Kuyy lanjut, sorry agak lama :(
.
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi, Shaka membereskan tas nya lalu berjalan keluar kelas. Ia berencana ke aula untuk melihat progres acara pameran seni sekolah. Sekalian menemui Rayan untuk mengambil undangan, Shaka ingat saat sang ayah tirinya menawarkan menjadi salah satu sponsor utama acara sekolah mereka ini. Sungguh Shaka sangat senang.
"Woy Shaka" Shaka berbalik dan tersenyum saat Satria menghampirinya, ada Bintara juga disana yang menenteng kamera dan tripot andalannya.
"Satria, lo mau kemana? Biasanya langsung pulang udah bel daritadi" tanya Shaka.
"Nih anter adek gue ke aula, dia mau video aula yang udah jadi untuk buat konten after movie. Kayaknya udah selesai tuh dekornya" jawab Satria sambil menunjuk adiknya.
"Gak tau nih udah selesai apa belum, ini gue mau cek" ucap Shaka.
Satria mengernyit, apa Shaka tidak tahu keadaan adiknya yang sakit?
"Sha lo gak pulang bareng Agas? Lo gak tau keadaan adek lo?"
Shaka menatap Satria bingung, "Agas kenapa?"
"Tadi gue gak sengaja nabrak dia pas jalan di koridor, wajah Agas pucet banget kek mayat. Udah gue seret ke UKS"
Shaka terdiam, niat ke aula batal dan bergegas menuju arah UKS. Satria hanya menghela napas saja melihat temannya belalu.
"Bang, gue pernah lihat Agas ngobrol bareng kak Jeano di belakang aula. Kayak marah gitu mukanya" ucap Bintara teringat kejadiannya yang bertemu Agas kemarin.
"Jangan berurusan dengan Jeano ya dek, please apapun itu mending lo menghindar" Satria mengingatkan sang adik, menatap mata coklat itu dengan penuh keseriusan.
"I-iya paham bang"
🔸️🔸️🔸️
"Agas kemana dok? Katanya tadi sakit ya?" Tanya Shaka yang tidak bisa menyembunyikan wajah paniknya.
Dokter Feni menggeleng tidak tahu, "Tadi pamit ke kelas, ibu juga tidak tahu kemana setelah itu. Tapi Shaka, sebaiknya adikmu melakukan pemeriksaan di rumah sakit ya" ujar dokter Feni, tak hanya itu, ia juga menjelaskan kondisi Agas dan keluhan yang dialami sang adik.
Shaka yang mendengar itu seketika lemas, teringat kejadian beberapa tahun lalu
"Tidak mungkin. Apa penyakitnya muncul lagi?" Monolog Shaka. Setelah mengucapkan terima kasih pada Feni, Shaka bergegas mencari adiknya. Entah ia harus ke rumah itu lagi, akan Shaka lakukan.
Disisi lain, Agas tidak bisa menyembunyikan raut kesalnya, bagaimana tidak, dua sahabatnya ini terus mengikutinya kemanapun ia pergi. Setelah dari UKS, mereka mampir ke aula sebentar, lalu ke kantin untuk membeli air mineral dan sekarang mereka masih disana.
"Gue telepon bang Shaka ya" Rayan bersiap mengangkat ponselnya namun ditahan Agas.
"G-ga usah, gue baik-baik aja kok"
"Biar lo bisa periksa ke rumah sakit Gas" ucap Rayan lagi.
"Bang Shaka sibuk" elak Agas.
Sedang asik berargumen, ketiga orang disana melihat siapa yang berjalan ke arah mereka. Meski ia memasang wajah biasa saja, namun aura mencekam seolah hadir disekitar mereka.
Jeano datang dan langsung menatap Agas intens.
"Hai kak" sapa Reyhan pertama kali, ia tahu Agas maupun Rayan tak mau bicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother & Broken
Fiksi PenggemarRusak? Apa itu kata yang mewakili kehidupan kita? Permasalahan orang tua, teman, dan orang lain. Haruskah kita peduli? Aku ingin tetap membuat hubungan persaudaraan kita baik meski masalah akan terus datang tanpa henti. Dan disaat itu semua telah us...
