5. Kejadian

329 26 0
                                        

Next kuy

.
.
.

Pagi harinya Agas bangun dengan perasaan bahagia, jika sebelumnya ia merasakan takut sendirian kali ini berbeda. Agas tidak mengerti kenapa sang kakak memutuskan untuk menemaninya disini.

Agas turun dengan seragam sekolahnya, ia bisa mendengar ribut orang memasak di dapur. Ya benar, Shaka disana sedang memasak, meski cuma telur dadar dan nasi.

"Sorry, cuma masak ini. Lupa beli bahan-bahan makanan. Kamu gak pernah belanja ya?"

Agas menggeleng, "Maunya sih nanti bareng papa. Yang Agas denger sih Papa mau nyewa orang buat bantu-bantu dirumah. Sekalian bersih-bersih dan masak juga"

"Itu mama yang suruh. Abang tau papa tidak akan pernah peduli. Dia aja ninggalin kamu disini" Agas sedikit terkejut mendengar itu, tak tahu jika mama nya masih memikirkannya disini.

"A-agas gapapa kok bang. Udah keputusan Agas juga dulu. Kalau mau menyesal rasanya sudah terlambat"

Shaka menghela napas panjang. Ia jadi berpikir yang sama dengan Agas, mamanya sudah bahagia dengan pilihannya. Bahkan tidak pernah mengungkit tentang masa lalu. Atau bahkan menanyakan kabar anaknya yang terkurung dalam kesendirian ini.

"Abang disini tanpa sepengetahuan siapapun, abang minta izin ke mama kalau nginep di rumah temen. Kamu kalau tidak keberatan, jangan bahas apapun tentang masa lalu kita. Perceraian papa dan mama buang jauh-jauh ingatan itu. Kalau kamu mau, anggap saja cuma kamu dan abang yang tersisa. Karena nyatanya, mereka tidak peduli Gas"

Agas meremat sendok garpunya, ia berusaha menahan emosi yang entah kenapa bangkit disaat seperti ini. Benar seharusnya dari dulu, ia memilih ikut mama dan abangnya. Bahkan sampai sekarang Agas tidak tahu keluarga seperti apa yang mama dan abangnya dapat setelah perpisahan mereka.

"Mama juga benci sama Agas? Karena Agas tidak mau ikut mama?" Tanya si adik dengan suara bergetar.

"Ya karena keputusan mu, dan sepertinya mama sudah nyaman dengan kehidupan barunya. Karena abang masih peduli sama kamu, makanya abang kasih tahu kamu tentang hal ini di awal"

Agas pun mengangguk mengerti, ia pun tak bisa mengharapkan apapun. Mustahil baginya untuk sekedar melihat keluarga kembali utuh.

"Habiskan makanan mu, abang tunggu di depan"

🔸️🔸️🔸️

"What's up bro, gue kirain lo ga masuk sekolah." Reyhan menyapa Agas yang masuk kedalam kelas dengan wajah datar.

"Alasan gue ga masuk? Nanti gue bodoh kek lo"

"Santai elah, gue mau minta maaf" ujar Reyhan.

"Buat?"

"Gak jengukin lo di UKS, gak peka juga kalo lo sakit waktu upacara kemaren"

Agas malah tertawa garing, ia pun tak marah pada sahabatnya ini.

"Gak mau, traktir gue mie ayam dulu"

"Lo meres gue anjir, uang gue udah disedot Rayan ini nambah lo lagi"

Agas celinguk mencari kembaran Reyhan ini, dan sadar jika presensinya tak ada disana.

"Apa? Lo cariin Rayan? Dia ngurus pameran. Akhir bulan ini kan ada pameran seni sekolah. Sibuk dia tuh jadi panitia" Perkataan Reyhan pun menjawab pertanyaan Agas.

"Lo kok gak kayak kembaran lo sih, aktif kegiatan atau ikut club akademik kek gue"

Reyhan menggeleng sambil tersenyum, "Gue bagian liatin doang aja. Capek tahu berada dalam lingkaran kesibukan. Lagian kalo kekurangan panitia gue siap kok bantuin. Tapi untuk menjadi bagian dari mereka, gak dulu deh"

Brother & BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang