"Sebentar lagi, sebentar lagi cewek ini akan menyusul Mannaf." kata Gilang seraya tertawa keras.
Sreet
"AGHATAA."
Semuanya meneriaki nama Aghata saat bunyi tusukan pisau terdengar.
Semuanya terkejut melihat kejadian tusuk menusuk tersebut. Mereka semua tidak menyangka melihat kejadian itu. Sebuah plot twist terjadi yang membuat semuanya melongo tidak percaya.
Bukannya Gilang yang membunuh Aghata, namun Aghata yang membunuh Gilang. Saat Gilang sedang sibuk tertawa, dia diam-diam mengeluarkan pisau yang tak kalah tajam dibalik celananya dan langsung mengarahkan pisaunya kearah perut Gilang. Sehingga membuat Gilang tercekat dan terkejut, pisau yang dipegang Gilang pun terjatuh. Dia melihat perutnya yang sudah mengeluarkan darah dan langsung memegang perutnya dan menarik pisau tersebut.
Gilang menatap terkejut kearah Aghata. Sedangkan Aghata tersenyum miring, "Udah gue bilang kan? Lo gak bakalan bisa bunuh gue! Karena gue gak bakalan mati sebelum lo mati!" ucapnya dengan tajam.
Gilang langsung terjatuh kebawah sambil memegang perutnya. Darah mulai keluar dari mulut Gilang. Aghata berjalan mendekati Gilang, dan langsung berjongkok didepannya.
"Bang Gilang, ah bukan, maksud gue Gilang. Sebelumnya gue mau minta maaf atas perlakuan kakak gue yang mungkin bikin lo sakit hati, dan maaf karena terpaksa harus membunuh lo!" ucap Aghata dengan wajah sedih.
"Gue tau cara gue salah, tapi gue gak terima dengan perlakuan lo yang seenaknya aja bunuh bang Mannaf! Lo tau kan bang Mannaf orang yang sangat penting buat gue, tapi lo malah bunuh dia!" lanjutnya mengeluarkan unek-uneknya.
Air mata jatuh membanjiri wajah Aghata, dia masih merasakan sakit saat mengingat kematian Mannaf. "Terimakasih bang, karena udah pertemukan gue dengan Rafka. Berkat lo, gue bisa merasakan sosok hangat seperti bang Mannaf dulu. Untung saja gue gak sampai bunuh Rafka. " lanjutnya tersenyum lebar.
Ditengah kesadarannya, Gilang terkekeh kecil. "Gue mati sendirian? Lo juga harus ikut mati, AGHATA!" ucapnya seraya mengarahkan pisau pada lengan Aghata. Aghata langsung mengeluh kesakitan sambil melihat lengannya yang sudah tertancap pisau.
"AGHATAA!"
Semuanya langsung menghampiri Aghata yang sedang mengeluh kesakitan. Rafka menarik Aghata menjauh dari Gilang. Lalu dia menatap khawatir pada Aghata. Air matanya jatuh tanpa sadar, dia pun langsung menarik pisau di lengan Aghata dengan hati-hati.
Sedangkan Thalia dan Nara yang berada disampingnya pun langsung menangis tersedu-sedu. Tubuh Aghata mulai melemas, dia tidak bisa berdiri tegak. Tubuhnya mulai jatuh, dengan sigap Rafka mendekap tubuh Aghata agar tidak terjatuh ke lantai.
Darah terus keluar dari lengan Aghata, wajahnya sudah mulai sedikit pucat karena kekurangan darah. Dia menatap sendu Rafka dan sahabat-sahabatnya.
"Rafka, maafin aku. Aku gak tau kalau sebenarnya bukan kamu yang bunuh bang Mannaf. Aku cinta sama kamu Raf, aku gak bohong." jujurnya seraya menatap tulus Rafka.
Air mata Rafka terjatuh, dia tidak bisa menahan tangisnya lagi. "Aku juga minta maaf, Ta. Karena aku belum dengerin penjelasan kamu. Aku mohon kamu bertahan ya! Jangan tinggalin aku, aku cinta kamu juga, Aghata." mohonnya dengan air mata yang terus jatuh.
"Ta, jangan tinggalin gue plis!" mohon Thalia sambil menangis kejer.
"Iya, Ta. Gue gak mau kehilangan lo!" sahut Nara dengan air mata yang juga sudah membasahi pipinya.
Aghata tersenyum, "Maafin gue udah bohongin kalian, dan buat lo, Thal. Tolong jagain mama sama papa ya." balasnya dengan tulus.
"Nggak, nggak, lo harus bertahan. Raf, ayo bawa Aghata ke rumah sakit. Darahnya semakin banyak ini yang keluar." ucap Thalia tidak santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Evil Beside Angel (END)
Teen FictionTidak semua orang sifatnya akan sesuai dengan wajahnya yang terlihat baik, bisa jadi sebaliknya. Begitulah kisah dari salah satu remaja yang bernama Agatha, dia menyukai seorang pria di sekolah barunya yang membuatnya nekad untuk mengejarnya lebih d...
