6. Bertemu

261 24 1
                                        

Ayo next, udah lama banget nih :(

.
.
.

Evan menatap layar ponselnya yang menampilkan foto dirinya dan sang ayah. Dari dulu ia ingin sekali memasang wallpaper keluarganya disana. Niatnya tadi menghubungi Shaka, tapi sudah 2 panggilan dan tidak ada jawaban. Evan ingin dijemput karena mobilnya di pakai sang mama untuk ke kantor. Abangnya itu juga tidak pulang semalaman.

"Apa pulang naik taksi?" Monolognya, lagian ini sudah mau sore. Keadaan jalanan juga pasti sangat macet.

"Bang Shaka mungkin sibuk urus kegiatan sekolahnya. Yaudah pulang naik taksi aja"

Baru saja mau membuka aplikasi memesan taksi, Evan mendapatkan telepon dari sang abang. Wajahnya berubah senang.

"Halo bang?"

    "Evan, sudah pulang sekolah?"

"Sudah bang, ini mau pesan taksi. Kalau bang Shaka sibuk, gapapa lanjutin aja"

     "Abang...di rumah sakit. Abang mau minta kamu nyusul. Takutnya di rumah gak ada orang. Ayah dan mama sibuk"

Perasaan Evan jadi tidak enak,

"Abang sakit? Evan nyusul kesana ya"

    "Iya"

Tanpa menunggu lagi, Evan memesan ojek online saja. Menuju rumah sakit tempat Shaka berada.

🔸️🔸️🔸️

Shaka marah, ia tidak bisa menahan dirinya saat tahu adiknya kembali jatuh sakit. Tadi saat bel masuk, Shaka yang berniat mengecek aula mendapatkan telepon dari Rayan. Dan mengabarinya jika saat itu Agas ditemukan pingsan di aula lama sekolah. Perlu rujukan ke rumah sakit karena saturasi oksigen Agas dibawah angka normal. Ini saja Agas di tangani di IGD.

Shaka tak sendirian, ia bersama teman kembar adiknya. Apalagi tadi Rayan juga menceritakan kronologinya yang mencurigai Jeano.

"Kalian pulang aja, makasih udah bantuin abang bawa Agas ke Rumah Sakit" Ucap Shaka, lalu memandang sendu pintu IGD.

"Santai bang, kayak sama siapa aja. Maafin Reyhan juga bang, gak bisa jagain Agas"

"Enggak perlu minta maaf, kalian selalu ada buat Agas aja udah lebih dari cukup", Shaka menenangkan Reyhan.

"Bang...untuk kasus kak Jeano, apa lapor ke pihak sekolah?" Tanya Rayan tiba-tiba.

"Jujur, gue takut banget berurusan dengan orang yang punya kasus kriminal, tapi gue gak bisa biarin dia terus. Kalau besok-besok dia nyakitin Agas lagi? Atau orang lain deh" ucap Reyhan menggebu-gebu.

Shaka terdiam sebentar, "Emang, Agas buat masalah apa dengan Jeano?" Tanya Shaka penasaran, setahu Shaka, adiknya itu bukan anak bermasalah, lalu Jeano juga tidak mungkin menyakiti tanpa alasan.

Reyhan dan Rayan saling pandang, dan menggeleng tak tahu. "Agas bukan orang yang suka cari masalah bang, gue jamin Agas tuh sasaran kak Jeano aja karena dia sensitif akan masa lalunya" ujar Reyhan.

Di tengah pembicaraan serius itu, datanglah seorang pemuda tampan, Shaka tersenyum melihatnya.

"Loh kirain bang Shaka yang sakit" ujar Evan. Ia masuk dalam lingkaran manusia yang sedang berbicara dengan serius.

"Bukan abang" Shaka berdehem dan memalingkan wajahnya.

Reyhan maupun Rayan tidak mengenal pemuda itu, tapi sepertinya dia mempunyai hubungan dengan Shaka.

"Reyhan, Rayan, kenalin ini Evan. Evan ini anak dari ayah tiri abang. Setelah perceraian kedua orang tua kami, abang memilih ikut tante Githa dan ya sekarang kita semua sudah punya kehidupan masing-masing" Shaka dengan santai memperkenalkan adik tirinya itu pada si kembar.

Brother & BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang