62

249 25 6
                                        

Gilang menatap padatnya kota Jakarta dai atas sambil menghisap rokoknya. Kini dia sedang berada di rooftop gedung kosong tempat dia biasanya menyendiri.

"Kalau nunggu Aghata buat bunuh Rafka kayaknya terlalu lama deh." monolognya seraya membuang puntung rokoknya yang sisa separuh jari kelingking itu ke sembarang arah.

"Apa langsung gue aja yang bunuh? Sama kayak waktu itu gue bunuh Mannaf." seulas senyuman jahat muncul di wajah tampannya.

Lalu dia merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya tersebut. Dia pun langsung menghubungi Bagas dan juga Damar.

"Halo, Gas. Nanti malam datang ke markas, ada yang ingin gue omongin." ucapnya dan langsung mematikan sambungannya sepihak. Lalu dia menekan nomor Damar dan langsung menghubunginya.

"Mar, nanti malam lo datang ke markas! Ada tugas buat lo." seperti yang dilakukan pada Bagas barusan, dia langsung mematikan sepihak sambungannya.

Gilang tersenyum miring, "Sebentar lagi ajal lo datang Rafka."

***

The Halcón berjalan dengan gagah dan cool kearah kantin. Semua murid terutama yang cewek langsung menatap kearah mereka. Pesona mereka emang tidak bisa ditolak apalagi Rafka.

Stevi yang melihat Rafka sedang duduk di pojok kanan kantin pun langsung menghampirinya. Dia langsung meninggalkan teman-temannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Hai, Rafkaaa."

Mendengar suara itu membuat telinga Rafka sakit. Dia sangat malas berhubungan dengan pemilik suara tersebut.

Tanpa mendapatkan izin dari Rafka, Stevi langsung duduk di pinggir Rafka yang sebelumnya ditempati oleh Adit. Dia menggeser secara paksa tubuh Adit, sehingga membuat sang empu emosi.

"Oh shit!" umpat Adit.

"Eh, janda pirang! Ngapain lo disini hah?" ucap Radit dengan ketus.

Stevi hanya membalasnya dengan lirikan tajam terhadap Radit. Lalu dia kembali fokus menatap Rafka dengan senyuman lebar.

"Raf, gue dengar-dengar lo udah putus ya sama si Aghata?" tanyanya dengan suara yang diimut-imutin.

Radit dan Adit yang mendengar cara bicaranya Stevi pun langsung menatap geli dan muak, sampai Radit mengeluarkan ekspresi seperti mau muntah.

"Huwekk, geli banget gue anjir!"

Rafka tak menjawab pertanyaan dari Stevi, dia lebih memilih memainkan handphonenya daripada meladeni Stevi. Sedangkan Stevi yang diabaikan oleh Rafka pun tak mau menyerah sampai Rafka mau ngomong dengannya.

"Ih, Rafkaaa jawab dongg!" rengeknya sambil memeluk manja lengan Rafka.

Sedangkan Rafka langsung menghempaskan tangan Stevi dari lengannya itu. "Jauh-jauh deh lo, bitch!"

"Pftt, mampus lo!" kata Radit puas.

Stevi memasang wajah cemberut karena kesal oleh perkataan Rafka barusan ditambah oleh Radit yang mengejeknya.

"Diem lo, jelek!" ucap Stevi pada Radit.

"Yeu, lo kali yang jelek."

Rafka yang udah gak betah untuk berlama-lama di tempat itu pun hendak pergi. Namun, niatnya langsung dia urungkan kala melihat Aghata, Thalia dan Nara memasuki kantin. Lalu di belakangnya terdapat Laskar yang terlihat sedang berusaha mendekati Aghata.

Tanpa sadar kedua tangannya ia kepalkan dengan sangat kuat, ekspresinya berubah tajam dengan kedua alisnya yang sedikit menyatu. Hal tersebut membuat Rafka kesal, dia tidak suka saat melihat Aghata di dekati oleh cowok lain terutama Laskar.

Evil Beside Angel (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang