66

207 26 7
                                        

Mendengar pengakuan Gilang, Aghata tidak habis pikir dengan pikiran Gilang. Hanya karena seorang cewek, dia rela membunuh sahabatnya sendiri. Matanya sudah mulai berkaca-kaca, dia kehilangan kata-kata karena terlalu shock dan sakit.

"Bang, seriously?" suara Aghata bergetar, air matanya pun sudah menetes. "Hanya karena cewek Lo rela bunuh sahabat lo sendiri?" lanjutnya tidak percaya.

Bagas yang melihat kondisi Aghata pun ikut merasa sedih. Karena dia tau rasanya ditinggalkan orang yang kita sayang. Dia pun teringat dengan kisah percintaannya dahulu, Rania yang merupakan sepupunya itu sudah membuat dirinya jatuh hati terhadapnya. Namun, dia hanya bisa menyimpan perasaannya tersebut, karena dia tau kalau Rania tidak mencintainya. Dia hanya menganggapnya sebagai sepupu. Terlepas dari itu, dia tidak bisa menghapus perasannya dan dia juga tidak bisa memaksa Rania untuk mencintainya balik. Hingga saat kematian Rania yang tidak wajar, Bagas marah dan tidak terima. Orang yang dia cintai harus meninggalkannya untuk selamanya.

Karena itu Bagas lebih memilih sakit melihat orang yang dia cintai dengan orang lain dibandingkan sakit ditinggalkan orang yang dia cintai untuk selamanya.

"Lo jahat bang! Itu sahabat lo sendiri! Kenapa lo tega ngelakuin hal itu ke dia?" air mata terus turun dari mata cantik Aghata. Dia menatap kecewa pada Gilang.

"Gue emang jahat, Ta. Lo tau? Orang jahat muncul dari orang baik yang tersakiti," balas Gilang tajam. "Lo tau gak gimana sakitnya gue pas tau kalau Mannaf khianatin gue? Lo mikir gak, hah! Sakit, Ta. Sakit." lanjutnya dengan wajah sedih.

"Tapi gak harus membunuh bang!"

"Kalau gue gak bunuh, gue bakalan terus merasa sakit saat lihat wajahnya Ta."

Aghata menggelengkan kepalanya tak percaya, lalu dia mengusap wajahnya secara kasar. "Lo salah bang, cara lo itu salah!" ucapnya seraya menunjuk Gilang dengan jari telunjuknya.

Gilang berjalan maju mendekati Aghata, "Dimana letak salahnya hah?" tanyanya dengan wajah serius seraya menatap tajam Aghata. "Apa bedanya sama lo kalau cara balas dendam gue salah?" lanjutnya membuat Aghata tersindir.

Aghata terdiam, dia tidak bisa menyangkal perkataannya Gilang. Niatnya sejak awal sudah salah, seharusnya dia gak usah pake cara balas dendam. Namun, semuanya udah terlanjur. Niat balas dendam malah berubah jadi cinta.

"Bang Gilang benar, apa bedanya sama gue. Gue juga awalnya ingin balas dendam ke Rafka karena udah mengira dia pembunuh bang Mannaf. Namun, ternyata itu semua salah! Dia ternyata korban dari perbuatan bang Gilang," batinnya merasa bersalah.

"Maafin aku Rafka, maafin aku yang udah hancurin kepercayaan kamu, maafin aku karena udah jatuh cinta sama kamu." lanjutnya dengan perasaan sedih, tanpa terasa air matanya jatuh kembali.

"Gak bisa jawab kan?" ucap Gilang tersenyum puas.

Aghata pun tersadar dan langsung mengusap air matanya. "Tapi gue gak sampai membunuh kayak lo!" balasnya tajam.

"Asal lo tau bang, sejak awal yang suka duluan sama kak Syila itu bang Mannaf. Tapi karena lo jujur lebih awal ke bang Mannaf, dia rela kuburin perasaannya demi sahabatnya, lo bang!" jelas Aghata tanpa henti.

Terlihat wajah shock di muka Gilang. "Apakah benar yang dibilang sama Aghata?" batinnya bertanya-tanya.

Namun, dengan cepat Gilang menyangkalnya. "Gak usah ngarang cerita! Lo gak tau hidup kita dulu."

Aghata tertawa remeh, "Gue tau, karena faktanya emang begitu. Cuman lo nya aja yang asal menyimpulkan." balasnya dengan yakin.

"Kalau emang begitu, terus kenapa Mannaf langsung nembak Syila setelah gue ditolak, bangsat!" emosi Gilang sudah membludak. Perasaannya campur aduk antara dendam dan rasa bersalah.

Evil Beside Angel (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang