72

147 19 2
                                        

Hari demi hari telah berlalu, Aghata pun sudah kembali aktif beraktivitas seperti biasanya. Tiga hari yang lalu dia sudah dibolehkan pulang oleh dokter karena kondisinya yang semakin membaik. Thalia pun juga sudah pindah ke rumah Aghata, orang tua angkat Thalia akhirnya mengizinkan anak angkatnya kembali ke orang tuanya. Meskipun mereka masih belum bisa rela memberikan anak yang telah dia rawat dari kecil ke orang tua aslinya.

Kini Aghata sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Rafka pun sudah tiba didepan rumahnya. Meskipun mereka telah baikan, tapi hubungan diantara mereka masih berstatus putus.

"AGHATA! CEPETAN! COWOK LO NGOMEL TERUS NIH!"

Teriakan Thalia membuat Aghata kesal, masalahnya dia masih belum selesai siap-siap.

"IYA, BENTAR."

Dilain sisi, Rafka sedang mengobrol santai dengan Thalia. Thalia awalnya ingin berangkat, tapi sama Rafka gak dibolehin. Rafka suruh Thalia untuk menemaninya sampai Aghata selesai siap-siap. Dia merasa canggung jika sendirian di ruang tamu rumahnya Aghata.

"So, kapan lo deketin Radit?" tanya Rafka tiba-tiba, sehingga membuat Thalia melotot kaget.

"Kenapa tiba-tiba jadi Radit? Gue gak suka sama dia," jawab Thalia ragu.

Rafka memicingkan matanya, "Masa? Tapi setelah gue amati, lo suka deh sama Radit."

"Apaan sih lo, Raf. Gak jelas banget! Ngapain juga lo ngurusin asmara gue, urus aja noh asmara lo yang gak pasti. Udah putus tapi masih ngintilin adik gue terus." sindir Thalia membuat Rafka tertohok.

"Yee, malah ngalihin topik. Sejak kapan?"

Thalia menatap bingung, "Apanya?" tanyanya.

"Sejak kapan lo suka sama Radit?"

Thalia menelan ludahnya susah payah, "A-apasih, gue kan udah bilang. Gue gak suka sama Radit! Ngeyel banget sih lo." jawabnya sedikit ngegas.

"Sejak festival?"

"Damn! Kenapa tebakan dia benar?" batin Thalia terkejut.

Rafka tersenyum, "Kok kaget, bener ya tebakan gue?"

Thalia memejamkan matanya, "Raf, sekali lagi lo bahas Radit. Gue bakal tonjok lo!" ancamnya, namun ancamannya tidak membuat Rafka takut.

"Gue gak takut."

Lalu wajah Rafka berubah menjadi serius, dia memajukan badannya dengan kedua tangannya dia letakkan diatas pahanya. "Thal, kalau lo beneran suka sama Radit. Tolong, temani dia, bantu dia lupain Nara. Waktu itu Nara jujur kalau dia udah pacaran sama Karel. Gue kaget, karena gue tau Radit suka sama Nara." ucapnya dengan serius.

"Sekarang gue mohon sama lo temani dia, buat dia bahagia. Gue belum bisa temani dia, karena dia masih marah sama gue dan Karel." lanjutnya memohon pada Thalia.

"Dia sahabat gue Thal, gue mohon ya."

Hati Thalia tersentuh, lalu dia pun mengangguk mantap seraya berkata, "Lo tenang aja, Raf. Gue bakal temani dia dan bantu dia buat bisa bahagia lagi." katanya sambil tersenyum lebar.

"Kalian lagi ngobrolin apa?"

Kedatangan Aghata yang tiba-tiba membuat keduanya menghentikan percakapannya.

"Udah selesai?" tanya Rafka seraya berdiri dari duduknya.

"Udah."

"Nah, udah kan Raf. Aghata udah datang, jadi gue mau berangkat dulu," sahut Thalia.

"Iya, makasih ya Thal."

Sebelum pergi, Thalia membisikkan sesuatu pada Rafka, "Jangan bilang sama siapa-siapa terkait perasaan gue ke Radit," bisiknya.

Evil Beside Angel (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang