51

296 35 2
                                        

"Rafka, aku gak ada apa-apa sama Laskar! Kita tadi cuman ngobrol sebentar," jelas Aghata supaya Rafka tidak salah paham.

Setelah kepergian Laskar tadi, Rafka dan Aghata masih berdiri ditaman sekolah. Aghata pun berusaha menjelaskan kejadian tadi agar Rafka tidak salah paham.

"Tentang?" suara berat dan dingin Rafka membuat bulu kuduk Aghata merinding. Dia tidak pernah begini sebelumnya, bahkan sebelum pacaran Rafka sering ngomong berat dan dingin padanya. Namun, vibesnya sangat berbeda dengan sekarang.

"Tentang.." belum selesai menjawab, Rafka sudah memotong pembicaraan Aghata.

"Pasti tentang perasaan dia kan?" tebak Rafka yang sangat tepat sasaran.

Aghata menatapnya kaget. "Kok kamu tau?" tanyanya dengan suara terbata-bata.

Rafka tersenyum miring seraya membuang muka. "Kamu lupa kalau aku udah tau Laskar itu suka sama kamu? Bahkan sebelum kita jadian."

Aghata mengangguk kecil. "Iya, tau."

Rafka membalikkan tubuhnya menghadap Aghata, dia mengambil kedua tangan Aghata dengan lembut lalu menatap dalam mata sang pacar.

"Ta, aku gak suka kalau kamu dekat-dekat sama cowok yang aku tau cowok itu suka sama kamu. Aku takut dia ngambil kamu dari aku." Rafka berkata dengan suara pelan, tapi ada ketegasan di dalamnya. Matanya menatap lurus, seolah ingin memastikan bahwa Aghata benar-benar mendengarkan. Tangannya meremas tangan Aghata, menahan perasaan yang berkecamuk di dadanya.

Sedangkan Aghata merasakan perasaan aneh yang membuatnya merasa bersalah. "Kenapa? Kenapa gue jadi ngerasa bersalah begini?" batinnya bertanya-tanya.

"Apakah kamu tau? Kalau sebenarnya aku itu.." Rafka menghentikan sejenak ucapannya sampai membuat Aghata mengerutkan keningnya penasaran.

"Cemburu."

Kata itu keluar begitu saja dari bibir Rafka, dan Aghata merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Jantungnya berdebar, ada rasa puas yang sulit dijelaskan. Seharusnya ini bagian dari rencananya, membuat Rafka merasakan apa yang pantas ia terima. Tapi kenapa di balik kepuasan itu, ada sesak yang mengendap di dadanya? Apakah dia benar-benar menginginkan ini? Atau hatinya mulai berkhianat tanpa ia sadari? Hal itupun membuat Aghata merasa ragu untuk meneruskan balas dendamnya pada Rafka.

***

Setelah penampilan Afgan selesai, semua penonton diberikan kesempatan untuk istirahat sebelum memasuki acara terakhir yaitu berdansa dengan pasangannya. Nara yang merasakan happy selama penampilan Afgan pun sampai tidak sadar kalau kedua sahabatnya menghilang, hanya tinggal dirinya sendiri bersama Radit. Dia pun celingak-celinguk mencari keberadaan Thalia dan Aghata sampai membuat Radit merasa heran.

"Lo nyari apaan sih?" tanya Radit dengan keningnya yang menyatu.

"Ish! Aghata sama Thalia gak ada! Lo tau gak mereka pergi kemana? Bisa-bisanya gue ditinggal sendirian." omel Nara dengan ekspresi kesal.

Radit pun juga baru menyadari kalau kedua sahabatnya juga ikut menghilang. "Lah, iya ya. Rafka sama Karel juga gak ada, mereka kemana?"

"Ya mana gue tau, daritadi aja gue sibuk menikmati penampilan my boyfriend Afgan." kata Nara seraya menghayal wajah tampan Afgan tadi.

Sedangkan Radit yang melihat kehaluan Nara sudah kumat pun merasa muak. "Halu terus!" sindirnya sampai membuat ekspresi Nara berubah datar.

"Bodo amat!" Nara berjalan pergi meninggalkan Radit.

"Woy! Kok gue ditinggal sih." teriak Radit kala melihat Nara pergi begitu saja. Lalu dia pun mengikuti Nara yang sudah berjalan menjauh.

Evil Beside Angel (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang