa sadar diri Sha, dan jalani kehidupan baru mu itu. Papa usahakan yang paling terbaik buat Agas"

Shaka mengangguk tanpa menatap papa nya, lalu berlalu begitu saja. Sempat melihat Agas yang sudah menangis, Shaka rasa ia akan menelepon adiknya nanti.

🔸️🔸️🔸️

Malam harinya Agas tidak bisa tidur, ia memikirkan banyak hal, salah satunya adalah alasan papanya pergi sangat lama. Agas ingin tahu.

Saat melamun, Agas mendengar suara papanya memanggil, dengan cepat Agas bergegas turun dimana sang kepala keluarga tengah duduk di ruang keluarga sambil memegang sebuah bingkai foto sedang. Itu foto keluarga yang sudah lama sekali.

"Papa..."

Devan tersenyum, ia memandang anaknya. Benar kata Shaka, yang dipikirkan Devan saat ini cuma Agas seorang. Devan memberikan bingkai foto itu ke anaknya.

"Mulai sekarang, lupakan apapun tentang mama mu dan Shaka. Mereka sudah punya kehidupan baru kan? Papa tidak mau suatu saat terjadi kesalahpahaman. Entah kamu sudah tahu atau belum keluarga baru mereka, papa harap kamu juga sadar diri Gas, kamu cuma punya papa, papa tidak akan pergi"

Brother & BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang