Gilang dan Bagas bersiap-siap untuk pergi ke sebuah gedung kosong yang berada didarah Jakarta Utara. Mereka membawa beberapa benda tajam didalam tasnya.
"Udah siap semuanya, Gas?" tanya Gilang memastikan.
"Aman, Lang."
"Sip."
Gilang tersenyum miring, "Sebentar lagi gue bakal melihat mayat Rafka yang hancur!" batinnya.
"Ayo berangkat!" ajaknya seraya berjalan keluar ruangan diikuti oleh Bagas dengan sebuah tas dipundaknya.
Damar dan Agra berjalan menghampiri Stevi dan juga Laskar yang kini sedang berada ditaman belakang sekolah.
"Kita mulai sekarang?" tanya Damar saat sudah berdiri didepan Stevi dan Laskar.
Laskar dan Stevi pun saling pandang. Lalu mereka berdua pun menganggukkan kepalanya.
"Iya, kita mulai sekarang!" putus Stevi.
"Kar, sekarang lo ikut Agra ke parkiran!" lanjutnya menyuruh Laskar. Sedangkan Laskar menganggukkan kepalanya mantap.
"Ayo, Kar." ajak Agra seraya berjalan meninggalkan Stevi dan Damar, diikuti Laskar dibelakangnya.
Setelah Laskar dan Agra pergi, Damar menatap Stevi seraya berkata, "Gue nunggu dimana?"
"Lo tunggu disini aja dulu, nanti kalau udah sesuai rencana gue bakal telpon lo!" kata Stevi yang diangguki oleh Damar. Lalu dia berjalan pergi dari taman belakang sekolah tersebut meninggalkan Damar sendirian.
Dari kejauhan terdapat seseorang yang tersenyum jahat. "Tidak semudah itu bro!" katanya.
***
"Woy! Udah dong pelukannya, gak liat kita berempat jomblo apa," ucap Radit sewot.
Nara melirik sinis kearah Radit, "Dih, lo kali yang jomblo. Gue mah kagak," balasnya dengan sombong.
"Lah, emang lo kagak jomblo?" tanya Radit penasaran.
"Nggak!"
"Emang siapa cowoknya?" tanya lagi Radit.
"Afgan," jawab Nara dengan percaya diri.
"Dih, HALU!"
"Yeu, biarin yang penting gue happy," balas Nara tidak mau kalah.
Sedangkan Aghata dan Rafka yang sudah melepaskan pelukannya sejak tadi langsung memutar matanya kala melihat pertengkaran Radit dan Nara.
"Udah, gak usah berdebat! Kalau sama-sama jomblo mah kagak usah sok iye," sahut Karel.
"Setuju," ucap Thalia menyetujui perkataan Karel.
"Yeu, lo juga jomblo egek!" balas Radit tak terima.
"Tau," sahut Nara.
"Udah, udah! Ribut terus, gak cape apa?" lerai Rafka yang sudah muak melihat pertengkaran kecil teman-temannya.
Akhirnya mereka pun bungkam setelah mendapatkan ocehan dari sang ketua, siapa lagi kalau bukan Rafka.
"Rafka."
Mendengar namanya dipanggil, Rafka langsung menoleh ke belakang. Begitupun dengan Aghata, Nara, Thalia, Karel dan Radit. Mereka semua melihat kehadiran seorang cewek yang membuat wajah mereka langsung berubah datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Evil Beside Angel (END)
Teen FictionTidak semua orang sifatnya akan sesuai dengan wajahnya yang terlihat baik, bisa jadi sebaliknya. Begitulah kisah dari salah satu remaja yang bernama Agatha, dia menyukai seorang pria di sekolah barunya yang membuatnya nekad untuk mengejarnya lebih d...
