Semua anggota The Dangers telah pergi ke markas The Halcón. Sekarang tinggal Aghata, Bagas, dan Gilang di ruangan tersebut. Hawa dalam ruangan tersebut terlihat mencekam. Aghata yang menatap Glang dengan wajah sinis, Bagas yang menatap Gilang dengan datar, sedangkan orang yang ditatap mereka hanya duduk santai dipinggir meja sambil menatap pistol ditangan kanannya tidak luput senyuman miring terlihat di wajahnya tersebut.
"Sebenarnya apa rencana lo? Kenapa harus lo yang bunuh Rafka?" tanya Bagas membuka percakapan.
Aghata melirik Bagas yang terlihat kesal pada Gilang. Lalu dia beralih menatap Gilang yang sedang berjalan mendekati Bagas dengan pistol yang sudah dia masukkan kedalam saku.
"Gue udah kasih lo kesempatan untuk bunuh Rafka, tapi apa? Gak berhasil!" kata Gilang menatap tajam pada Bagas.
Bagas membalas tatapan Gilang tak kalah tajam, "Bukan gak berhasil, tapi lo yang selalu nuntut gue cepat-cepat bunuh si Rafka! Lo yang gak sabaran!"
Brakk
"Bukan gue yang gak sabaran, tapi lo yang gak becus! Lo yang gak becus ngelakuin tugas lo." Gilang tampak marah, matanya mulai menajam.
Aura dalam ruangan tersebut pun semakin tegang. Aghata yang melihatnya pun juga sudah mulai geram.
Bagas terkekeh kecil, lalu dia mendorong kuat tubuh Gilang sampai membuatnya oleng ke belakang. "Gue gak becus? Lo gak salah? Jelas-jelas lo yang selama ini pengen menang sendiri. Lo yang seenaknya nyuruh-nyuruh gue sama Aghata buat bunuh Rafka!"
"Dan gue baru sadar, kalau selama ini lo manfaatin gue sama Aghata buat umpan agar lo bisa dengan mudah untuk bunuh Rafka, ya kan?" lanjutnya seraya menatap tajam pada Gilang, aura marahnya sangat terlihat di wajah Bagas. Dia sangat murka dengan Gilang karena sudah memanfaatkannya.
Gilang tersenyum miring, lalu dia menegakkan badannya dengan tegap seraya menyilangkan tangannya didepan dada. "Iya, emang itu tujuan gue! Sayangnya, selama ini lo sama Aghata gak becus jadi budak gue." ucapnya dengan santai seraya menatap remeh pada Bagas dan Aghata.
Aghata mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, amarahnya sudah berada di puncak. Karena dikendalikan oleh amarah, tanpa pikir panjang Aghata langsung memukul kuat pelipis Gilang sampai membuatnya jatuh kebawah.
"BANGSAT LO GILANG!"
BUGH
Satu goresan terlihat di wajah Gilang, dia memegang pelipisnya yang baru saja di tonjok oleh Aghata. Tangan satunya terkepal, dia tidak terima dirinya dipukul begitu saja oleh Aghata. Sebelum dia berdiri, Aghata sudah menarik jaket kulit warna hitamnya dengan kuat. Sehingga membuat Gilang terpaksa untuk berdiri.
"Jadi, selama ini lo manfaatin gue buat bunuh Rafka? IYA? Dan yang Karel bilang itu benar? Kalau pelaku sebenarnya yang udah bunuh bang Mannaf itu LO? IYA?" marah Aghata seraya menatap tajam orang didepannya itu.
"JAWAB GUE BANGSAT!"
BUGH
"Gue bodoh banget ya, padahal selama ini lo udah gue anggap abang gue sendiri. Kenapa lo bisa setega ini hah? Kenapa juga lo bisa bunuh bang Mannaf?" suara Aghata sedikit bergetar, karena air matanya jatuh begitu saja.
"Dasar iblis!"
BUGH
Gilang jatuh lagi kebawah, karena telah mendapatkan tiga kali pukulan kuat dari Aghata. Sampai membuat wajahnya memar. Dengan sisa tenaganya, dia berdiri dengan santai sambil tersenyum miring. Lalu dia membenarkan jaketnya yang berantakan. Setelah itu dia maju kedepan, kearah Aghata yang sedang menatapnya tajam.
Bagas yang berada disamping Aghata hanya bisa memantau pergerakan Gilang. Dia mendekatkan dirinya kearah Aghata untuk melindunginya.
"Iya, emang gue yang udah bunuh abang lo. Dan gue juga yang udah fitnah Rafka kalau dia pembunuhnya. Lo mau tau alasannya?" ucap Gilang sambil tersenyum miring.
KAMU SEDANG MEMBACA
Evil Beside Angel (END)
Fiksi RemajaTidak semua orang sifatnya akan sesuai dengan wajahnya yang terlihat baik, bisa jadi sebaliknya. Begitulah kisah dari salah satu remaja yang bernama Agatha, dia menyukai seorang pria di sekolah barunya yang membuatnya nekad untuk mengejarnya lebih d...
