Keadaan IGD sangat ricuh, apalagi setelah satu pasien gawat darurat ditangani didalam sana. Dokter dan perawat sangat sibuk menanganinya, berusaha memberikan yang terbaik.
"Agas...kamu dengar saya, saya mohon bertahan Agas" Jovi mengiterupsi Agas yang kesadarannya perlahan menghilang. Memerintahkan suster segera memasang masker oksigen itu.
"Pantau terus keadaanya sampai 24 jam kedepanya. Saya perlu bicara dengan orang tuanya terkait operasi" perintah Jovi pada perawat disana. Lalu dokter tampan itu keluar ruangan.
Melihat dokter keluar, Devan dan Githa juga Evan yang menunggu disana langsung menyerbu sang dokter.
"Dokter...loh anda dokter Jovi? Dokter yang operasi Agas dulu kan?" Ucap Githa mengingat paras tampan dokter Jovi. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, apalagi diperkuat dengan nametag-nya.
"Iya benar bu Githa, saya dokter yang sama yang menangani operasi anak ibu 13 tahun lalu" jawab Jovi ramah.
Devan dan Githa saling pandang, "J-jadi bagaimana keadaan Agas. Katakan dia baik-baik saja" serbu Githa.
Jovi menggeleng, "keadaannya tidak begitu baik, fungsi jantungnya mulai menurun dan pola hidup yang kacau serta beban pikiran membuat keadaannya drop. Ini mungkin serangan jantung terparahnya, saya tidak bisa bayangkan jika Agas tidak dibawa tepat waktu. Kita bisa kehilangannya"
Wajah Devan maupun Githa sama-sama terkejutnya. Mereka bingung dan tidak menyangka jika anaknya kembali memiliki penyakit sialan itu.
"Maksud kamu apa Jovi? Agas terkena penyakit itu lagi? Sejak kapan?" Devan berusaha meminta penjelasan.
"Andai bapak dan ibu ada saat Agas pertama kali dibawa kesini. Keadaan itu yang membuat saya waspada. Lalu ia datang lagi dalam keadaan tidak sadarkan diri dan berani melakukan pemeriksaan. Dan ya sekarang ia terbaring lemah karena tidak ada tindakan apapun. Apa kalian tidak pernah melihat Agas mengeluh atau kesakitan dirumah?"
Devan dan Githa diam, membuang muka begitu saja. Jovi pun bingung, meski begitu masalah ini tidak bisa mereka sepelekan.
"Mari ikut saya ke ruangan. Saya akan menjelaskan semuanya disana dan rencana pengobatannya, persetujuan orang tua itu sangat penting"
Devan dan Githa mengangguk, sebelum pergi Githa menitip pesan pada Evan, "Evan, mama ke ruangan dokter dulu. Kamu tunggu disini saja ya. Nanti mama kenalkan kamu sama Agas"
Evan mengangguk. Oh haruskan ia bilang jika ia sudah mengenal Agas? Tapi Evan tak bohong, ia pun khawatir dengan kondisi Agas.
🔸️🔸️🔸️
Hari sudah mulai gelap, Githa dan Evan turun dari taksi yang mengantar mereka ke rumah. Melihat mobil terparkir rapi disana membuat Githa sadar akan sesuatu, ia harus menjelaskan semua ini kepada suaminya.
Benar dugaannya, di ruang tamu Arsen dan Shaka duduk berhadapan, seolah menunggunya pulang.
"Sudah pulang Git? Sini duduk" panggil Arsen dan menyuruh si istri duduk disampingnya. Githa menurut. Evan pun ikut duduk disamping Shaka.
"Maaf mas Arsen, a-aku_"
"Gimana keadaan Agas?" Arsen memotong ucapan sang istri yang tampak ingin menjelaskan sesuatu.
"K-keadaanya tidak baik"
"Maksud mama apa? Tadi Shaka mau lihat Agas dilarang sama papa." Ya benar, Shaka sudah tiba di rumah sakit, namun yang ia dapat hanya papanya menyuruhnya pulang karena Agas belum bisa ditemui. Karena muak melihat papanya, Shaka pun pergi dari sana. Harapannya kini cuma sang mama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother & Broken
FanfictionRusak? Apa itu kata yang mewakili kehidupan kita? Permasalahan orang tua, teman, dan orang lain. Haruskah kita peduli? Aku ingin tetap membuat hubungan persaudaraan kita baik meski masalah akan terus datang tanpa henti. Dan disaat itu semua telah us...
