14. Tak mau diungkit

188 19 6
                                        

⚠️update ulang, notifnya gak masuk ya :(

Next kuy

.
.
.

Arsen pulang bersamaan dengan Shaka, jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Setelah berdebat panjang dengan sang adik, akhirnya Agas memutuskan pulang dan menjalani perawatan di rumah. Agas juga meminta kepada Arsen dan Shaka agar jangan memberitahukan penyakit ini pada siapapun dulu.

"Arsen, Shaka kok kalian pulang malem banget?" Ucap Githa, ia muncul dari arah dapur saat mendengar suara mobil masuk ke pekarangan rumah.

"Maaf sayang, aku terlalu lama di rumah sakit" jawab Arsen.

Oke Githa memaklumi itu, tadi suaminya sudah memberikannya kabar. Tapi anak sulungnya?

"Shaka?"

"Shaka capek ma, mau istirahat. Ayah dan mama juga lebih baik istirahat"

Bukan tanpa alasan Shaka malas menghadapi Githa. Ia tahu mamanya itu pasti marah padanya. Terlihat sekali dari pesan yang diabaikan juga panggilan telepon yang entah sudah berapa kali tapi tak ia jawab.

Githa masih sabar menghadapi putra sulungnya, tapi ia hanya ingin tahu alasan Shaka.

Setelah sibuk mengurusi Arsen, Githa beranjak menuju kamar Shaka. Meski sudah lama sekali kejadian itu, tak menutup kemungkinan Shaka masih berhubungan dengan masa lalu.

"Shaka, mama mau bicara" Githa mengetok pelan pintu kamar si sulung.

Tak lama, Shaka pun membuka pintu, seragam sekolah masih melekat ditubuhnya. Githa jadi ingat kejadian siang tadi.

"Shaka, kenapa baru pulang sekolah larut malam begini. Tidak ada kabar sama sekali"

"Maaf mah, Shaka lupa"

"Bukan itu maksud mama. Kamu tahu? Evan pulang pergi ke sekolah naik ojek online. Kan mama sudah bilang Shaka, selama mama pakai mobil Evan, Evan nebeng dulu di kamu"

"Iya kalau soal itu, salah Shaka mah. Nanti aku minta maaf ke Evan"

Githa tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari anaknya.

"Shaka, mama serius. Kamu kenapa sih. Gak suka sama Evan? Sama ayah Arsen? Asal kamu tahu Shaka, adik kamu kecelakaan saat pulang karena nekat naik ojek online pulang. Seharusnya kan kamu yang jemput. Evan sakit gara-gara kamu"

Oke cukup, kesabaran Shaka habis. Ia cukup lelah hari ini dan harus dihadapkan oleh omelan Githa yang menyalahkan sesuatu yang tidak ia perbuat.

"Mah!! Shaka mohon jangan menilai sifat Shaka yang sekarang seenak mama. Dulu Shaka percaya sama mama disaat keadaan kita lagi kacau-kacaunya. Sekarang Shaka tambah kacau karena harus selalu menuruti kemauan mama. Shaka sayang sama Evan, Shaka menerima ayah Arsen. Mama gak perlu pengakuan apapun dari Shaka. Cukup urusi kehidupan kita yang baru ini mah. Shaka tahu, mama tidak akan pernah mau mengungkit masa lalu"

Githa terdiam, melihat perubahan emosi Shaka membuatnya bertanya-tanya. Kenapa Shaka seperti ini.

"K-kamu pasti ketemu adik kamu itu kan? Apa dia menghasut kamu?"

"Siapa? Agas? Bukankah mama yang memutus hubungan begitu saja? Kalau Shaka mau, cuma Agas yang Shaka anggap mah, karena Agas adek aku"

Shaka mendudukkan tubuhnya di pinggiran kasur, tangannya memijat pelipisnya karena rasa pening. Berdebat dengan mamanya sangat menguras tenaga.

"Tapi bener kan Sha? Kamu masih ketemuan s-sama Agas?"

Shaka mengangguk saja.

"Keadaan Agas tidak begitu baik semenjak kalian pisah, Agas_"

"Cukup Shaka. Mama tidak mau tahu apapun. Jangan bahas dia ataupun tentang masa lalu mama"

"Nyatanya mama masih selalu ada dalam ingatan Agas. Mama tahu? Ada baiknya juga Agas tidak terlalu mencari atau mengharapkan mama ada. Adek aku akan fokus untuk berjuang akan hidupnya. Sama seperti 13 tahun lalu"

Perkataan terakhir Shaka menyadarkan Githa akan satu hal. Kejadian 13 tahun lalu, itu kejadian yang tidak akan pernah terlupakan olehnya. Tapi Githa tetaplah pada pendiriannya yang benar-benar tak mau mengungkit apapun.

🔸️🔸️🔸️

Agas melamun diatas kasur, pikirannya kacau membayangkan dirinya yang tidak sehat. Perkataan dokter maupun obat-obatan yang diberikan nyatanya tambah membuat Agas takut. Karena kepada siapa ia akan mengadu? Bagaimana jika ia merasakan sakit? Membayangkannya membuat Agas merasa stress.

Ia pandang paper bag kecil berisi obat-obatnya. Apakah ia akan hidup lebih lama jika obatnya habis? Siapa tahu Tuhan memanggil malam ini?

"Agas?"

Agas sedikit terkejut mendengar suara di luar kamarnya. Tampaknya sang papa datang menemuinya setelah pulang kerja.

"Agas papa masuk ya? Tadi kamu pulang jam berapa?"

Agas pun membuka pintu dan mempersilahkan papanya masuk.

"Tadi papa diberitahu mbak Vina kalau tadi sore kamu belum pulang. Ada apa Agas?"

Ya benar, karena kejadiannya masuk rumah sakit membuatnya pulang lumayan larut. Pembantu yang bekerja di rumah pun tak ia kabari, karena si mbak Vina harus mengakhiri pekerjaannya tepat jam 6 sore, atau setidaknya saat Agas sudah di rumah.

"M-main"

Devan menghela napas, "lain kali izin dulu kalau mau pulang telat ya Gas, biar papa gak khawatir"

Agas langsung menatap papanya, "Sejak kapan papa khawatir sama Agas? Biasanya juga papa biarin"

"Papa cuma punya kamu Gas, abang kamu benar, kalau cuma ngurus kamu aja papa gak bisa, berarti papa gagal menjadi orang tua. Setidaknya papa pertahanin apa yang tersisa"

Agas tertawa seolah tak percaya perkataan papanya.

"Papa serius tidak memikirkan nikah lagi kayak mama? Papa sanggup urus aku seorang diri? Papa aja sibuk kerja"

Disaat seperti ini, Devan ingin sekali menghindar. Meski ia sudah menjelaskan banyak hal, Agas tetap mendesaknya untuk membahas masa lalu itu, jujur Devan pun belum siap. Ia harus membicarakan ini dengan Githa.

"Papa dan tuduhan yang dibuat mama mu itu cuma kesalahpahaman Gas. Papa kan udah bilang sama kamu, bahkan yang papa ninggalin kamu lama kan karena papa menyelesaikan masalah ini. Dan kamu bisa lihat buktinya mama kamu lah yang berpaling"

Agas melengkungkan bibirnya tanda ia sedih, melihat papanya memutuskan bertanggung jawab sendirian rasanya Agas seperti anak durhaka yang tidak bersyukur pada pemberian orang tuanya.

"Jangan berpikir papa akan ninggalin kamu, mending kita buktikan ke semua orang jika meski papa mengurus kamu seorang diri, papa yakin bisa"

Agas pun kembali tersenyum, ia memeluk erat papanya dengan mata berkaca-kaca. Setidaknya ia sudah yakin jika papanya akan berubah.

"Jangan meminta apapun dari mama atau bahkan abangmu lagi Agas. Mereka benar-benar memutus hubungan itu dengan kita. Masih mending jika keluarga baru mereka baik pada kamu. Jika tidak, papa yang akan maju paling depan untuk melindungi kamu"

Hati Agas merasa hangat mendengar penuturan papanya. Apakah papanya tidak tahu jika Agas sudah bertemu dengan keluarga baru mamanya dan Shaka. Dan Agas menyimpulkan satu hal jika benar mereka itu orang-orang yang sangat baik.

.
.
.

TBC!!

maaf jika ada typo dan kesalahan kalimat

Penasaran gak sih apa yang terjadi dengan Agas 13 tahun lalu?

Dijaga semangatnya

Nanti-nanti lagi~~~

Brother & BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang