33. Perasaan tak tentu

102 5 0
                                        

Hi! Double up yuk

.
.
.

Hari pun mulai gelap, diruang rawat itu, terlihat Evan dan Agas tertidur dengan tenang. Devan ada disana memperhatikan dua anak yang terlelap. Ia pandangi wajah Evan. Mungkin bagi Devan ia tak mengenal jauh anak dari Arsen ini, tapi ia yakin dia anak yang baik.

"Evan...bangun dulu ya. Agas mau diperiksa dokter" Devan berbisik pelan ditelinga Evan. Dengan cepat Evan membuka mata dan terkejut.

"Astaga om Devan, m-maaf ya om, Evan kebablasan tertidur. Harusnya Evan jagain Agas" ucapnya panik sambil berdiri.

Devan terkekeh, "tidak apa-apa, terima kasih. Kita keluar sebentar ya. Kamu mau makan?"

"I-iya om"

Disinilah Devan dan Evan berada, kantin rumah sakit. Sembari menunggu pemeriksaan Agas, mereka memutuskan makan malam sebentar.

"Gimana kabar ayah dan mama mu semenjak kejadian ini? Adakah penyesalan?" Tanya Devan to the point.

"Mama merasa sangat bersalah, dan selalu menanyakan kemana bang Shaka pergi. Mama mau minta maaf"

Devan mengangguk, "lalu, bagaimana dengan kamu? Setelah tahu kebenarannya?"

Evan mengulum bibirnya, tidak ada kata yang bisa terucap. Hatinya masih mau menerima tapi ia tak mau jika tak ada yang mendukungnya.

"Aku masih mau terima mama. Aku juga gak pernah menyalahkan ayah. Justru aku mau tahu apakah bang Shaka dan Agas masih mau terima aku? Karena ma Git sudah buat keputusan itu, dan kemauan aku juga. Aku minta maaf om Devan" ucap Evan menunduk.

"Begini nak, suatu saat jika kamu sudah berkeluarga, kamu harus paham bagaimana cara mempertahankan rumah tanggamu, apapun yang terjadi. Dengan atau tanpa mengingat masa lalu mu. Maaf jika om egois juga. Kamu mungkin bisa mendapatkan Githa, tapi untuk Shaka, sepertinya tidak, karena saya ingin dia kembali ke rumah saya"

Evan menunduk, meremat tangannya, kemudian ia mengangguk tanda setuju dengan perkataan Devan. Melihat anaknya Arsen sepertinya sangat sedih, Devan meraih tangan Evan dan menatap matanya dalam.

"Tapi dengar perkataan om baik-baik Evan..."

🔸️🔸️🔸️

"Mas Arsen, ini beneran gakpapa kita ke rumah mas Devan? Emangnya Shaka mau ketemu dan maafin aku?" Ucap Githa cemas.

Arsen menggenggam tangan Githa dengan lembut, "kan tujuannya emang mau minta maaf sama Shaka. Yang penting kamu udah niat datang langsung kesana. Kalau Shaka butuh waktu, ya udah kita kasih aja"

Githa jadi tenang, ia pun segera bergegas pergi karena kekhawatirannya. Githa tidak tenang jika belum mendapatkan maaf dari Shaka.

"Evan kemana ya mas? Kok udah malem belum pulang" Tanya Githa saat mereka sudah dimobil.

"Ke rumah temennya mungkin. Tadi sih udah izin pulang telat. Biarin aja, namanya juga remaja"

Githa mengangguk paham, kemudian ia fokus, kalimat apa yang akan ia sampaikan didepan Shaka nanti?

"Hati-hati ya mas, hujan nih, jalanannya licin"

"Iya Git"

.

.

Shaka terburu-buru beberes agar secepatnya bisa ke rumah sakit. Ia sudah meninggalkan adiknya sendirian seharian ini. Mau bagaimana lagi? Ia juga seorang pelajar yang memperjuangkan masa depan. Apalagi hari ini ia cukup senang karena Jeano akhirnya mendapatkan keadilan.

TOK TOK TOK

Saat Shaka turun tangga, terdengar pintu di ketuk. Siapa yang datang?

Karena mbak Vina sepertinya sibuk, Shaka pun yang membuka pintu dan betapa terkejutnya saat menemukan presensi sang mama dan ayahnya. Wajah Shaka langsung menegang, membuang muka.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 21 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Brother & BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang