Ayo nexttttt
.
.
.
Sekitar hampir 4 jam lamanya mata yang damai terpejam itu pun terbuka, ia berusaha memfokuskan pandangannya dan ia menyadari jika ini bukan di sekolah ataupun rumahnya.
Ruangan itu sepi, tak ada seorang pun disana. Ia bawa tubuhnya duduk, Agas menghela napas menghalau pusing yang masih tersisa. Agas yakin ia benar-benar sendirian saat ini, tidak akan ada yang peduli padanya. Memikirkan itu membuatnya sedih, ia menangis dalam sunyi kamar rawatnya.
CKLEK
Masuklah seorang pemuda tampan yang tidak Agas kenal. Dari penampilannya, ia seperti anak SMA kaya raya yang punya kehidupan mewah.
"Kamu sudah bangun ya" ucapnya mendekat ke arah ranjang pesakitan Agas.
Agas bingung, "siapa?"
Sudah pemuda itu duga, dirinya maupun Agas tidak ada yang saling mengenal.
"Nama aku Evan, aku adik tiri bang Shaka."
Mata Agas membola, ia menatap lekat pemuda dihadapannya ini. Inikah ketakutannya, takut akan rasa sayang abangnya akan berganti ke keluarga barunya.
"Agas mau pulang. M-maaf udah merepotkan"
Sebenarnya Agas tidak mengerti kenapa bisa adik tiri Shaka ada disini. Kenapa pertemuan mereka sangat tidak bagus.
"Tunggu bang Shaka, tadi abang keluar cariin kita makan. Kamu diem sini aja aku temenin"
Agas diam, cara bicara pemuda itu sangat lembut dan terkesan tidak ketus. Apalagi penggunaan kata 'aku-kamu', bukankah kata itu Agas gunakan dan hanya di tujukan di dalam lingkup keluarga saja. 'Ternyata dia baik' pikir Agas.
"Kita kenalan dulu gimana, nama aku Evan Januarta, kelas 2 SMA, hobby dengerin musik kalau lagi sedih" ucapnya dengan senyuman kecil, tapi kenapa Agas jadi takut melihatnya, wajahnya tajam dan tersenyum membuatnya terlihat jelek. Dan ternyata dia lebih tua. Agas harus memanggilnya apa, kakak?
"Giliran kamu"
Agas berdehem, "Nama aku Agas Darkasa Adiyatma, panggil saja Agas. Masih kelas 10, suka tidur"
Evan mengangguk paham sedikit terkekeh, ia pun kembali pada dirinya yang suka menceritakan apapun, bahkan Evan menceritakan kejadian sekolahnya tadi padahal ia belum menceritakannya pada Shaka.
"Aku juga hobby fotografi, itu cara aku menyimpan kenangan" cerita Evan ditutup dengan mengaku hobby barunya pada Agas. Beberapa hari lalu saat ia minta ditemani beli kamera, sebenarnya bukan untuk ekskul, Itu hanyalah alasan. Faktanya, Evan membeli kamera karena ia ingin menyimpan banyak memori, apalagi ia sudah punya keluarga baru sekarang. Dan ia menceritakan hal itu pada orang yang baru ia kenal beberapa jam lalu. Entahlah, Evan pun nyaman dengan Agas.
Tak lama pintu terbuka dan munculah Shaka. Si sulung itu mendekat dan tersenyum menemukan kedua adiknya mengobrol santai, benar ternyata feelingnya, Evan dan Agas bisa akur satu sama lain.
"Gimana perasaan kamu?" Tanya Shaka lembut.
"Baik bang"
"Makan dulu yuk, tebak abang beliin kamu apa" Shaka mengangkat kotak makan yang jelas Agas tahu apa itu.
"Sup ayam langganan kita bang? Itu kan jauh di tengah kota" Agas menerima kotak makan itu, membukanya dan rasa laparnya tak bisa disembunyikan lagi. Ia makan dengan lahap.
"Demi kamu, abang rela kesana"
Hati Agas menghangat, entah kenapa ketakutan yang ia rasakan tadi seketika menghilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother & Broken
FanfictionRusak? Apa itu kata yang mewakili kehidupan kita? Permasalahan orang tua, teman, dan orang lain. Haruskah kita peduli? Aku ingin tetap membuat hubungan persaudaraan kita baik meski masalah akan terus datang tanpa henti. Dan disaat itu semua telah us...
