it's been a long long time guys, I'm very very sorry 😭🙏🏻
are you still there? 🥺
Ayoooo next
.
.
.
Kejadian perginya Shaka dari rumah belum juga mendapatkan kabar terbaru. Arsen maupun Githa berusaha agar menemukan Shaka dan membuat anak itu mengerti. Tetapi yang bisa mereka lakukan hanya memberi waktu untuknya.
Ini hari minggu, dan Evan berencana mengajak Agas jalan-jalan. Bukan tanpa alasan, Arsen, Githa dan Devan berencana membahas sesuatu yang berat, entahlah, Evan pun tak paham. Ia diminta menemani Agas dirumahnya.
"Agas, kamu baik kan? Gimana perasaan kamu setelah tahu semua kebenaran ini?" Tanya Evan saat ia dan Agas sedang asik rebahan di kamar Agas.
"ya seperti yang kak Evan lihat, aku baik-baik saja, sedikit tidak menyangka dibagian mama dan om Arsen sudah menjalin hubungan duluan"
"Ya kakak juga kaget, semua yang tidak aku ketahui terungkap semalam. Kamu ingat juga kan? Aku bahkan tidak tahu ma Git punya dua anak. Kakak sudah banyak dibohongi"
Agas kini menatap Evan dengan serius, "kak Evan sudah banyak dibohongi, kenapa masih bersikap baik ke om Arsen dan mama, atau kenapa kakak tidak kecewa seperti bang Shaka?"
Evan hampir tertawa keras, tapi ia juga tak mungkin menyembunyikan perasaannya,
"Rasanya tuh sakit banget saat mendengar kebenaran yang tidak kita ketahui. Tapi saat mendengar penjelasan dibalik semua itu, bagaimana aku tidak bersikap biasa saja? Sudah banyak hal menyakitkan yang aku terima, kakak hanya tidak mau, ketika kecewa dengan seseorang, orang itu akan pergi"
Wajah Evan menyendu, ia jadi ingat bundanya.
"Kakak gak mau cerita tentang ibu kandung kakak? Apakah sosok yang baik? Dan kenapa kakak bisa cepat menerima mama Githa?"
Pertanyaan yang dengan senang hati akan Evan jawab.
"Bunda, aku memanggilnya bunda, wanita yang paling kakak sayangi dan ingin melindunginya dari apapun. Bunda sangat suka memujiku meski aku hanya mencuci piring. Tiap hari aku di jemput bunda, jika ada waktu kami mampir ke supermarket dan belanja. Hingga sesuatu yang buruk datang. Bunda di vonis memiliki penyakit kanker serviks dan sudah parah, penyakit itu menyebar menyerang tubuh bunda. Disaat-saat terakhir, kami menghabiskan waktu dengan membuat kue, lalu bunda masuk ICU lama sekali hingga bunda pergi ke tempat yang lebih baik".
Evan merangkul Agas, menunjukan salah satu wallpaper ponselnya, "mama Githa adalah pilihan ayah, kakak yakin jika pilihan ayah itu tidak salah. Lagian, seorang ibu sama saja, pasti sayang pada anak-anaknya. Kakak tidak mau apa yang sudah Tuhan berikan, malah aku tidak menyukainya. Lebih baik bersyukur dek. Dan mengenal mu, bang Shaka bahkan om Devan juga hal yang aku syukuri"
Mata Agas berbinar, perkataan Evan persis seperti Arsen. Mereka menganggap ia adalah bagian dari kekeluargaan itu. Padahal Agas hanya sebatas anak Githa.
"M-maksud kakak, apa Agas bisa jadi adik untuk kak Evan? M-meski Agas bukan bagian dari keluarga kalian"
"Hey justru itu yang selalu kakak harapkan. Seorang adik laki-laki. Biarlah urusan orang tua kita selesai cepat atau lambat. Karena yang kakak tahu, kamu itu adalah adikku. Dan bang Shaka adalah kakak kita"
Mereka pun tertawa bersama-sama. Evan memang tahu cara menghilangkan kesedihan. Meski ia sedih saat harus menceritakan tentang ibunya.
🔸️🔸️🔸️
Shaka masih memasang wajah kesalnya sepanjang hari. Sahabatnya si Satria hanya berusaha sabar. Ia pun kaget saat tengah malam Shaka menggedor pintu rumahnya dan langsung masuk begitu saja, tak lama Shaka menangis. Mengharuskan Satria mendengar cerita temannya itu berjam-jam. Untung saja orang tua Satria sedang di luar kota.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother & Broken
FanfictionRusak? Apa itu kata yang mewakili kehidupan kita? Permasalahan orang tua, teman, dan orang lain. Haruskah kita peduli? Aku ingin tetap membuat hubungan persaudaraan kita baik meski masalah akan terus datang tanpa henti. Dan disaat itu semua telah us...
