8. Peringatan

220 15 0
                                        

HEY GUYS, Maaf baru update hari ini setelah sekian lama 😔

Ayo baca nextnya dulu :)

.
.
.

Mobil Shaka memasuki pekarangan rumah, seharusnya tempat ini menjadi yang ia benci. Meski belum lama ia meninggalkan semua itu, rasa sakit tetaplah rasa sakit.

"Kak Evan, ini rumah Agas, yang seperti kakak tahu, rumah lama mama dan abang juga" ujar Agas tersenyum meski ia sedih mengatakannya.

"Bagus banget. Kok abang ga pernah cerita sih" respon Evan dengan heboh.

"Kan abang bilang kapan-kapan bisa cerita. Kamu tahu kan Evan, waktu itu abang tidak ingin membahas apapun"

Rumah itu benar-benar seperti rumah hantu, sangat sepi. Hanya lampu teras yang menyala.

"Sebelum papa pergi, papa bilang apa ke kamu?" Tanya Shaka

"Cuma disuruh tungguin sampai urusan papa selesai, tiap aku telepon tidak pernah dijawab. Terakhir cuma kirim pesan kalau papa mau mempekerjakan orang di rumah"

Shaka mengangguk paham, ia menyuruh kedua adiknya itu masuk ke dalam rumah, Shaka pun masih di luar berniat mengabari ayah tirinya dan mamanya tentang keadaannya dengan Evan. Juga sekalian pulang ke rumah untuk mengambil baju seragam karena besok mereka akan berangkat sekolah dari rumah Agas.

Agas mengajak Evan ikut dengannya menuju kamar sambil berjalan ia juga berceloteh.

"Kak, dikamar atas ini cuma ada dua kamar, satu punya aku dan satunya bang Shaka. Setelah perceraian itu, kamar bang Shaka kosong. Eh tapi gak tau sih kalau masih ada barang-barangnya."

"Kamu emang berani tidur sendirian?" Tanya Evan.

"Diberani-beraniin kak, lagian udah mulai terbiasa juga" jawab Agas lagi-lagi dengan senyumannya.

"Dulu kakak juga sendirian dan aku sendiri benci itu. Terbiasa tapi tidak suka"

Agas menatap Evan, "Sekarang kakak udah gak sendirian lagi, udah ada mama dan bang Shaka"

Evan terdiam, "Gas, bukan bermaksud buat kamu sedih. T-tapi aku tidak akan membahas apapun jika itu menyakiti kamu. Mending kita bahas hal lain saja", Evan tersenyum lembut agar Agas tak merasa sedih.

"Emm okey, aku bersih-bersih dulu. Kak Evan juga mending ganti baju, baju Agas banyak, ukurannya besar kok"

Evan mengangguk, ia menelusuri kamar Agas yang sangat minimalis, nyaman, juga rapi. Satu hal yang Evan suka disaat ia melihat koleksi action figure disana. Agas pasti tipe orang yang menjaga barang dengan baik.

Setelah sekian lama, akhirnya disinilah Evan dan Agas, tiduran dengan nyaman. Meski mereka baru kenalan hari ini, mereka sudah merasa dekat.

"Kak Evan sekolah dimana?" Tanya Agas.

"Bina Bangsa"

"Wow lumayan jauh dari sekolah aku dan abang. Kenapa ga bilang abang pindah ke sekolah kakak?"

Evan menggeleng ragu, "waktu itu ditawarin ayah, tapi ditolak cepat sama abang, katanya nanggung"

"Ayahnya kak Evan pasti orang yang baik"

"Kakak sendiri mendefinisikan ayah sebagai seseorang yang pekerja keras dan bertanggung jawab" Evan menatap mata Agas, berusaha tidak menimbulkan perasaan sedih jika ia membahas keluarga.

"Aku yakin, mama dan abang pasti bahagia banget disana"

Evan tak menjawab lagi, ia lihat mata Agas memberat dan mulai tertutup. Tanpa ragu tangan Evan mengelus kepala sang adik dengan lembut.

"Maaf Gas, jika kesannya kakak merebut mama dan abangmu" monolog Evan, untung Agas sudah tidur.

🔸️🔸️🔸️

Mobil Shaka terparkir rapi diparkiran sekolah, banyak mata memandang dan memekik histeris, beritahu Agas jika ia termasuk siswa populer. Tahun pertamanya di sekolah, ia memenangkan debat bahasa inggris, pidato bahasa inggris bahkan menjadi bagian dari english club. Salah satu ekskul ekstrim di sekolah itu.

"Kalau tidak enak badan, langsung ke UKS saja." Pesan Shaka dan dianggukin oleh Agas.

Bisakah Agas ke UKS sekarang, jujur badannya benar-benar lemas, semalam ia tak bisa tidur meski Evan menemaninya semalaman. Selain jantungnya yang berdebar-debar tak nyaman, Agas menemukan kaki dan tangannya bengkak. Ia takut sekali. Tapi tak tahu mau mengadu kepada siapa.

Jam masuk masih sekitar 15 menit lagi, Agas memutuskan ke UKS untuk meminta obat pereda nyeri agar ia fokus belajar.

Langkahnya terhenti saat ruang UKS terbuka dan terdengar suara orang berbincang. Agas ragu, ia takut jika tiba-tiba masuk dan mengganggu. Suaranya terdengar sampai di luar satu kalimat yang terdengar adalah, "Papa sekarang jarang di rumah, sampai perceraian itu tiba mama gak mau lagi tinggal bareng."

Itu suara Jeano. Kakak kelas yang membencinya. Agas akan habis jika Jeano tahu ia kembali menguping. Saat hendak putar balik, Agas menabrak seseorang yang memegang tripot sampai terjatuh.

"Astaga kak, maaf Agas tidak sengaja" panik Agas saat kakak kelasnya yang ia tabrak.

"Lo ngapain di depan pintu UKS? Ngintipin orang ya" Bintara mengeluh dan merasa sakit karena jatuh terduduk.

Karena mendengar keributan, Dokter Feni dan Jeano keluar untuk memeriksa.

"Bintara, Agas? Kalian ngapain?" Tanya Feni.

"Saya mau lewat bu, tapi Agas nabrak saya sampai jatuh. Dia daritadi diluar mau masuk kayaknya ragu" perkataan itu lepas saja dari mulut Bintara, Jeano pun menatap Agas dengan tatapan bencinya.

Bel masuk pun berbunyi, Feni pun menyuruh murid-muridnya itu kembali ke kelas.

"Sudah bel, lebih baik kalian kembali ke kelas, belajar yang baik"

Sepeninggalan Feni, Jeano menarik kasar Agas menjauh dari UKS, hal itu tak luput dari pandangan Bintara.

"Mau lo apa sih?! Gue udah peringatkan lo waktu itu untuk jangan ikut campur. Apa yang lo denger dari luar hah?!" Ucap Jeano kasar.

"Gue ga berniat denger apapun kak, tujuan gue emang ke UKS temuin bu Feni minta obat"

"Jangan alasan, lo pasti mau ngejek gue kan? Satu-satu orang yang tahu masalah gue cuma bu Feni, sekarang tambah lo. Awas aja kalo lo ceritain masalah ini ke orang lain"

Agas menggeleng, "enggak akan kak, Agas janji"

Jeano berlalu begitu saja, ia tidak punya banyak tenaga juga marah-marah seperti tadi. Banyaknya masalah yang menimpanya membuatnya pasrah. Tapi jika ada yang tahu lagi masalah ini, Jeano pastikan orang itu tidak akan tenang. Ia pernah di tertawakan karena membuat masalah yang menggemparkan sekolah dulu. Jangan sampai ia merasakan itu untuk kedua kalinya.

Agas juga bukan orang seperti itu, mau masalahnya menjadi bahan pembicaraan semua orang, Agas tidak akan penasaran apalagi sampai mengejek kakak kelasnya itu. Hidupnya saja sudah berantakan bagaimana ia mau menganggapi masalah orang lain.

.
.
.

TBC!!!

Itu dulu ya 😅

Maap ini adalah update terlama aku huhuhu.

Gak ada yang bilang sih, dunia perkuliahan akan sesibuk ini wkwk

Tapi aman guys, ceritanya akan terus berlanjut ya. Akan aku selesaikan.

Dan Happy late new year all. Ini udah 2025.

Dijaga semangatnya, nanti-nanti lagi 😄

Brother & BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang